Sekolah di Malaysia Kembali Tutup Lima Hari Akibat Asap Karhutla Kalimantan

ANTARA FOTO/Auliya Rahman/kye
Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026). Pemerintah Kota Palangka Raya memperpanjang status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 9 November 2026 untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran, menyusul tingginya kejadian karhutla yang berdasarkan data BPBD Palangka Raya mencapai 909 kejadian dengan total luas lahan terbakar 1.448,90 hektare sejak 1 Juni hingga 17 Oktober 2026.
Editor: Yuliawati
19/10/2026, 15.09 WIB

Pemerintah Negara Bagian Johor, Malaysia, kembali memperpanjang penutupan seluruh sekolah dan institusi pendidikan selama lima hari terhitung mulai Senin (19/10). Keputusan ini diambil akibat kabut asap (karhutla) di Indonesia yang membuat kualitas udara masih berada pada tingkat mengkhawatirkan.

Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Negeri Johor, Muhammad Naqib Md Ghazali, menyatakan bahwa kebijakan tersebut diputuskan setelah Komite Koordinasi Manajemen Kabut Asap Johor menggelar rapat koordinasi.

"Laporan pemantauan menunjukkan bahwa pembacaan Indeks Pencemaran Udara (API) masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan, tanpa perbaikan yang signifikan," ujar Naqib, dikutip dari Channel News Asia (CNA), Minggu (18/10)

Perpanjangan masa penutupan sekolah ini akan terus dievaluasi dengan memerhatikan perkembangan kualitas udara, prakiraan cuaca, serta asesmen kesehatan berkala. Langkah ini juga sejalan dengan titah Pemangku Sultan Johor, Tunku Mahkota Ismail, yang menegaskan komitmen pemerintah negeri untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan publik.

Selama masa penutupan berlangsung, kegiatan belajar-mengajar dialihkan menggunakan metode Belajar dan Mengajar di Rumah (PdPR) berdasarkan Panduan PdPR Versi 2.0 Kementerian Pendidikan Malaysia (MOE). Kendati demikian, pengecualian terbatas diberikan bagi para siswa yang harus mengikuti ujian atau asesmen dengan koordinasi Dinas Pendidikan Johor (JPNJ) serta kepatuhan ketat terhadap prosedur standar operasional (SOP) kesehatan.

Pemerintah Johor mencatat kekhawatiran serius dari otoritas kesehatan terhadap dampak paparan polusi udara jangka panjang, khususnya bagi anak-anak dan kelompok rentan. Sepanjang Oktober ini, tercatat ada 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di Johor, atau mengalami lonjakan mingguan hingga 20,7%.

Berdasarkan data Departemen Lingkungan Hidup Malaysia per Minggu pukul 08.00 pagi, Pasir Gudang menjadi wilayah dengan pembacaan API tertinggi di negara tersebut, yakni mencapai 190 atau masuk dalam kategori "sangat tidak sehat". Johor tercatat sebagai wilayah paling terdampak parah, dengan delapan stasiun pemantau mencatatkan status udara tidak sehat, termasuk di Larkin (181), Kota Tinggi (181), dan Pengerang (178).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Sukriwan Ramadhan