Bulan Oktober secara historis menjadi momentum penguatan Bitcoin. Namun, tahun ini sejumlah indikator menunjukkan volatilitas masih membayangi asep kripto tersebut. 

CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis menilai Oktober berpotensi menjadi fase penting bagi Bitcoin. Pasar akan menguji apakah momentum kenaikan pada September dapat berlanjut atau justru beralih ke fase konsolidasi.

“Memasuki Oktober, Bitcoin berada di fase yang cukup krusial. Secara historis, Oktober memang sering menjadi periode positif bagi Bitcoin, tetapi kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor perlu melihat konfirmasi dari sisi arus dana ETF, likuiditas, dan respons harga terhadap level resistance utama,” ungkap Yudho dalam pernyataan resmi, Selasa (29/9).

Yudho menjelaskan data historis menunjukkan Bitcoin menguat dalam 10 dari 15 periode Oktober terakhir, dengan median imbal hasil atau return sekitar 11,2%. Setelah September ditutup positif, Bitcoin juga tercatat menguat pada empat dari enam periode Oktober berikutnya.

Namun, pola historis tersebut belum menjamin Bitcoin akan kembali mencatatkan reli pada Oktober tahun ini. Pergerakan harga masih akan dipengaruhi arus dana investor, kondisi makroekonomi Amerika Serikat (AS), serta posisi leverage di pasar.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah melambatnya arus dana masuk atau inflow ke produk spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF).

Data internal FLOQ mencatat ETF Bitcoin spot membukukan inflow selama tujuh sesi perdagangan berturut-turut sejak 17 September 2026, dengan total sekitar US$2,98 miliar.

Meski demikian, dana masuk pada 25 September tercatat hanya US$134,47 juta. Angka tersebut jauh di bawah rekor inflow harian sebesar US$998,95 juta yang tercatat pada 21 September.

Dari sisi teknikal, area US$84.433 menjadi level yang perlu direbut kembali Bitcoin sebelum menguji resistance yang lebih tinggi. Sementara, level US$87.360 menjadi resisten penting setelah BTC gagal mempertahankan momentum kenaikan di area tersebut.

Sebaliknya, penurunan di bawah US$80.811 dapat membuka ruang koreksi menuju sekitar US$74.957. Penempatan area US$82.900-US$83.000 sebagai support penting untuk menjaga tren jangka pendek Bitcoin.

“Selama area tersebut bertahan, BTC masih memiliki ruang untuk bergerak menuju US$88.600-US$92.200. Namun, penurunan berkelanjutan di bawah zona tersebut dapat meningkatkan risiko koreksi lebih dalam,” kata Yudho.

Cermati Rilis Data Ekonomi AS

Selain arus ETF dan faktor teknikal, pergerakan Bitcoin pada awal Oktober juga berpotensi dipengaruhi oleh sejumlah rilis data ekonomi AS.

Data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan pada 30 September. Selanjutnya, data klaim awal pengangguran atau initial jobless claimsakan dirilis pada 1 Oktober, disusul laporan ketenagakerjaan AS untuk September pada 2 Oktober.

Data-data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, misalnya, dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi aset berisiko seperti Bitcoin.

Sebaliknya, data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dapat mempertahankan tekanan dari imbal hasil atau yieldobligasi dan dolar AS.

Yudho juga menyoroti imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun yang berada di sekitar 5,15% pada saat Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$83.000. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap aset berisiko masih perlu diperhatikan.

“Laporan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, misalnya, dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan berpotensi memberikan ruang bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Sebaliknya, data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dapat mempertahankan tekanan dari yield obligasi dan dolar AS,” jelas Yudho.

Faktor lain yang membayangi pergerakan Bitcoin pada Oktober adalah besarnya posisi leverage di pasar. Peta likuidasi 30 hari menunjukkan posisi long Bitcoin mencapai sekitar US$4,35 miliar hingga area harga US$74.179. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan posisi short yang sekitar US$1,65 miliar.

Ketimpangan posisi tersebut membuat Bitcoin rentan terhadap aksi likuidasi apabila terjadi koreksi harga yang tajam. Likuidasi posisi long secara beruntun berpotensi menambah tekanan jual dan mempercepat penurunan harga.

Risiko ini menjadi perhatian setelah Bitcoin mengalami pergerakan tajam pada Oktober 2025. Saat itu, lebih dari US$19 miliar posisi leverage dilaporkan terlikuidasi dalam satu hari, yakni pada 10 Oktober.

Meski demikian, tekanan jual dari pemegang Bitcoin jangka panjang atau long-term holder belum sepenuhnya dominan. Data FLOQ menunjukkan indikator Hodler Net Position Change kembali berada di zona positif sejak 31 Agustus. Posisi indikator tersebut meningkat dari 16.415 BTC pada 25 September menjadi 23.172 BTC pada 27 September.

Yudho menilai kombinasi permintaan institusional, kondisi makroekonomi, dan struktur leverage akan menentukan arah pergerakan Bitcoin pada Oktober.

“Oktober kemungkinan bukan hanya soal apakah Bitcoin naik atau turun, tetapi seberapa kuat demand yang menopang pergerakan tersebut. Jika arus ETF kembali menguat dan Bitcoin mampu melewati resistance utama dengan volume yang sehat, pasar bisa mendapatkan konfirmasi bahwa momentum masih berlanjut. Sebaliknya, jika inflow melemah sementara tekanan dari yield dan posisi leverage meningkat, risiko koreksi perlu diperhitungkan,” kata Yudho.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah