Rupiah Anjlok, Laptop Jadi Produk Elektronik yang Paling Rentan Naik Harga
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi akan berdampak langsung terhadap kenaikan harga gadget di Indonesia. Produk elektronik seperti laptop dinilai paling rentan terkena tekanan biaya impor.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (20/5), rupiah sempat dibuka melamah 33 poin di levelRp 17.739 per dolar AS. Lalu rupiah kian melemah ke Rp 17.742 per dolar AS hingga pukul 09.15 WIB.
Padahal, menurut pengamat dan analis pasar smartphone Aryo Meidianto Aji, hampir seluruh komponen utama perangkat elektronik masih bergantung pada impor dengan transaksi dolar AS. Kondisi tersebut membuat biaya produksi maupun harga barang jadi ikut terdongkrak ketika rupiah melemah.
“Jujur saja, pelemahan rupiah itu pasti berdampak. Karena sebagian besar komponen kunci seperti chipset, layar, memori, bahkan sensor kamera semuanya masih diimpor dalam mata uang dolar AS,” kata Aryo kepada Katadata.co.id, Rabu (20/5).
Menurut dia, industri gadget pada akhirnya akan melakukan penyesuaian harga secara bertahap. Kenaikan bisa terjadi melalui harga jual yang lebih mahal maupun strategi menghadirkan varian dengan spesifikasi lebih rendah agar tetap terjangkau konsumen.
“Bisa dalam bentuk harga jual yang sedikit naik pada model-model tertentu, atau peluncuran perangkat dengan varian RAM dan ROM lebih rendah di harga yang tetap terjangkau,” ujarnya.
Aryo menilai laptop menjadi kategori yang paling sensitif terhadap fluktuasi kurs dibandingkan smartphone. Pasalnya, laptop memiliki komponen yang lebih kompleks dan nilai impor yang jauh lebih besar.
“Laptop juga lebih sensitif karena komponennya lebih kompleks dan nilai impornya lebih besar,” kata Aryo.
Ia menambahkan, tekanan terhadap industri gadget saat ini tidak hanya berasal dari kenaikan biaya impor, tetapi juga dari margin keuntungan yang semakin tergerus. Produsen dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga dengan risiko penjualan turun atau mempertahankan harga namun mengorbankan keuntungan.
“Produsen harus memilih antara menaikkan harga dengan risiko turunnya permintaan atau menahan harga dengan margin yang hampir habis. Ini sesungguhnya tidak sehat untuk jangka panjang,” katanya.
Selain itu, fluktuasi kurs juga membuat perencanaan stok menjadi semakin rumit. Hal ini karena biaya logistik dan impor berubah-ubah dalam waktu cepat.
Efek Inflasi karena Barang Impor
Senada dengan Aryo, Direktur Ekonomi Digital Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memperkirakan imported inflation atau inflasi yang disebabkan oleh barang impor akan mulai terasa dalam beberapa bulan ke depan. Ini termasuk pada produk elektronik seperti gadget.
“Harga barang elektronik seperti gadget pun akan mengalami kenaikan. Mulai dari handphone, laptop, pasti mengalami kenaikan. Apalagi yang memang diimpor secara utuh,” kata Huda.
Menurutnya, kenaikan harga sulit dihindari karena industri elektronik masih sangat bergantung pada bahan baku dan komponen impor. Ini termasuk cip dan semikonduktor yang belum bisa dipenuhi dari dalam negeri.
Di sisi lain, Huda menilai produsen juga menghadapi tantangan berat karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kondisi itu membuat perusahaan berpikir berkali-kali sebelum menaikkan harga jual.
“Produsen khawatir kenaikan harga di konsumen akan menyebabkan penjualan semakin menyusut. Yang ada untuk saat ini margin dipertipis,” kata Huda.
Huda mengingatkan tekanan tersebut berpotensi memicu efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja alias PHK. Hal ini bisa terjadi apabila kondisi ekonomi tidak segera membaik.
“Saya khawatir PHK ini akan memburuk dua-tiga bulan ke depan. Ekonomi kita akan semakin melambat,” ujar Huda.
Huda menilai saat ini strategi substitusi impor tidak akan efektif dalam jangka pendek. Dari dampak tersebut, ujungnya adalah perusahaan tidak bisa ekspansi, tidak ada penyerapan tenaga kerja, utilitas produksi rendah.
“Ekonomi akan berjalan lambat, daya beli terpukul, konsumsi rumah tangga akan stagnan. Dengan begitu, seharusnya ini jadi alarm bagi pemerintah,” katanya.