Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah ini kemungkinan besar diakibatkan oleh kondisi geopolitik yang masih menunjukkan ketidakpastian.
Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil atau yeild surat utang, dan pelebaran defisit fiskal menjadi tiga risiko besar yang kini membayangi ekonomi Indonesia.
Kurs rupiah mencapai level terlemahnya sepanjang masa di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah. Nilai tukarnya tembus Rp17.300 per dolar AS pagi ini, Kamis, 30 April, terendah sejak krisis 1998.
Analis Doo Financial, Lukman Leong menyatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh ketidakpastian proses perdamaian di kawasan Timur Tengah yang kembali memunculkan kekhawatiran investor global.
Nilai tukar rupiah menguat 0,04% ke level 17.222 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, tetapi berpotensi melemah seiring memanasnya tensi geopolitik.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh persepsi pasar terhadap disiplin fiskal, isu MSCI, hingga outlook negatif di sektor perbankan.
Nilai Tukar Rupiah diprediksi kembali melemah akibat sentimen kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS yang dipicu ketegangan geopolitik Timur Tengah, sehingga menguatkan Dolar AS.