Riset: Banyak Startup Unicorn ‘Kelebihan Modal’ dan Tidak Efisien
Riset CB Insights menunjukkan, banyak unicorn mengumpulkan dana besar dalam waktu singkat. Namun mereka kelebihan modal dan tak efektif dalam menggunakannya, sehingga sulit menggenjot valuasi.
Unicorn merupakan sebutan bagi startup dengan valuasi di atas US$ 1 miliar. Sedangkan decacorn lebih dari US$ 10 miliar.
CB Insights mengkaji pendanaan unicorn, valuasi, dan metrik efisiensi modal. Perusahaan mencatat, jumlah startup unicorn di dunia lebih dari 1.200.
“Mencapai valuasi 10 digit (unicorn) adalah simbol status startup. Lebih dari 20% unicorn memiliki valuasi persis US$ 1 miliar,” demikian dikutip dari laporan CB Insights, Selasa (2/5).
Dalam mengejar status unicorn, banyak startup mencari cara untuk menggalang dana menuju pertumbuhan. Dari 263 unicorn dengan valuasi pas-pasan US$ 1 miliar, hanya satu dari 10 yang mengumpulkan kurang dari US$ 100 juta.
Itu artinya, investor jor-joran memberikan modal besar kepada startup jumbo. Kondisi ini dikenal sebagai ‘foie gras phenomenon’. “Tujuannya meningkatkan jangkauan dan valuasi pasar,” demikian dikutip.
“Menariknya, data menunjukkan startup yang mengumpulkan modal relatif lebih rendah secara historis mengungguli unicorn atau yang memiliki modal tinggi,” demikian isi laporan.
CB Insights mencatat, unicorn mengumpulkan rata-rata median US$ 343 juta dari pendanaan ekuitas. Namun valuasi rata-rata mediannya US$ 1,6 miliar.
Itu artinya, rasio valuasi berbanding pendanaan 4,67 kali. Angkanya turun dibandingkan lima tahun lalu yakni 6,9 kali.
“Jika rasio valuasi berbanding pendanaan hasilnya tinggi, berarti perusahaan mampu menghasilkan valuasi yang tinggi dari investasi yang dihimpun dan seringkali dianggap lebih efisien,” demikian dikutip.