Turun Tangan Kasus eFishery, PM Malaysia Minta KWAP Buka Seluruh Data Investasi
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim turun tangan mengawal penanganan kasus investasi dana pensiun negara Malaysia di startup asal Indonesia, eFishery. Anwar mengaku telah bertemu dengan manajemen dana pensiun pegawai negeri Malaysia alias Retirement Fund Inc (KWAP).
“Saya telah bertemu dengan manajemen KWAP untuk menyampaikan bahwa mereka harus bekerja sama sepenuhnya," kata Anwar saat menjawab pertanyaan anggota Dewan Negara, dikutip dari Kantor Berita Bernama, Senin (21/7).
Anwar mengatakan pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap dugaan penipuan maupun korupsi dalam investasi KWAP di eFishery. Karena itu, Komisi Anti Korupsi Malaysia atau MACC diminta mengusut seluruh tahapan investasi KWAP di eFishery, mulai dari proses penilaian hingga persetujuan oleh dewan direksi.
Anwar yang juga menjabat Menteri Keuangan Malaysia, mengatakan laporan awal yang diterimanya belum menemukan indikasi korupsi. Namun, hal itu tidak menjadi alasan untuk menghentikan penyelidikan.
Menurutnya, MACC perlu memeriksa seluruh proses investasi. Hal ini termasuk keputusan yang diambil panel investasi dan persetujuan akhir oleh dewan direksi KWAP.
"Kita tidak bisa berkompromi terhadap penipuan atau korupsi dalam bentuk apa pun. Karena itu, seluruh proses investasi harus diperiksa," ujarnya.
Pernyataan tersebut menandai meningkatnya perhatian pemerintah Malaysia terhadap kasus eFishery. Jika sebelumnya penyelidikan berfokus pada dugaan manipulasi laporan keuangan perusahaan, kini pemerintah juga membuka ruang evaluasi terhadap tata kelola investasi di KWAP sebagai investor.
Anwar menambahkan kasus ini menjadi pengingat bahwa lembaga investasi besar pun tidak kebal terhadap kesalahan. Ia mencontohkan skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang turut menyeret Goldman Sachs sebagai pelajaran penting bagi pengelola dana publik.
"Ini adalah pelajaran dan peringatan bagi kita," katanya.
Kasus ini mencuat setelah Kementerian Keuangan Malaysia pekan lalu menyebut investasi KWAP di eFishery merupakan bagian dari dugaan penipuan yang dirancang secara sistematis. Pemerintah Malaysia menilai manajemen eFishery memanipulasi laporan keuangan sehingga menampilkan kondisi perusahaan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
KWAP sebelumnya juga menyatakan akan menempuh seluruh jalur hukum dan upaya komersial yang tersedia untuk memaksimalkan pemulihan dana investasi yang telah ditanamkan di eFishery.
Dana Pensiun Negara Rugi
Anwar sebelumnya menyebut kasus yang menjerat startup eFishery, merupakan penipuan yang telah direncanakan atau premeditated fraud. Dugaan manipulasi laporan keuangan perusahaan strarup agritech Indonesia itu membuat dana pensiun pegawai negeri Malaysia alias Retirement Fund Inc (KWAP) kehilangan investasi senilai hampir RM 200 juta.
Pada 2023, eFishery memperoleh pendanaan Seri D senilai US$ 200 juta atau Rp 3,05 triliun (kurs rata-rata 2023 Rp 15.242 per dolar AS). Dari jumlah tersebut, sebanyak sekitar RM 194,35 juta atau Rp 853,90 miliar (kurs Rp 4.394 per Ringgit Malaysia) berasal dari investasi KWAP.
Pernyataan tersebut disampaikan Anwar dalam jawaban tertulis kepada parlemen Malaysia pada Rabu (16/7). Ia menjelaskan bahwa penipuan dilakukan melalui manipulasi laporan keuangan oleh manajemen eFishery, sehingga tidak hanya menyesatkan KWAP, tetapi juga sejumlah investor institusional global.
"Namun demikian, investasi di eFishery merupakan penipuan yang telah direncanakan, dan telah terjadi manipulasi laporan keuangan oleh manajemen eFishery," kata Anwar, dikutip dari The Edge Malaysia, Kamis (16/7).
Anwar menjelaskan, keputusan investasi KWAP sebelumnya telah melalui proses evaluasi dan tata kelola sesuai prosedur. Dana pensiun tersebut juga mengandalkan laporan keuangan yang telah diverifikasi oleh auditor bersertifikat internasional.
Selain itu, konsorsium investor yang melibatkan KWAP juga melakukan uji tuntas atau due diligence secara independent. Hal ini dilakukan untuk memastikan seluruh informasi yang tersedia lengkap dan layak dijadikan dasar investasi.
Meski demikian, proses tersebut gagal mendeteksi dugaan manipulasi yang dilakukan oleh manajemen eFishery.