Grab Indonesia melalui Grab Ventures Velocity (GVV) resmi memulai Batch 9 dengan memilih lima startup tahap post-seed. Kelima startup ini mengembangkan solusi berbasis akal imitasu (AI) untuk menjawab berbagai kebutuhan bisnis, mulai dari rekrutmen, operasional tenaga kerja, penilaian risiko kredit, perdagangan, hingga rantai pasok.
Memasuki tahun kesembilan, GVV mengusung tema “Grab For Indonesia: Building an AI-Powered Resilient Ecosystem”. Program ini diarahkan untuk mendorong startup Indonesia mengembangkan solusi AI yang dapat diterapkan untuk kebutuhan bisnis, mitra Grab, pengguna hingga masyarakat.
CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, GVV Batch 9 membawa pengalaman Grab dalam mengembangkan dan menerapkan AI lebih dekat kepada para pendiri startup di Indonesia.
Menurut dia, Grab mengembangkan inovasi berbasis AI untuk mendukung produktivitas, membantu mitra meningkatkan penghasilan, serta memberikan pengalaman yang lebih terintegrasi bagi pengguna.
“Melalui kolaborasi dengan para peserta GVV, solusi yang mereka kembangkan dapat terus diuji dan disempurnakan agar relevan dengan kebutuhan pasar, masyarakat, serta ekosistem digital di Indonesia,” kata Neneng dalam keterangan pers, Selasa malam (1/9).
5 Startup AI Pilihan Grab
GVV memilih lima startup melalui proses seleksi dari ratusan pendaftar. Kelimanya membawa solusi AI untuk sektor yang berbeda.
1. Algobash: AI untuk Rekrutmen
Algobash merupakan startup berbasis AI yang bergerak di bidang rekrutmen dan talent assessment.
Startup ini membantu perusahaan menyederhanakan proses seleksi kandidat melalui sejumlah solusi, antara lain video interview berbasis AI, asesmen psikometri, dan technical skills testing.
Dengan demikian, fokus Algobash yakni membantu perusahaan dalam proses pencarian dan penilaian kandidat menggunakan teknologi AI.
2. Dash: AI untuk Operasional Frontline
Startup ini menggunakan AI untuk membantu perusahaan mengelola operasional tenaga kerja frontline yang tersebar di berbagai lokasi.
Solusi Dash mencakup penjadwalan tenaga kerja, distribusi tugas, penggajian, hingga akses terhadap armada kendaraan listrik.
Dengan solusi itu, Dash menyasar kebutuhan perusahaan yang memiliki aktivitas operasional dan tenaga kerja di banyak lokasi.
3. Fineksi: AI untuk Penilaian Risiko Kredit
Startup ini memanfaatkan AI untuk membantu institusi keuangan mempercepat proses penilaian risiko dan pengambilan keputusan kredit. Solusi Fineksi mencakup pengolahan dokumen, analisis laporan keuangan, dan credit underwriting.
AI digunakan untuk membantu institusi keuangan mengolah informasi yang dibutuhkan dalam proses penilaian risiko sebelum mengambil keputusan kredit.
4. Grivy: AI untuk Hubungkan Penjualan Online dan Offline
Grivy bergerak di bidang commerce intelligence, yang membantu bisnis menghubungkan interaksi pelanggan secara online dengan penjualan offline. Startup ini memanfaatkan online-to-offline (O2O) attribution, AI commerce agents, dan promosi digital.
Solusi tersebut ditujukan untuk membantu bisnis memahami perilaku pelanggan serta meningkatkan aktivitas perdagangan.
5. Sekilo: AI untuk Rantai Pasok Protein Halal
Startup ini membangun sistem operasi berbasis AI untuk rantai pasok protein halal di Indonesia. Solusinya mengintegrasikan berbagai proses dalam rantai pasok, mulai dari pencocokan pasokan dan permintaan, pemrosesan, cold storage, logistik, hingga pembiayaan.
Dengan demikian, Sekilo menggunakan AI untuk mengintegrasikan berbagai titik dalam rantai pasok protein halal, termasuk aspek logistik dan pembiayaan.
Startup AI Terpilih Berpeluang Masuk Ekosistem Grab
Setelah terpilih sebagai peserta GVV Batch 9, kelima startup bakal mendapatkan pendampingan bisnis. Selain itu, mereka akan memperoleh akses ke mentorship, ilmu kepemimpinan, serta kesempatan menjalankan pilot project bersama Grab.
Pilot project menjadi salah satu bagian penting dari program karena solusi yang dikembangkan startup dapat diuji dan disempurnakan agar semakin relevan dengan kebutuhan pasar dan ekosistem digital Indonesia.
Selain itu, GVV Batch 9 menggandeng Superbank, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta Sweef Institute.
Kemitraan tersebut memberikan dukungan berupa akses ke ekosistem perbankan digital, jaringan, keahlian, serta peluang pendanaan bagi startup yang terpilih.
Superbank juga menyatakan akan menjalankan pilot pertama bersama salah satu startup terpilih pada GVV Batch 9.
Program GVV merupakan akselerator bagi startup tahap post-seed yang berlangsung selama 15 minggu. Rangkaian program mencakup workshop bersama pelaku industri dan pendampingan pengembangan bisnis.
Minim Investasi ke Startup AI Indonesia
Pemilihan lima startup tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan ekosistem AI Indonesia. Grab menyebut saat ini terdapat lebih dari 45 startup AI di Indonesia.
Namun, porsi pendanaan bagi startup AI Indonesia baru sekitar 4% dari total pendanaan AI di ASEAN-10.
Grab menilai kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi pengembangan ekosistem startup AI lokal.
GVV Batch 9 menjadi salah satu upaya Grab untuk mendorong startup Indonesia mengembangkan solusi AI yang dapat diterapkan pada kebutuhan nyata di berbagai sektor.
Sejak diluncurkan pada 2018, GVV telah menerima lebih dari 800 pendaftar dan mendukung 40 startup alumni. Grab menyebut lebih dari 85% alumni tersebut masih beroperasi hingga saat ini.
Perjalanan alumni GVV beragam, mulai dari memperoleh pendanaan lanjutan dan memperluas skala bisnis hingga melakukan pivot untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar.