CEO Broadcom Soroti Risiko Investasi AI, Investor Disebut Seperti Berjudi
CEO Broadcom Hock Tan menyoroti risiko investasi di industri kecerdasan buatan (AI), terutama ketika investor menetapkan ekspektasi tinggi tanpa memahami bisnis yang mereka danai. Ia mengibaratkan perilaku sebagian investor seperti berjudi karena tidak mengetahui secara pasti nilai investasi mereka.
Pernyataan tersebut disampaikan Hock dalam diskusi bersama CEO DBS Bank Tan Su Shan dan CEO Intel Corporation Lip-Bu Tan. Diskusi inimembahas prospek pertumbuhan industri AI, kebutuhan infrastruktur komputasi, hingga kemampuan perusahaan AI menghasilkan pendapatan.
Hock Tan menilai sebagian investor memiliki ekspektasi yang sangat ekstrem terhadap perusahaan AI. Namun, mereka belum tentu memahami bisnis dan teknologi yang menjadi dasar investasi tersebut.
“Banyak investor yang berinvestasi di AI tidak memahami apa yang mereka investasikan. Mereka menetapkan ekspektasi yang sangat ekstrem, hanya untuk mendapati bahwa situasinya hampir seperti berjudi di kasino,” kata Hock Tan dalam acara DBS Asia Future Forward 2026 di Singapura, Senin (12/10).
Ia menggambarkan bagaimana investor dapat berubah sikap dengan cepat, dari masuk ke investasi hingga menarik diri, tanpa benar-benar memahami aset yang mereka miliki.
Meski demikian, Hock Tan tidak menilai potensi bisnis AI sepenuhnya negatif. Ia mencontohkan OpenAI yang menurutnya memiliki potensi pendapatan besar, meskipun perusahaan tersebut masih mengeluarkan biaya tinggi untuk melatih model AI.
“OpenAI mencatat pendapatan tahunan yang disetahunkan atau annualized revenue run rate (ARR) sekitar US$ 50 miliar pada September. Menurut saya, angka itu sendiri tidak terlalu buruk,” ujarnya.
Menurut dia, angka itu cukup bagus untuk kategori startup. “Jadi, entahlah. Angka itu tidak memberikan informasi spesifik, selain fakta bahwa model bisnis ini layak dijalankan saat ini,” Hock Tan menambahkan.
Ia juga mengatakan angka pendapatan tersebut menunjukkan bahwa model bisnis penyedia AI generatif terdepan memiliki potensi pertumbuhan pendapatan. Namun, ia mengingatkan bahwa OpenAI masih merugi karena besarnya pengeluaran untuk pelatihan model.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat berubah seiring peningkatan skala bisnis. Akan tetapi, potensi perubahan itu belum cukup untuk memastikan bagaimana kinerja bisnis AI ke depan.
“Pada saat ini, hal itu menunjukkan bahwa ada potensi pertumbuhan pendapatan yang besar dari penyediaan AI generatif terdepan dan model-model terdepan,” kata Hock.
Keberlanjutan Bisnis AI Bergantung pada Nilai yang Dihasilkan
Dalam diskusi tersebut, Hock Tan juga menekankan bahwa keberlanjutan industri AI tidak cukup hanya ditopang oleh penjualan perangkat keras, seperti cip dan memori.
Menurut dia, perusahaan pengembang model AI perlu menciptakan nilai ekonomi yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis mereka. Kemampuan menghasilkan nilai tersebut akan menentukan keberlanjutan ekosistem AI dalam jangka panjang.
Ia mencontohkan perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI, serta pengembangan model Gemini oleh Google, sebagai pemain yang berpotensi menciptakan nilai melalui model AI terdepan.
Hock Tan menjelaskan bahwa biaya infrastruktur komputasi perlu dibandingkan dengan nilai yang dihasilkan oleh produk AI. Dengan demikian, besarnya kebutuhan investasi tidak otomatis menunjukkan bahwa sebuah bisnis memiliki prospek keuntungan yang sama besarnya.
Sementara itu, CEO Intel Lip-Bu Tan menyoroti konsentrasi pertumbuhan AI pada sejumlah perusahaan. Menurut dia, kondisi ketika sebagian besar pertumbuhan terkonsentrasi pada dua perusahaan berpotensi menimbulkan risiko.
Lip-Bu Tan juga menyinggung model AI dari Cina yang menawarkan biaya penggunaan token lebih rendah. Ia menyebut model seperti DeepSeek dan Kimi memiliki kinerja yang dinilainya sudah cukup baik untuk sejumlah kebutuhan.
Ia menyatakan dukungannya terhadap pendekatan open source karena menilai pendekatan tersebut dapat mendorong efisiensi. Menurut dia, pemilihan model AI pada akhirnya bergantung pada aplikasi dan kebutuhan pekerjaan yang hendak diselesaikan.
Pandangan kedua CEO tersebut menunjukkan bahwa prospek industri AI tidak hanya ditentukan oleh besarnya permintaan infrastruktur dan investasi. Kemampuan perusahaan mengendalikan biaya, menghasilkan nilai ekonomi, serta membangun model bisnis yang berkelanjutan juga menjadi faktor penting.