Alasan Operator SK Telecom Korsel Ganti SIM Pengguna Usai Kebocoran Data
Salah satu operator seluler terbesar di Korea Selatan, SK Telecom, mengalami kebocoran data serius yang berdampak pada jutaan pelanggannya. Perusahaan ini kemudian mengumumkan penggantian gratis kartu SIM (USIM) untuk sekitar 23 juta pengguna mulai Senin (28/4).
SK Telecom merupakan salah satu operator jaringan seluler terbesar di Korea Selatan. Perusahaan ini memegang sekitar 48,4% dari pasar layanan telepon seluler di negara tersebut.
Awal bulan ini, SK Telecom mendeteksi tanda-tanda kebocoran besar-besaran pada data modul identitas pelanggan universal (USIM) akibat serangan siber pada Sabtu (19/4). Perusahaan kemudian segera menghapus malware yang terdeteksi, tapi masih ada kemungkinan kebocoran data.
"Setelah kami menyadari kemungkinan kebocoran, kami segera menghapus malware dan mengisolasi peralatan yang dicurigai telah diretas," demikian tertulis dalam laman pemberitahuan SK Telecom, pada minggu lalu (22/4).
Berdasarkan laporan The Korea Herald, perusahaan menemukan malware di dalam sistem internal utama, Home Subscriber Server, alias basis data yang mengelola identitas pengguna seluler dan otentikasi jaringan
Penemuan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa data penting di kartu USIM, seperti identitas untuk verifikasi ponsel di jaringan, mungkin telah bocor.
Data USIM adalah informasi yang disimpan pada Modul Identitas Pelanggan Universal (USIM), yang biasanya mencakup Identitas Pelanggan Seluler Internasional (IMSI), Nomor ISDN Stasiun Seluler (MSISDN), kunci otentikasi, data penggunaan jaringan, dan SMS atau kontak jika disimpan di SIM.
Data ini dapat digunakan untuk pengawasan yang ditargetkan, pelacakan, dan serangan pertukaran SIM.
SK Telecom mengatakan tidak ada bukti bahwa data yang bocor telah disalahgunakan, perusahaan telah memperkuat blok pertukaran USIM dan upaya otentikasi abnormal dan akan segera menangguhkan layanan untuk akun yang terkait dengan aktivitas yang mencurigakan.
SK Telecom belum mengungkap tingkat kerusakan atau pelaku secara menyeluruh, tapi perusahaan meminta maaf dan menawarkan penggantian chip USIM gratis di 2.600 gerainya di seluruh Korsel.
Namun, dalam upaya perlindungan data pengguna, perusahan operator seluler terbesar di Korea Selatan ini mendesak pengguna agar segera mengganti chip mereka atau mendaftar layanan perlindungan informasi.
Hingga pukul 18.00 waktu setempat, tercatat sebanyak 5,54 juta pelanggan atau sekitar 24 persen dari total pengguna telah berlangganan layanan perlindungan USIM. SK Telecom menyatakan layanan tersebut sama efektifnya dengan penggantian kartu USIM untuk mencegah kerusakan akibat peretasan.
Layanan penggantian USIM gratis dijadwalkan mulai pada Senin (28/4). Perusahaan meminta pelanggan untuk melakukan reservasi online guna meminimalkan antrean di gerai layanan.
Namun, SK Telecom baru memegang sekitar satu juta kartu USIM, dengan rencana untuk mengamankan lima juta lagi pada akhir Mei. Mengingat skalanya, kekurangan diperkirakan akan berlanjut selama berminggu-minggu, sehingga stok yang dimiliki saat ini tidak cukup untuk penggantian segera.
Atas kasus ini, Penjabat Presiden Korea Selatan Han Duck-soo telah menginstruksikan pejabat terkait untuk meninjau respons perusahaan serta mengevaluasi sistem perlindungan data nasional terhadap serangan siber.
Saat ini, investigasi gabungan antara sektor sipil dan pemerintah terhadap insiden kebocoran data masih berlangsung. Proses penyelidikan diperkirakan akan memakan waktu satu hingga dua bulan.