Pasar AI Diramal Tembus Rp22.000 T, Kebutuhan Energi Naik Dua Kali Lipat

Katadata/Meiliana Kamilia
Vice President Oracle Cloud AI Sourcing, Dan Madrigal, dalam NeutraDC Summit, di Bali, Senin (25/8).
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati
25/8/2025, 16.39 WIB

Pertumbuhan kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan meningkat pesat dalam beberapa tahun mendatang. Pasar kecerdasan buatan (AI) diperkirakan melonjak hingga US$ 1,4 triliun atau setara Rp22.750 triliun (kurs Rp16.250 per US$) dalam empat tahun ke depan, dengan kebutuhan energi meningkat hampir dua kali lipat.

Vice President Oracle Cloud AI Sourcing, Dan Madrigal, menjelaskan data dari Universitas Oxford menunjukkan pasar AI lokal yang saat ini bernilai sekitar US$ 400 miliar atau Rp6.500 triliun, diperkirakan melonjak menjadi US$ 1,4 triliun dalam empat tahun ke depan.

Kenaikan tersebut diperkirakan mendorong kebutuhan energi dari 80 gigawatt saat ini menjadi 180–185 gigawatt.

“Jadi, permintaan pasarnya adalah US$1,4 triliun. Dan kebutuhan gigawattnya setidaknya US$1. Artinya, sebenarnya akan ada beberapa efisiensi dalam AI yang akan terjadi selama bertahun-tahun,” ujarnya dalam NeutraDC Summit, di Bali, Senin (25/8).

Kenaikan permintaan ini menurutnya tidak hanya menuntut efisiensi teknologi, tetapi juga memerlukan dukungan infrastruktur energi dalam skala besar. Hal ini menjadi tantangan bagi berbagai negara, khususnya di kawasan Asia.

“Di Asia Tenggara, investasi pada 2020 tercatat mencapai US$ 120 miliar atau sekitar Rp1.950 triliun, dengan US$ 10–12 miliar, atau Rp162,5–195 triliun, di antaranya mengalir ke negara-negara di Asia dan Afrika,” kata Madrigal.

Meski demikian, ia menjelaskan, beberapa wilayah seperti India dinilai masih kekurangan investasi, padahal permintaan AI di kawasan tersebut cukup tinggi.

Para pelaku industri menilai, dibutuhkan tambahan investasi, pembangunan infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Ribuan perusahaan dan ratusan startup kini berlomba menerapkan AI, sehingga kecepatan adopsi pasar, skalabilitas, dan fleksibilitas menjadi faktor kunci dalam pengembangan,” ujarnya.

Selain kebutuhan energi dan modal yang besar, faktor manusia tetap dianggap penting. Meski AI mampu meningkatkan produktivitas dan menggantikan sebagian pekerjaan, koneksi dan eksekusi dari sumber daya manusia menjadi elemen utama yang tidak tergantikan.

“Sejarah perkembangan teknologi menunjukkan, janji teknologi kerap dilebih-lebihkan, tetapi dampak sosial dan kebijakannya justru sering diremehkan,” katanya.

Karena itu, menurutnya perkembangan AI dipandang perlu diimbangi dengan regulasi dan ekosistem yang sehat agar manfaatnya bisa dirasakan luas dan tidak disalahgunakan pihak tertentu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina