PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berambisi terus mengembangkan ekosistem data center nasional untuk mendukung skenario transformasi bisnis dan menjadi national digital enabler.

Wakil Direktur Utama Telkom Muhammad Awaluddin mengatakan perusahaan akan membangun pusat data hyperscale dan non-hyperscale. Proyek hyperscale Telkom dibangun lewat anak usahanya yaitu Telkom Data Ekosistem (NeutraDC). Proyek pusat data dengan skala besar ini mampu menampung ribuan server dan melayani cloud computing yang masif.

“Kita ingin terus membangun infrastruktur yang kedepan atau future infrastructure. Salah satunya dengan kita membangun data center,” katanya di sesi Sustainable Action for the Future Economy (SAFE) 2025, Kamis (11/9).

Awaluddin mengatakan NeutraDC menggunakan standar global bersertifikasi Uptime Tier III dan Tier IV untuk para pemain global. Salah satu proyeknya adalah Pusat Data Nasional (PDN) Cikarang dan yang sedang dibangun yaitu PDN Batam.

Sedangkan pusat data non-hyperscale adalah pusat data biasa dengan skala lebih kecil yang biasa melayani kebutuhan internal organisasi atau perusahaan. Hingga kini, Telkom telah mengelola belasan pusat data non-hyperscale.

Non-hyperscale kita kelola lewat brand neuCentrIX yang sudah ada di 16 titik kota dan akan terus berkembang,” kata Awaluddin.

NeuCentrIX sendiri merupakan pusat data yang terhubung dengan jaringan multi-provider dan memiliki fasilitas penunjang berskala internasional. Sebagai national digital enabler, Telkom juga mendorong pemerataan pembangunan infrastruktur digital. Pembangunan ekosistem digital ini tidak hanya didorong di wilayah urban, tetapi juga wilayah rural.

“Bukan hanya sekedar masuk ke sektor publik, lembaga, dan privat. Tetapi juga masyarakat bawah, UMKM, hingga daerah tertinggal,” kata Awaluddin.

Sebagai tulang punggung transformasi digital nasional, Telkom juga memastikan pembangunan ekosistem digital yang berbasis green infrastructure.

“Lewat pemanfaatan renewable energy di berbagai base transceiver station (BTS) operator seluler, hingga pengolahan limbah jaringan serat optik kita yang cukup banyak,” kata Awaluddin.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Leoni Susanto