Mengenal Siklon Koto, Penyebab Cuaca Ekstrem di Provinsi Sumatera Utara 

ANTARA FOTO/Andri Saputra/nz.
Sejumlah perahu nelayan berada di pinggiran pantai.
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati
26/11/2025, 17.22 WIB

Siklon tropis Koto diduga menjadi penyebab empat wilayah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara mengalami cuaca ekstrem. Apa itu siklon Koto?

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah yang terdampak meliputi Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Cuaca ekstrem yang melanda ditandai dengan hujan deras dalam durasi lebih dari dua hari telah memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta melaporkan dua sistem cuaca signifikan yang memicu terjadinya cuaca ekstrem di wilayah Sumatra Utara pada 25 November 2025, yakni Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B yang terpantau di Selat Malaka.

BMKG menjelaskan, bibit siklon 95B yang berada di Selat Malaka membentuk awan konvektif yang meluas dari Aceh hingga Sumatera Utara. Kondisi ini meningkatkan potensi hujan lebat dalam beberapa hari terakhir.

Sementara itu, Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu memicu pola belokan angin serta menarik massa udara basah (inflow) ke pusat siklon, sehingga pertumbuhan awan hujan di bagian barat Indonesia semakin intens.

Pengaruh kedua sistem itu dinilai menimbulkan hujan ekstrem yang memicu banjir di sejumlah wilayah Sumatera Utara serta longsor di daerah dengan kontur lereng curam. Hujan lebat menyebabkan sungai meluap dan tanah menjadi jenuh air.

Dalam peringatan dini cuaca 24 jam yang berlaku pada 25 November 2025 pukul 19.00 WIB hingga 26 November 2025 pukul 19.00 WIB, BMKG memperkirakan bibit siklon 95B berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau.

Angin kencang juga berpeluang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara. Selain itu, gelombang tinggi 1,25–2,5 meter berpotensi muncul di Selat Malaka bagian utara, sementara gelombang 2,5–4,0 meter berpeluang terjadi di Selat Malaka bagian tengah, perairan timur Sumatera Utara, serta Samudra Hindia barat Aceh hingga Nias.

Siklon Tropis KOTO juga diperkirakan berdampak pada hujan sedang hingga lebat di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau, serta gelombang tinggi di Laut Sulawesi, Laut Maluku, perairan Halmahera, Papua Barat Daya hingga Papua, dan Samudra Pasifik utara Maluku–Papua.

Apa itu Siklon Koto?

Siklon Tropis KOTO merupakan badai tropis yang terbentuk dari sistem tekanan rendah di sekitar Laut Sulu. Dalam catatan meteorologi internasional, dilansir dari Hypothetical Hurricane, Siklon KOTO tercatat sebagai salah satu badai paling kuat yang pernah mendekati wilayah Indonesia, dengan karakteristik:

  • Terbentuk dari sistem tekanan rendah di selatan Yap dan berkembang cepat saat memasuki perairan hangat di sekitar Palau dan Laut Sulu.
  • Mengalami rapid intensification akibat suhu permukaan laut yang tinggi.
  • Memiliki kecepatan angin setara badai tropis kuat saat mencapai puncaknya.
  • Sistem ini sebelumnya juga membawa kerusakan di beberapa wilayah Filipina dan Malaysia sebelum bergerak ke barat dan mempengaruhi wilayah Indonesia.
  • Saat memasuki wilayah Filipina, siklus ini sempat dinamai Verbena, sebelum resmi diberi nama KOTO oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA).

Badai ini tercatat memiliki intensitas yang setara dengan Typhoon Vamei (2001), masing-masing mencapai kecepatan angin sekitar 75 mil per jam (mph) saat mendarat. KOTO menjadi perhatian internasional karena jalur pembentukannya yang tidak biasa, intensitasnya yang meningkat cepat, serta dampak kerusakan yang ditimbulkannya di beberapa negara Asia Tenggara.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina