Sinar Mas Land dan LLV Bakal Jadikan BSD Hub Sektor Kesehatan
Sinar Mas Land dan Living Lab Ventures (LLV) akan menjadikan kawasan kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD City) sebagai hub untuk sektor Kesehatan. Rencana jangka Panjang perusahaan ini akan dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (ETKI), di BSD City, Tangerang Selatan, Banten.
Mulyawan Gani, CEO Digital Business Sinar Mas Land, mengatakan perusahaan melihat peluang yang besar untuk sektor layanan kesehatan di Indonesia. Selama ini layanan kesehatan di Indonesia disebut kalah bersaing dengan negara tetangga, sehingga banyak pasien dari Indonesia yang berobat ke luar negeri.
"BSD itu luasnya 6.000 hektare dan KEK ini 60 hektare. Dengan adanya 1% area yang difokuskan untuk KEK kesehatan itu, kita bisa membidik pasar yang besar," ujar Gani dalam Living Lab Ventures Update and Media Briefing, di Jakarta, Rabu (11/2).
Lokasi BSD yang hanya 30 km dari Jakarta sangat strategis untuk membidik pasar pengguna layanan kesehatan di Jakarta dan sekitarnya. Meski begitu, Gani menyatakan perlu waktu belasan hingga puluhan tahun untuk membangun ekosistem layanan kesehatan yang lengkap.
"Singapura membangun Biopolis tahun 2000 dan menyerap ratusan ribu lapangan kerja. Di Jepang ada Kobe Biomedical Innovation Cluster yang dibangun pada 1990-an, Australia ada Parkville. Itu semua investasinya digelontorkan oleh pemerintah," kata Gani.
Untuk KEK kesehatan ini, Gani mengatakan, 100% investasinya dari Sinar Mas Land. Menurutnya sudah ada beberapa perusahaan di bidang layanan kesehatan yang telah bergabung di KEK ini.
"Kami mencari perusahaan-perusahaan healthcare yang bisa menjembatani gap di Indonesia. Kita punya clinic suites, ada 3 coworking clinic yang bisa dimanfaatkan oleh medtech yang ingin mencoba service-nya di Indonesia," ujar Gani.
Gani memaparkan inovasi di bidang teknologi kesehatan yang semakin canggih di beberapa negara yang ingin dikembangkan di KEK kesehatan ini. Ia menyatakan Cina, Jepang, dan India sudah melakukan diagnosis penyakit dengan menggunakan mesin atau robot.
"Mereka bisa mendiagnosis banyak penyakit lebih dini. Ada mesin kecil di Tiongkok bisa mendeteksi 100 penyakit dalam tiga menit," ujarnya.
Di KEK, perusahaan yang ingin mengadakan uji coba peralatan atau mesin-mesin kesehatan yang canggih ini tidak perlu izin yang berbelit-belit. Pasalnya, KEK memang diberikan fasilitas atau kelonggaran dalam hal bea masuk atau perizinan untuk mesin-mesin yang akan diujicoba atau dipamerkan.
"Kita bisa mengundang administrator atau dokter dari berbagai rumah sakit atau mahasiswa kedokteran untuk mempelajari mesin-mesin ini," kata Gani.
LLV Siapkan Healthcare Fund
Rencana pengembangan KEK kesehatan ini juga didukung oleh Living Lab Ventures, yang merupakan modal ventura yang dimiliki oleh Sinar Mas Land. LLV telah memiliki Healthcare Fund untuk mengumpulkan dana investasi di sektor kesehatan. Namun, mereka akan masuk ke perusahaan yang telah memiliki layanan kesehatan seperti rumah sakit atau klinik, bukan startup yang bergerak di bidang teknologi kesehatan.
"Dalam tiga bulan itu kita mulai agresif (untuk mengumpulkan dana) dari investor dengan nilai beberapa ratus juta hingga miliaran dolar AS. Kita juga mencari beberapa rumah sakit untuk beroperasi di KEK kesehatan ini," ujar Bayu Seto, Partner at Living Lab Ventures.
Saat ini, total dana yang terkumpul dalam fund yang dikelola LLV sekitar US$ 150-180 juta (Rp 2,52 triliun-Rp 3,03 triliun).
Tahun lalu, LLV berinvestasi di Euromedica Group, jaringan pengelola klinik kesehatan dan kecantikan yang memiliki sekitar 101 klinik di Indonesia. Namun, Bayu mengatakan nilai investasi LLV di Euromedica tidak bisa disebutkan (undisclosed).