Palantir, OpenAI ChatGPT, Microsoft, Starlink Diduga Bantu Israel Serang Gaza
Raksasa teknologi seperti Palantir, OpenAI pembuat ChatGPT, Microsoft hingga Starlink disebut membantu Israel menyerang Gaza. Kolaborasi perusahaan-perusahaan ini disebut menciptakan ‘rantai pembunuhan digital’.
Merujuk pada investigasi The Guardian, +972 Magazine, dan media berbahasa Ibrani Local Call pada Oktober 2025, korps intelijen Unit 8200 Israel telah menyimpan dan memproses rekaman audio setiap panggilan telepon Palestina di platform cloud Azure milik Microsoft.
Menurut laporan itu, kemitraan telah memberi militer Israel kemampuan pengawasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengubah komunikasi pribadi jutaan warga Palestina menjadi bahan mentah untuk pendudukan dan perang.
Di antara unit-unit militer Israel yang terungkap mengandalkan Azure adalah Unit Ofek Angkatan Udara, yang mengelola basis data besar tentang target potensial situs dan individu untuk serangan udara mematikan; Unit Matspen, yang merancang sistem pendukung operasional dan tempur; Unit Sapir, yang bertanggung jawab atas tulang punggung TIK Intelijen Militer; dan bahkan Korps Jaksa Agung Militer, yang mengawasi penuntutan terhadap warga Palestina dan kasus-kasus disiplin yang jarang terjadi terhadap tentara di wilayah pendudukan.
Namun Microsoft tidak sendirian. Google, Amazon, dan Palantir disebut ikut membantu Israel dalam serangan ke Gaza, Palestina.
Microsoft: Mitra Cloud untuk Pengawasan dan Pendudukan
Selama beberapa dekade, Unit 8200 Israel telah mencegat komunikasi Palestina sebagai bagian dari strategi pendudukan mereka. Yang terbaru adalah skala industri di mana pengawasan ini sekarang dilakukan.
Dengan mengalihdayakan penyimpanan dan pemrosesan data ke Microsoft, Israel telah mampu membangun jaring pengawasan berbasis cloud di Palestina.
Microsoft ikut mengembangkan teknologi dengan lembaga-lembaga Israel, berinvestasi di startup pengawasan warga lokal, dan menjalankan laboratorium penelitian di negara itu.
Google dan Amazon: Proyek Nimbus
Google dan Amazon menandatangani Proyek Nimbus, kontrak senilai US$ 1,2 miliar dengan negara dan militer Israel.
Nimbus menyediakan infrastruktur cloud canggih dan perangkat AI, termasuk pengenalan wajah, analisis sentimen, dan kepolisian prediktif. Ini bukanlah kemampuan abstrak, melainkan teknologi yang digunakan untuk memata-matai warga Palestina di Yerusalem Timur, menghasilkan basis data ‘tersangka’ dan memungkinkan pembuatan daftar target pembunuhan secara algoritmik di Gaza.
Jauh dari menjadi proyek internal Israel, Nimbus didukung oleh keahlian dan modal perusahaan AS.
Karyawan di kedua perusahaan telah membongkar praktik tersebut, memperingatkan bahwa pekerjaan mereka memicu apartheid dan genosida. Aksi mogok kerja, petisi, dan perbedaan pendapat internal telah ditanggapi dengan pemecatan dan intimidasi.
Palantir: Pedagang Senjata Data
Jika Microsoft, Google, dan Amazon menyediakan infrastruktur, Palantir menyediakan mesin analitiknya. Berawal dari pendanaan awal CIA, Palantir telah dikenal karena kemampuannya mengubah data pengawasan yang luas menjadi intelijen militer yang dapat ditindaklanjuti.
Platformnya menggabungkan catatan telepon, rekaman drone, dan aktivitas media sosial ke dalam sistem penargetan yang mulus
Palantir juga bekerja sama dengan Departemen Perang Amerika Serikat atau Pentagon untuk membangun Maven Smart System. Teknologi apa saja yang terlibat dan bagaimana kecanggihannya dapat dilihat pada infografik di bawah ini:
Di Gaza, sistem Palantir mempercepat rantai pembunuhan, mengubah pengawasan mentah menjadi koordinat bom dengan efisiensi yang menakutkan.
Dikutip dari Business Human Right, kemitraan antara Palantir dan militer Israel menguat dengan perjanjian formal yang ditandatangani pada 12 Januari 2024, tiga bulan setelah genosida terhadap warga Palestina di Gaza dimulai.
Kerja sama itu dimulai setelah para eksekutif Palantir datang ke Israel, di mana mereka mengadakan rapat dewan pertama mereka tahun itu di Tel Aviv.
“Kedua pihak sepakat untuk memanfaatkan teknologi canggih Palantir dalam mendukung misi terkait perang,” kata Wakil Presiden Eksekutif Palantir Josh Harris.
Jika di AS Palantir menyediakan Maven Smart System, di Israel perusahaan menghadirkan sistem TITAN. Teknologi diperkenalkan sebagai model AI yang sangat akurat yang dirancang untuk meningkatkan ketepatan penargetan.
Starlink Diduga Ikut Bantu Israel dalam Perang di Gaza
Di Ukraina, kolaborasi antara Palantir dan Starlink secara gamblang menggambarkan dampak mendalam dari teknologi terintegrasi terhadap peperangan.
Model AI Palantir menyediakan analisis data penting bagi militer Ukraina, mengubah gambar mentah dari drone, satelit, dan laporan lapangan menjadi intelijen yang dapat ditindaklanjuti secara real-time.
Proses ini, yang oleh CEO Palantir Karp, disebut dengan ‘rantai pembunuhan digital’, yang telah menjadi inti dari strategi pertahanan Ukraina, yang memungkinkan penargetan yang tepat dan penilaian medan perang.
Bersamaan dengan itu, Starlink milik Elon Musk memastikan komunikasi tanpa gangguan bagi pasukan Ukraina, menjaga aliran informasi penting yang berkelanjutan dan vital untuk peperangan modern.
Pada 12 Januari 2024, Pemerintah Israel menyetujui penggunaan layanan Starlink di Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, yang konon untuk keperluan medis.
Business Human Right menilai persetujuan itu tidak seharusnya dipandang sebagai sekadar tindakan kemanusiaan. Sebaliknya, ini meletakkan dasar bagi potensi integrasi terselubung lainnya antara Palantir dan Starlink, yang mencerminkan kolaborasi mereka di Ukraina.
Dengan memungkinkan komunikasi satelit canggih, persetujuan Starlink di Gaza berpotensi mendukung operasi militer, yang menunjukkan pembentukan ‘rantai pembunuhan digital’ di balik kedok bantuan kemanusiaan.
Pengepungan brutal terhadap Rumah Sakit Al-Shifa oleh pasukan Israel, yang melibatkan kekejaman berat terhadap warga sipil dan staf medis, sangat bertentangan dengan niat altruistik yang seharusnya ada di balik penempatan Starlink.
“Muncul pertanyaan: apakah persetujuan Starlink yang dipublikasikan secara luas di Shifa ini merupakan langkah humas terselubung yang mempersiapkan integrasi produk perusahaan tersebut ke dalam operasi militer Israel di Jalur Gaza? Waktu dan konteks perkembangan ini menimbulkan pertanyaan yang mengkhawatirkan tentang niat sebenarnya dari Starlink dan Tel Aviv,” demikian dikutip.
OpenAI: Menyaring Banyaknya Data Intelijen
Investigasi Associated Press pada awal 2025 mengungkapkan bahwa raksasa teknologi AS, termasuk Microsoft dan OpenAI, memasok model AI ke Israel selama serangan di Gaza dan Lebanon.
Menurut penyelidikan, serangan Israel di Gaza dan Lebanon menandai contoh utama penggunaan model AI komersial buatan AS dalam peperangan aktif.
Militer Israel menggunakan AI untuk menyaring sejumlah besar intelijen, komunikasi yang dicegat, dan pengawasan untuk menemukan ucapan atau perilaku yang mencurigakan dan mempelajari pergerakan musuh-musuhnya.
Investigasi itu didasarkan pada dokumen internal, data, dan wawancara eksklusif dengan pejabat Israel dan mantan pejabat serta karyawan perusahaan.
Setelah dimulainya serangan ke Gaza, penggunaan teknologi Microsoft dan OpenAI oleh Israel meroket, menurut investigasi AP.
Penggunaan AI Microsoft dan OpenAI oleh Israel melonjak pada Maret 2024. Model AI canggih disediakan melalui OpenAI, pembuat ChatGPT, melalui platform cloud Azure milik Microsoft, di mana model ini dibeli oleh militer Israel.
OpenAI mengklaim tidak memiliki kemitraan dengan militer Israel, dan kebijakan penggunaannya menyatakan bahwa pelanggannya tidak boleh menggunakan produknya untuk mengembangkan senjata, menghancurkan properti, atau membahayakan orang.
Namun, pada awal 2024, OpenAI mengubah ketentuan penggunaannya dari melarang penggunaan militer menjadi mengizinkan ‘kasus penggunaan keamanan nasional yang selaras dengan misi perusahaan’.
Bagaimana Militer Israel Menggunakan AI untuk Perang di Gaza?
Militer Israel menggunakan Microsoft Azure untuk mengumpulkan informasi yang diperoleh melalui pengawasan massal, yang kemudian ditranskripsikan dan diterjemahkan, termasuk panggilan telepon, pesan teks, dan pesan audio, kata seorang perwira intelijen Israel yang bekerja dengan sistem tersebut kepada AP.
Data itu kemudian dapat dicocokkan dengan sistem penargetan internal Israel, yang disebut Lavender menurut laporan The Guardian pada 2024, dan sebaliknya.
Perwira intelijen Israel itu mengatakan bahwa dia mengandalkan Azure untuk dengan cepat mencari istilah dan pola dalam kumpulan teks yang sangat besar, seperti menemukan percakapan antara dua orang dalam dokumen setebal 50 halaman.
Azure juga dapat menemukan orang-orang yang saling memberi arahan dalam teks, yang kemudian dapat dibandingkan dengan sistem AI militer sendiri untuk menentukan lokasi.
Data Microsoft yang ditinjau AP menunjukkan bahwa sejak awal serangan terhadap Gaza, militer Israel telah banyak menggunakan alat transkripsi dan penerjemahan serta model OpenAI, meskipun tidak dijelaskan secara rinci model mana yang digunakan. Biasanya, model AI yang melakukan transkripsi dan penerjemahan bekerja paling baik dalam bahasa Inggris.
OpenAI mengakui bahwa model terjemahan AI mereka, Whisper, yang dapat mentranskripsikan dan menerjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Arab, dapat mengarang teks yang tidak pernah diucapkan siapa pun, termasuk menambahkan komentar rasis dan retorika kekerasan.
“Kesalahan dapat terjadi karena banyak alasan yang melibatkan AI,” kata para perwira militer Israel yang telah bekerja dengan sistem penargetan dan pakar teknologi lainnya.
Rekaman panggilan telepon yang disadap dan dikaitkan dengan profil seseorang mencakup waktu panggilan serta nama dan nomor telepon orang-orang yang terlibat dalam panggilan tersebut. Namun, diperlukan langkah tambahan untuk mendengarkan dan memverifikasi audio aslinya, atau untuk melihat transkrip terjemahannya.
Dokumen yang ditinjau AP menunjukkan bahwa Azure milik Microsoft digunakan untuk mendukung aktivitas tempur dan intelijen. Raksasa teknologi ini juga memberikan akses skala besar kepada militer Israel terhadap model GPT-4 milik OpenAI.
Selama serangan di Gaza, para engineer Microsoft memberikan dukungan kepada unit-unit intelijen Israel seperti Unit 8200 dan unit mata-mata rahasia lainnya, Unit 9900 – yang mengumpulkan dan menganalisis intelijen visual – untuk mendukung penggunaan infrastruktur cloud mereka.
Dalam pernyataan yang diungkapkan oleh +972 dan Local Call, Kolonel Racheli Dembinsky menjelaskan bahwa keuntungan paling signifikan yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan cloud adalah ‘berbagai layanan luar biasa’, termasuk kemampuan AI canggih.
Bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan ini, katanya, memberikan IDF efektivitas operasional yang sangat signifikan di Gaza.
Meskipun Dembinsky tidak menyebutkan nama penyedia layanan cloud yang kini diandalkan IDF, logo Azure beserta logo Amazon Web Services dan Google Cloud ditampilkan dalam slide presentasinya.
Inti dari serangan Israel adalah penargetan berbasis kecerdasan buatan, yang menghasilkan daftar target pembunuhan otomatis dengan menandai puluhan ribu warga Palestina sebagai tersangka militan.