Lintasarta Satukan Cloud, Jaringan, AI, dan Keamanan Siber dalam Satu Platform

Katadata/Desy Setyowati
Para direktur Lintasarta
Penulis: Desy Setyowati
10/6/2026, 07.23 WIB

Lintasarta memperkenalkan Intelligent Core, fondasi digital yang mengintegrasikan layanan konektivitas, cloud, kecerdasan buatan (AI), dan keamanan siber dalam satu platform. Perusahaan menilai pendekatan ini diperlukan karena implementasi AI di dunia usaha tidak bisa berjalan hanya dengan mengandalkan model AI, melainkan membutuhkan infrastruktur digital yang saling terhubung dan aman.

President Director & CEO Lintasarta Armand Hermawan mengatakan perusahaan menghadirkan Intelligent Core untuk membantu pelanggan mengubah kompleksitas teknologi menjadi hasil bisnis yang nyata.

"Melalui Intelligent Core ini, kami membantu pelanggan mengintegrasikan infrastruktur digital dan AI dalam satu solusi digital yang aman, andal dan saling terhubung, sehingga pelanggan dapat lebih fokus pada inovasi, pertumbuhan, dan daya saing bisnis," ujar Armand dalam Media Gathering Lintasarta di Jakarta, Selasa (9/6).

Intelligent Core dibangun di atas empat kapabilitas utama yang disebut 4C, yakni Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration-AI. Lintasarta menggabungkan seluruh komponen ini ke dalam solusi digital end-to-end yang ditujukan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan mempercepat adopsi AI di berbagai sektor industri.

Armand menjelaskan bahwa kebutuhan pelanggan saat ini semakin kompleks. Perusahaan tidak hanya membutuhkan kapasitas komputasi AI, tetapi juga jaringan yang andal, pusat data, layanan cloud, hingga perlindungan keamanan siber yang terintegrasi.

Untuk mendorong layanan itu, Lintasarta akan terus berekspansi dalam hal infrastruktur. Selain itu, ekosistem dan solusi yang terintegrasi.

“Belajar dari banyak industri, kami harus melihat ekosistemnya. Finansial misalnya, harus ada keamanan siber, konektivitas, dan misalnya apakah data center-nya di dalam negeri. Oleh karena itu, kami siapkan lebih luas lagi terkait infrastruktur, ekosistem, dan solusi yang terintegrasi,” ujar Armand.

Dalam materi presentasi perusahaan, Intelligent Core dibagi ke dalam lima Industry Outcome Stacks, yaitu Secure Banking Stack untuk sektor keuangan, Sovereign Government Stack untuk pemerintahan, Smart Factory Stack untuk manufaktur, Connected Healthcare untuk layanan kesehatan, dan Omnichannel Retail untuk sektor ritel.

Pada sektor keuangan misalnya, Secure Banking Stack dirancang untuk mendukung layanan perbankan digital yang aman melalui kepatuhan terhadap regulasi OJK, operasi berbasis AI, perlindungan terhadap fraud dan ancaman siber, serta layanan yang selalu aktif. Sementara itu, Sovereign Government Stack bertujuan mendukung layanan publik melalui pengelolaan data berdaulat, layanan warga negara, ketahanan siber, dan layanan publik yang aman.

Untuk sektor manufaktur, Smart Factory Stack menawarkan kemampuan intelligent manufacturing yang mencakup operasi terhubung, predictive maintenance, keamanan industri, dan produksi tanpa downtime.

Lalu sektor kesehatan, didukung melalui Connected Healthcare yang berfokus pada pengelolaan data kesehatan yang aman, layanan berbasis AI, peningkatan pengalaman pasien, dan fasilitas kesehatan yang selalu terhubung.

Sektor ritel menjadi segmen lain yang dibidik melalui Omnichannel Retail. Solusi ini menawarkan connected commerce, analisis pelanggan yang lebih cerdas, personalisasi layanan, transaksi yang aman, dan operasional toko yang selalu aktif.

Armand mengatakan industri keuangan saat ini menjadi sektor yang paling banyak memanfaatkan layanan AI Lintasarta. Menurut dia, kebutuhan terhadap teknologi AI di sektor tersebut terus meningkat, terutama untuk mendeteksi fraud, account takeover, hingga memverifikasi keaslian transaksi.

"Kalau ada satu masalah satu detik atau dua detik saja, impact-nya ke keuangan besar. Oleh karena itu, banyak pelanggan yang meminta AI capability, terutama di perbankan," ujarnya.

Chief Cloud Officer Lintasarta Gidion Suranta Barus juga menyebut sektor keuangan sebagai pengguna AI terbesar di perusahaan saat ini. Pemanfaatannya mencakup customer service, operasional internal, hingga penciptaan sumber pendapatan baru.

Selain perbankan, sektor pertambangan mulai meningkatkan penggunaan AI, terutama untuk kebutuhan komputasi berkinerja tinggi atau high performance computing. “Berikutnya yang akan banyak mengadopsi AI, saya kira untuk agen AI, yang dibuat oleh pengembang,” ujar Gidion.

Di sisi operasional internal, Lintasarta juga mulai menerapkan AI di hampir seluruh fungsi bisnisnya. Director & Chief Telco Services Officer Lintasarta Zulfi Hadi mengatakan salah satu implementasi dilakukan pada pengelolaan jaringan dan penanganan gangguan pelanggan.

Menurut dia, sebelumnya seorang engineer berpengalaman membutuhkan waktu sekitar 17 hingga 20 menit untuk menganalisis sumber gangguan, apakah berasal dari sisi pelanggan atau backbone jaringan. Kini sebagian proses tersebut telah direplikasi ke dalam model AI yang dikembangkan perusahaan.

"Knowledge yang biasa digunakan oleh teman-teman engineer, kami replikasi. Setelah modelnya jadi, kami implementasikan dan kami ajari (ke AI0 sampai akurasinya tinggi," kata Zulfi.

AI juga dimanfaatkan untuk memperkuat keamanan siber. Zulfi mengatakan model AI yang dikembangkan perusahaan mampu mendeteksi kredensial yang bocor dan melakukan validasi dalam waktu jauh lebih cepat dibandingkan metode manual.

"Kalau dulu perlu beberapa hari untuk mencari dan memvalidasi kredensial yang bocor, sekarang bisa dilakukan hanya dalam hitungan jam," ujarnya.

Menurut dia, perkembangan AI juga membuat pelaku kejahatan siber semakin canggih. Oleh karena itu, pertahanan keamanan siber juga harus memanfaatkan AI agar mampu mengimbangi kecepatan dan skala serangan yang terus meningkat.

"Kalau yang menyerang sudah menggunakan AI, pertahanannya juga harus menggunakan AI," kata Zulfi.

Melalui Intelligent Core, Lintasarta menargetkan peran yang lebih luas sebagai Industry Digital Infrastructure Orchestrator yang mengintegrasikan kapabilitas digital, AI, ekosistem mitra teknologi, dan layanan terkelola dalam satu platform. Saat ini perusahaan melayani lebih dari 2.300 pelanggan korporasi dengan 74.196 jaringan di berbagai sektor industri di Indonesia.

Perusahaan menilai kombinasi sovereign infrastructure, AI, serta ekosistem digital yang terintegrasi akan menjadi fondasi penting bagi transformasi industri sekaligus memperkuat kedaulatan digital Indonesia di era AI. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.