BRIN Bangun Bandar Antariksa, Bidik RI Jadi Penyedia Jasa Peluncuran Satelit

Katadata
Peluncuran Satelit Komunikasi Zhongxing-3A
Penulis: Rahayu Subekti
8/7/2026, 13.13 WIB

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat rencana pembangunan Bandar Antariksa Nasional di Biak, Papua. Melalui proyek ini, Indonesia tidak hanya menargetkan mampu meluncurkan satelit nasional dari wilayah sendiri, tetapi juga membidik peluang menjadi penyedia jasa peluncuran satelit bagi negara-negara di kawasan.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pembangunan bandar antariksa merupakan bagian dari strategi membangun ekosistem antariksa nasional sekaligus memperkuat kemandirian Indonesia di sektor antariksa.

"Salah satu agenda strategi BRIN yakni pembangunan Bandar Antariksa Nasional sebagai gerbang akses Indonesia menuju ruang angkasa," kata Arif dalam peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Jakarta, Selasa (8/7).

"Bandar antariksa bukan hanya lokasi peluncuran, tetapi merupakan simpul utama ekosistem antariksa nasional yang akan memperkuat kemampuan Indonesia dalam menyediakan layanan peluncuran satelit dari wilayah NKRI," Arif menambahkan.

Menurut Arif, kehadiran bandar antariksa diharapkan membuat Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penyedia jasa peluncuran dari luar negeri. Ke depan, satelit nasional ditargetkan dapat diluncurkan langsung dari Indonesia.

Ia juga menyebut Indonesia berpeluang menjadi basis layanan peluncuran satelit di Asia.

"Harapan nasional di masa depan, Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penyedia jasa peluncuran dari luar negeri. Satelit dapat diluncurkan dari bandar antariksa di tanah air sendiri, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi penyedia layanan peluncuran bagi negara-negara sahabat dan kawasan," ujarnya.

Selain mendukung peluncuran satelit, pembangunan bandar antariksa diproyeksikan mendorong lahirnya berbagai industri pendukung. Mulai dari manufaktur satelit, material maju, avionik, telemetri, logistik, sistem kendali misi, hingga layanan ekonomi berbasis antariksa yang berpotensi menciptakan investasi serta lapangan kerja berkeahlian tinggi.

BRIN sebelumnya juga menyampaikan pengembangan ekosistem antariksa menjadi salah satu prioritas untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang riset, teknologi, dan inovasi, sejalan dengan upaya meningkatkan kemandirian teknologi Indonesia.

Biak Jadi Kandidat Terkuat

Arif mengatakan Biak menjadi salah satu kandidat utama lokasi pembangunan bandar antariksa karena memiliki keunggulan geografis yang tidak dimiliki banyak negara.

"Ya, salah satu calon lokasi adalah di Biak, di Papua. Kajian sudah sangat lama, sejak awal 90-an. Saya baru bulan lalu berkunjung ke sana untuk membangun koordinasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten maupun tokoh-tokoh adat yang ada di Biak," ujarnya.

Menurut dia, mayoritas tokoh adat di Biak pada prinsipnya telah memberikan dukungan terhadap rencana tersebut.

"Kami sudah bicara dengan tokoh-tokoh adat, dan alhamdulillah sebagian besar tokoh adat juga sudah menandatangani persetujuan terkait dengan pembangunan bandar antariksa yang ada di Biak ini. Tentu yang kita perlu terus tekankan adalah bagaimana bandar antariksa juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar," kata Arif.

Untuk tahap awal, BRIN telah memiliki lahan seluas sekitar 100 hektare yang akan menjadi zona inti pembangunan. Selain itu, dibutuhkan pula zona penyangga sebagai salah satu persyaratan teknis pembangunan bandar antariksa.

Dekat Khatulistiwa, Peluncuran Lebih Efisien

Arif menjelaskan pemilihan Biak didasarkan pada pertimbangan ilmiah karena lokasinya yang berada dekat garis khatulistiwa. Posisi tersebut membuat peluncuran satelit lebih efisien dibandingkan banyak lokasi lain di dunia.

"Kenapa Biak? Ya itu salah satu lokasi yang kita anggap sangat efisien karena kedekatannya dengan orbit. Itu adalah wilayah yang memang sudah dari dulu diperhitungkan secara saintifik," ujarnya.

Menurut Arif, keunggulan geografis Indonesia harus diubah menjadi keunggulan teknologi, ekonomi, dan geopolitik agar Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam perekonomian antariksa global.

"Keunggulan ini memberikan efisiensi peluncuran yang lebih tinggi sehingga menjadikan Indonesia memiliki potensi strategis sebagai salah satu pusat kegiatan peluncuran satelit di kawasan," katanya.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, juga menilai Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.

"Termasuk tadi lokasi dari mana kita akan membangun bandar itu tidak sembarangan. Tidak di seluruh dunia itu mempunyai tempat seperti Biak. Kita punya yang biasanya kita sebut sebagai niche atau keunggulan yang tidak dipunyai oleh negara-negara lain," ujar Stella.

Ia menambahkan Indonesia juga memiliki potensi sumber daya manusia yang besar untuk membangun ekosistem industri antariksa melalui penguatan riset dan perguruan tinggi.

Perkuat Kerja Sama dengan India dan Rusia

Pengembangan bandar antariksa mendapat momentum setelah Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi menyepakati penguatan kerja sama di sektor antariksa.

Arif mengatakan BRIN baru saja menandatangani nota kesepahaman dengan otoritas antariksa India untuk memperkuat kolaborasi di bidang satelit. Selain itu, BRIN juga menerima kunjungan dari badan antariksa Rusia, Roscosmos, guna menjajaki kerja sama pengembangan teknologi antariksa.

Menurutnya, kolaborasi internasional tersebut diharapkan mempercepat pembangunan ekosistem antariksa nasional sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi luar angkasa, tetapi juga berkembang menjadi produsen teknologi dan penyedia layanan peluncuran satelit bagi negara lain.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti