Perusahaan Mulai Cari Pegawai Mahir AI, IPK Tinggi Saja Tak Cukup
Perusahaan mulai mengubah kriteria dalam mencari pegawai di tengah pesatnya adopsi akal imitasi (AI). Gelar pendidikan dan indeks prestasi kumulatif alias IPK tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan, karena perusahaan semakin mengutamakan keterampilan yang bisa dibuktikan oleh calon pekerja.
Tren itu terlihat dalam survei Job Outlook 2026 yang dirilis National Association of Colleges and Employers atau NACE. Sebanyak 70% perusahaan yang mengikuti survei telah menggunakan pendekatan berbasis keterampilan atau skills-based hiring dalam proses perekrutan.
Angka itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 65%. Selain itu, 71% perusahaan yang menerapkan pendekatan tersebut menggunakannya setidaknya dalam separuh proses perekrutan pegawai.
Skills-based hiring merupakan pendekatan perekrutan yang lebih menitikberatkan kemampuan dan kompetensi kandidat untuk menjalankan suatu pekerjaan.
Perubahan cara perusahaan merekrut pegawai berlangsung bersamaan dengan semakin luasnya penggunaan AI di dunia kerja.
LinkedIn dalam laporan Skills on the Rise 2026 mencatat permintaan terhadap keterampilan AI terus meningkat. Kebutuhan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis untuk mengembangkan teknologi itu.
Perusahaan juga semakin membutuhkan pekerja yang memahami strategi bisnis berbasis AI seiring teknologi tersebut mulai diintegrasikan ke dalam produk, layanan, dan proses bisnis.
Keterampilan yang mengalami peningkatan permintaan antara lain prompt engineering dan kemampuan terkait model bahasa besar alias large language model (LLM). Di sisi bisnis, perusahaan juga semakin membutuhkan keterampilan untuk mengintegrasikan AI ke dalam strategi perusahaan.
Dengan demikian, kemampuan menggunakan AI kini tidak hanya dibutuhkan oleh programmer, data scientist, atau pekerja di perusahaan teknologi.
Pegawai di berbagai bidang mulai dituntut memahami bagaimana AI dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan menyelesaikan pekerjaan.
AI Ubah Kriteria Pegawai Baru
Perubahan juga terjadi pada pekerjaan tingkat pemula atau entry level. Riset Strada Education Foundation yang diterbitkan pada Mei 2026 menunjukkan lebih dari 40% perusahaan menyatakan penggunaan AI telah meningkatkan tanggung jawab analitis yang diberikan kepada pegawai entry level.
Pada saat yang sama, hampir dalam jumlah yang sama, perusahaan mengatakan AI telah mengurangi pekerjaan administratif rutin.
Temuan itu menunjukkan AI tidak sekadar menggantikan sejumlah pekerjaan manusia, tetapi juga mengubah kemampuan yang diharapkan perusahaan dari pegawai baru.
Pekerja entry level semakin dituntut menangani pekerjaan yang lebih kompleks karena sebagian tugas rutin dapat dikerjakan dengan bantuan AI.
Tren serupa ditemukan dalam PwC 2026 Global AI Jobs Barometer. Laporan ini menganalisis lebih dari satu miliar iklan lowongan pekerjaan di enam benua.
PwC menemukan AI mengubah keterampilan yang dibutuhkan perusahaan dengan cepat. Pekerjaan yang paling banyak terpapar AI mengalami perubahan kebutuhan keterampilan lebih cepat dibandingkan pekerjaan yang paling sedikit terpapar teknologi itu.
Perubahan ini membuat kemampuan untuk beradaptasi dan mempelajari keterampilan baru semakin penting bagi pekerja.
Bukan Berarti Gelar dan Kemampuan Manusia Tak Penting
Meski keterampilan AI semakin banyak dibutuhkan, perusahaan tidak serta-merta mengabaikan pendidikan formal maupun kemampuan manusia.
NACE mencatat perusahaan masih mengutamakan sejumlah keterampilan utama ketika merekrut lulusan perguruan tinggi.
Keterampilan itu antara lain komunikasi, berpikir kritis, kerja sama tim, dan profesionalisme. Calon pekerja tidak cukup hanya mampu menggunakan ChatGPT atau berbagai perangkat AI lainnya.
Mereka juga harus mampu memeriksa hasil yang dibuat AI, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.
Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD juga mencatat kekurangan keterampilan menjadi salah satu hambatan perusahaan dalam mengadopsi AI.
Sekitar 40% perusahaan di sektor manufaktur dan keuangan menyebut kekurangan keterampilan sebagai hambatan utama dalam penerapan teknologi tersebut.
Temuan berbagai laporan itu menunjukkan perubahan besar dalam pasar tenaga kerja. Gelar dan IPK masih dapat menjadi pertimbangan dalam proses perekrutan, tetapi perusahaan semakin mencari bukti bahwa calon pegawai memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan.
Di tengah meluasnya penggunaan AI, persaingan mendapatkan pekerjaan pun berpotensi bergeser. Kandidat tidak hanya bersaing berdasarkan latar belakang pendidikan, tetapi juga kemampuan menggunakan AI, beradaptasi dengan teknologi baru, serta menggabungkannya dengan keterampilan manusia seperti berpikir kritis dan komunikasi.
Bagi mahasiswa dan pencari kerja, perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa IPK tinggi saja tidak lagi cukup. Kemampuan menunjukkan apa yang dapat dikerjakan, termasuk memanfaatkan AI secara efektif dan bertanggung jawab, semakin menjadi modal penting untuk memasuki dunia kerja.