Prabowo Minta Adopsi AI Dipercepat untuk Perkuat Kedaulatan Pangan dan Energi

Ade Rosman
13 Juli 2026, 12:29
Prabowo, teknologi, AI, kedaulatan pangan
Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta agar adopsi teknologi, termasuk akal imitasi (AI), dipercepat untuk memperkuat kedaulatan pangan, energi, dan transformasi digital nasional.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta agar adopsi teknologi, termasuk akal imitasi (AI), dipercepat untuk memperkuat kedaulatan pangan, energi, dan transformasi digital nasional. 

Airlangga mengatakan langkah tersebut menjadi strategi pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi dinamika geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.

Hal itu disampaikan Airlangga saat memberikan keynote speech pada acara Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast dengan tema ‘Beyond Uncertainty: Building Indonesia's Next Economy’ di Jakarta, Jumat (10/7).

“Ke depan berarti juga akan banyak tantangan dalam rantai pasok serta lapangan kerja. Namun, di bawah arahan Presiden Prabowo, saya pikir adopsi teknologi selaras dengan fokus kemandirian sumber daya Indonesia dalam memajukan kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan sejalan dengan roadmap transformasi digital yang jelas,” kata Airlangga.

Airlangga menilai, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi digital berbasis AI. Menurutnya, hal itu bisa diwujudkan dengan memanfaatkan dukungan dari sumber daya mineral strategis, bonus demografi yang melek teknologi, serta pembangunan ekosistem industri digital. Ia menilai hal itu sebagai fondasi kuat untuk Indonesia mengembangkan industri semikonduktor, AI, dan pusat data.

Perkuat Konektivitas Digital

Airlangga mengutip data KORIKA yang menyebut Indonesia merupakan pasar AI potensial terbesar keempat di Asia setelah Tiongkok, India, dan Jepang, dengan nilai pasar mencapai sekitar US$ 70 miliar atau 6,4% dari total potensi pasar AI regional.

Ia menuturkan, untuk mendukung pengembangan AI, pemerintah tengah mempercepat pembangunan infrastruktur digital. Saat ini, kata Airlangga, Indonesia memiliki 182 data center yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terbesar berada di Jakarta dan Batam.

Selain itu, Airlangga mengatakan, Indonesia juga terus memperkuat konektivitas digital melalui pengembangan jaringan kabel serat optik internasional.

“Dari fiber optic itu kita punya landing point ke regional countries, seperti dengan Singapura itu akan ada peresmian juga kerja sama landing point yang poin ke-3 atau ke-4 di Batam dan Singapura. Di samping itu, kita juga punya landing point di Bitung untuk ke Amerika, jadi itu sangat potensial untuk pengembangan data center,” kata dia.

Airlangga mengatakan, percepatan adopsi AI harus didukung pula oleh pasokan energi yang andal dan berkelanjutan. Karena itu, pemerintah menargetkan pembangunan kapasitas energi surya hingga 100 gigawatt dalam beberapa dekade mendatang sebagai bagian dari penguatan bauran energi terbarukan nasional.

Ia juga menyebut di sisi lain, pemerintah pun tengah memperkuat industri semikonduktor dalam negeri. 

Pemerintah menargetkan Indonesia dapat membangun kemampuan desain cip serta perakitan, pengujian, dan pengemasan atau assembly, testing, and packaging (ATP) untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus memperkuat daya saing nasional.

Di sisi lain, Airlangga memastikan pemerintah juga tetap membuka peluang investasi seluas-luasnya di tengah ketidakpastian global. Hal itu dilakukan dengan upaya mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian ekonomi internasional, termasuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), proses aksesi OECD, serta aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).

Pada kesempatan yang sama, Airlangga mengajak para duta besar negara sahabat untuk turut mengawal realisasi investasi dari berbagai nota kesepahaman (MoU) yang dihasilkan dalam kunjungan Presiden Prabowo ke sejumlah negara.

“Tadi saya sampaikan kepada para Duta Besar bahwa ada beberapa MoU yang dihasilkan dalam kunjungan Bapak Presiden Prabowo sehingga kami berharap mereka juga ikut membantu Indonesia untuk mengawal realisasi daripada investasi,” kata Airlangga. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...