AI Factory Butuh Rp 895 Triliun, Mampukah Indonesia Jadi Hub AI ASEAN?

Dok. Indosat
Pemerintah menyambut baik pembangunan AI Factory yang akan dibangun di Batang, Jawa Tengah dan menjadi yang terbesar di ASEAN. Proyek AI Factory ini merupakan kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA bernama Zankore by Indosat.
Penulis: Rahayu Subekti
7/8/2026, 19.58 WIB

Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyampaikan bahwa persaingan teknologi global tidak lagi bertumpu pada infrastruktur semata, tetapi juga pada penguasaan talenta dan kemampuan inovasi. Kondisi ini menuntut Indonesia untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia.

“Talenta digital menjadi faktor penentu. Dengan kemampuan manusia yang kuat, kita bisa mengatasi keterbatasan infrastruktur dan meningkatkan daya saing,” kata Nezar.

Sementara itu, Indonesia masih memiliki tantangan dalam memperkuat posisi pada rantai pasok teknologi global. Menurutnya, penguatan talenta digital menjadi kunci untuk meningkatkan kapasitas nasional dalam menghadapi perubahan tersebut.

Kedua, pasokan energi. Infrastruktur AI berkapasitas 1 GW membutuhkan kebutuhan listrik yang sangat besar sehingga keberlanjutan pasokan energi menjadi faktor penting dalam operasional AI Factory.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pasokan energi menjadi faktor utama yang menentukan kemampuan Indonesia mengembangkan AI. Namun, ia menilai keunggulan sumber daya energi dan letak geografis Indonesia dapat menjadi modal untuk menjadikan Tanah Air sebagai pusat infrastruktur digital di kawasan ASEAN.

Airlangga mengatakan perkembangan AI, komputasi kuantum, dan ekonomi digital tidak hanya bergantung pada infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga pada ketersediaan energi yang memadai. "Quantum computing dan AI tidak bisa didirikan tanpa tanah, tanpa air, dan tanpa energi," kata Airlangga dalam acara Digital Transformation Indonesia Conference & Expo 2026 di Jakarta, Rabu (5/8).

Ia menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan karena mempunyai beragam sumber energi domestik, mulai dari batu bara, tenaga air, panas bumi, hingga energi surya. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi matahari melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya yang didukung hilirisasi silika sebagai bahan baku panel surya.

Menurut Airlangga, pemerintah menargetkan pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW). Salah satu skemanya ialah memanfaatkan lahan di sekitar 80 ribu desa untuk pembangunan pembangkit skala kecil yang terhubung melalui jaringan listrik pintar atau smart grid.

Ia menilai pembangunan smart grid dan interkoneksi listrik antarpulau menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Selama ini Indonesia telah berhasil membangun konektivitas digital melalui jaringan serat optik bawah laut, namun jaringan listrik nasional dinilai belum terintegrasi dengan baik.

"Kalau kita bisa meng-connect digital melalui fiber optik, masa energi tidak bisa terhubung antarpulau," ujarnya.

Ia menyebut konektivitas digital Indonesia sudah relatif lengkap. Selain memiliki beberapa titik pendaratan kabel bawah laut internasional, Indonesia juga telah menghubungkan banyak wilayah melalui jaringan fiber optik dan memanfaatkan satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) untuk melayani daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Keempat, kepastian regulasi. Pemerintah juga perlu memastikan tata kelola AI, perlindungan data, keamanan siber, dan iklim investasi tetap kondusif agar investasi besar tersebut mampu menarik lebih banyak pelaku industri global.

Peta Jalan AI Nasional

Saat ini pemerintah masih menggodok Peta Jalan Artificial Intelligence (AI) Nasional dan Etika AI yang kini memasuki tahap akhir penyusunan. Regulasi tersebut akan menjadi landasan pengembangan AI di Indonesia sekaligus mengatur prinsip-prinsip tata kelola untuk meminimalkan risiko penggunaan teknologi tersebut.

“Sekarang sedang dalam pembahasan dalam tahap akhir. Mohon doanya juga dari kawan-kawan sekalian,” kata Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Angga Raka Prabowo dalam siaran langsung konferensi pers secara daring dari Cina usai Indonesia menjadi salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), Jumat (17/7).

Namun, Kementerian Komdigi sudah mengungkapkan beberapa yang akan diatur dalam Perpres tersebut. Wamen Nezar menjelaskan regulasi Perpres Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI dirancang tidak hanya untuk mendorong inovasi, tetapi juga memastikan AI berkembang secara aman, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Nezar mengatakan pilar pertama yang disiapkan pemerintah adalah Human-Centered AI atau AI yang berpusat pada manusia. “Prinsip ini menegaskan bahwa AI harus memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya," kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, dikutip Jumat (7/8).

Ia menyebut pemerintah akan memastikan setiap keputusan yang berdampak besar tetap berada dalam pengawasan manusia. Dengan adanya aturan penggunaan AI, nantinya setiap algoritma yang memengaruhi publik dapat dijelaskan dan diaudit. Selain itu, pengembangan AI akan memperhatikan konteks sosial dan budaya Indonesia.

Selanjutnya, pilar kedua adalah penerapan tata kelola berbasis risiko. Dalam pendekatan ini, Nezar mengatakan sistem AI yang memiliki tingkat risiko tinggi akan diwajibkan menjalani penilaian risiko sejak tahap perancangan.

Pemerintah juga akan menerapkan kewajiban transparansi yang mencakup:

  • Pengungkapan model AI
  • Pemberitahuan kepada pengguna
  • Label konten yang dihasilkan AI

Lonjakan Pembangunan Infrastruktur Data

Rencana pembangunan AI Factory berkapasitas 1 gigawatt (GW) juga muncul ketika industri pusat data nasional sedang mengalami pertumbuhan pesat. Data Asosiasi Industri Pusat Data Indonesia (IDPRO) berjudul A Decade of Building Trust, Powering Indonsias’s Digital Future menunjukkan kapasitas data center Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun terakhir.

Berikut pertumbuhan data center Indonesia menurut IDPRO:

  • 2024: 288,99 MW
  • 2025: 559,14 MW
  • 2026: 637,24 MW

Artinya, dalam kurun dua tahun kapasitas pusat data nasional bertambah sekitar 348 MW, mencerminkan derasnya investasi infrastruktur digital di Indonesia.

IDPRO juga mencatat bahwa kapasitas yang telah beroperasi saat ini bukanlah akhir dari ekspansi industri. Indonesia masih memiliki pipeline pembangunan data center sekitar 1,65 GW yang terdiri atas proyek hyperscale maupun colocation.

Menurut analisis IDPRO, terdapat sedikitnya enam faktor yang membuat Indonesia semakin menarik sebagai tujuan investasi  pusat data dan AI, yaitu:

  • Ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang terus tumbuh.
  • Kebijakan lokalisasi data sehingga kebutuhan pusat data di dalam negeri meningkat.
  • Migrasi cloud oleh perusahaan dan sektor publik.
  • Gelombang investasi infrastruktur AI yang meningkatkan kebutuhan komputasi.
  • Konektivitas kabel bawah laut yang terus berkembang.
  • Bonus demografi dengan populasi lebih dari 270 juta penduduk yang mendorong konsumsi layanan digital.

Ambisi Indonesia juga hadir di tengah meningkatnya persaingan negara-negara Asia Tenggara dalam menarik investasi AI. Singapura masih menjadi pusat data terbesar di kawasan meski menghadapi keterbatasan lahan dan energi. Malaysia dalam beberapa tahun terakhir berhasil menarik investasi pusat data dan AI dari sejumlah perusahaan teknologi global.

Singapura dan Malaysia mempercepat pembangunan koridor digital Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ). Koridor ini menggabungkan keunggulan Singapura sebagai pusat konektivitas dan layanan digital, dengan ketersediaan lahan, listrik, dan kapasitas pembangunan di Johor, sehingga semakin menarik bagi investor hyperscale dan penyedia layanan AI.

Merujuk pada laporan TeleGeography, Singapura memiliki jaringan kabel bawah laut internasional yang sangat padat dan terhubung langsung ke berbagai pusat data global di Asia, Amerika, dan Eropa.

Sementara Malaysia, khususnya Johor, menjadi lokasi pembangunan kapasitas komputasi berskala besar. Malaysia menyetujui sekitar RM 114,7 miliar investasi data center pada periode 2021–2023, termasuk Microsoft US$ 2,2 miliar, Google US$ 2 miliar, dan Oracle US$ 6,5 miliar.

Halaman:
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti