Cina Ajak Indonesia dan Negara BRICS Bangun Kekuatan AI, Tak Hanya Jadi Pasar
Cina mendorong negara-negara BRICS membangun kekuatan teknologi kecerdasan buatan (AI) bersama. Presiden Cina Xi Jinping menawarkan kerja sama mulai dari pengembangan model bahasa besar (LLM), sumber terbuka AI , hingga infrastruktur cloud untuk membentuk ekosistem digital BRICS.
BRICS adalah organisasi antarpemerintah dan blok geopolitik serta ekonomi yang terdiri dari 11 negara anggota, di antaranya Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Indonesia
Mengutip CNBC Internasional, Xi mengatakan Cina akan memelopori pembentukan komunitas open-source AI BRICS. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi negara-negara anggota dalam pengembangan dan penerapan teknologi AI.
Usulan tersebut disampaikan Xi dalam KTT BRICS di New Delhi dan dikutip dari pernyataan Kementerian Luar Negeri Cina pada Minggu (13/9).
Cina juga akan mendukung kerja sama dalam pengembangan dan penerapan LLM serta menggelar seminar dan pelatihan AI bagi negara-negara BRICS. Menurut Xi, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem AI yang terbuka.
Tak berhenti pada pengembangan model AI, Cina juga menawarkan pembangunan platform cloud untuk ekosistem digital BRICS. Kerja sama tersebut akan mencakup pelatihan keterampilan digital, pertukaran teknologi, hingga penyelarasan industri.
Xi turut mengusulkan pembentukan aliansi pengembangan insinyur BRICS serta program pertukaran pemuda untuk inovasi sains dan teknologi.
Dengan berbagai usulan tersebut, agenda yang dibawa Cina ke BRICS mencakup rantai ekosistem AI secara lebih luas, mulai dari pengembangan teknologi, infrastruktur digital, hingga sumber daya manusia.
Langkah Cina tersebut datang di tengah persaingan AI global yang semakin ketat. Perusahaan-perusahaan teknologi dunia berlomba mengembangkan model AI dengan kemampuan yang semakin canggih.
AI juga telah menjadi salah satu arena persaingan teknologi antara Cina dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat. Di tengah persaingan tersebut, pengembangan ekosistem AI bersama di BRICS dapat memperkuat kapasitas negara-negara berkembang agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan negara maju.
Meski demikian, Xi tidak secara langsung menyebut agenda tersebut sebagai upaya untuk menandingi Amerika Serikat maupun ekosistem teknologi Barat.
Ia juga tidak menyinggung perdebatan mengenai risiko dan keamanan AI yang tengah mengemuka. Pada pekan ini, seorang peneliti yang pernah bekerja di OpenAI dan Anthropic menyatakan bahwa sejumlah pelaku industri menilai AI memiliki potensi menimbulkan risiko ekstrem, termasuk kemungkinan memusnahkan umat manusia sebelum akhir dekade ini.
BRICS didirikan pada 2009 sebagai kelompok yang antara lain dimaksudkan menjadi penyeimbang terhadap dominasi negara-negara Barat. Kelompok tersebut awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Keanggotaan BRICS kemudian meluas dengan bergabungnya Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.