Stella Christie: Indonesia Punya Modal Besar untuk Masuk ke Ekosistem AI

Katadata/Fauza Syahputra
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat menjadi faktor yang menentukan posisi strategis Indonesia.
Penulis: Reihan Cahya
21/9/2026, 14.50 WIB

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat menjadi faktor yang menentukan posisi strategis Indonesia. Perkembangan tersebut mencakup penguasaan data, energi, infrastruktur, talenta, hingga kemampuan manusia memahami konteks.

"Indonesia punya peluang besar, kita punya infrastruktur, kebijakan, dan talenta. Indonesia memiliki energi terbarukan yang luar biasa besar. Kita bisa menang dan maju kalau kita memikirkannya bersama," kata Stella, dikutip dari Antara, Senin (21/9). 

Menurut Stella, perkembangan AI dapat menghasilkan perubahan besar karena kemampuannya berkembang secara eksponensial. Karena itu, perkembangan AI tidak cukup dilihat dari kemampuan teknologinya, tetapi juga dari perubahan yang ditimbulkan terhadap cara manusia bekerja, mengambil keputusan, dan membangun kepercayaan.

Ia mengatakan Indonesia perlu menentukan ruang yang dapat dikembangkan berdasarkan kekuatan nasional. Menurutnya, ekosistem AI bertumpu pada tiga komponen utama, yakni computing power, data, dan algoritma.

Dari sisi data, Stella menilai Indonesia memiliki modal yang besar karena jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta orang menghasilkan sumber data yang luas. Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan dan perlindungan data yang lebih baik di tingkat negara, institusi, perusahaan, maupun individu.

"Potensi tersebut perlu diiringi dengan pengelolaan dan perlindungan data yang lebih baik, baik pada tingkat negara, institusi, perusahaan, maupun individu," ujarnya.

Pembangunan Pusat Data

Selain data, Indonesia juga memiliki peluang untuk mengembangkan computing power melalui pembangunan pusat data atau data center. Kebutuhan terhadap pusat data diperkirakan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan AI.

Namun, pembangunan pusat data membutuhkan dukungan teknologi, kebijakan, pembiayaan, infrastruktur, dan talenta. Stella juga menyoroti potensi energi terbarukan Indonesia. Menurutnya, ketersediaan energi dapat menjadi salah satu faktor yang menentukan posisi Indonesia dalam perkembangan ekosistem AI.

"Kalau kita bisa menjadi supplier, maka kita punya posisi. Kita tidak hanya dikontrol oleh orang lain, tetapi kita punya sovereignty," katanya.
Di sisi lain, Stella mengingatkan perkembangan AI juga membawa tantangan terhadap kepercayaan dan hubungan manusia dengan teknologi.

Pakar psikologi kognitif tersebut mengatakan kemampuan AI dalam menghasilkan informasi dan mengambil keputusan membuat manusia perlu memahami bagaimana konteks, nilai, preferensi, dan konsekuensi dipertimbangkan dalam penggunaan teknologi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara