Bos OpenAI dan Anthropic Desak PBB Terapkan Standar Internasional untuk AI

Youtube UN/C-SPAN
Sam Altman, CEO OpenAI, mendesak Dewan Keamanan PBB menetapkan standar global untuk mengantisipasi risiko AI.
24/9/2026, 11.03 WIB

CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Anthropic Dario Amodei mendesak para pemimpin dunia untuk membangun standar dan kerja sama internasional guna menghadapi risiko yang muncul dari perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat.

Menurut laporan CNN Business, desakan tersebut disampaikan OpenAI dan Anthropic secara terpisah di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Rabu (23/9).

Altman mendesak negara-negara untuk membuat standar internasional yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan AI, menilai risiko, menentukan apakah perlindungan yang tersedia sudah memadai, serta memastikan adanya pengawasan manusia yang bermakna terhadap teknologi tersebut.

“Dunia dapat belajar dari kegagalan sebelum kegagalan tersebut berubah menjadi bencana,” katanya.

Selain itu, dia mengusulkan adanya saluran komunikasi yang aman untuk memungkinkan pemerintah berbagai negara bertukar informasi mengenai ancaman yang muncul dari perkembangan AI. 

Altman juga menekankan keputusan-keputusan penting terkait AI perlu dibuat melalui lembaga demokratis dan pemerintah yang bertanggung jawab kepada masyarakat.

Skema Kerja Sama Internasional untuk Antisipasi Risiko AI 

Sementara itu, Amodei mengusulkan tiga bentuk kerja sama internasional untuk mengantisipasi risiko AI.

Pertama, kesepakatan global yang bersifat terbatas, seperti larangan penggunaan AI untuk membuat senjata biologis. Kedua, sistem evaluasi dan verifikasi yang memungkinkan negara-negara memeriksa komitmen satu sama lain.

Ketiga, Amodei mendorong adanya standar global bersama untuk menguji AI yang dilengkapi dengan sistem pemberitahuan mengenai insiden keamanan AI.

“Saya percaya ini merupakan isu keamanan global paling penting yang dihadapi dunia saat ini. Di tengah segala perbedaan yang dimiliki orang-orang di ruangan ini, kita harus mengesampingkan perbedaan tersebut untuk menghadapi peluang global sekaligus ancaman global yang muncul pada saat yang bersamaan,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah