CEO TikTok Ungkap Risiko Besar Agen AI yang Sering Diabaikan Pengguna

Katadata/Desy Setyowati
CEO TikTok Shou Chew
Penulis: Desy Setyowati
13/10/2026, 06.45 WIB

CEO TikTok Shou Chew menyoroti risiko keamanan siber dari penggunaan agen AI. Menurut dia, pengguna berpotensi memberikan izin kepada agen AI untuk melakukan berbagai tindakan tanpa benar-benar memahami cakupan akses yang diberikan.

Shou mengatakan, perkembangan agen AI membuka peluang bagi teknologi tersebut untuk menjalankan semakin banyak tugas secara mandiri. Namun, kemampuan itu juga memunculkan risiko yang perlu dipahami oleh pengguna maupun perusahaan.

“Saya pikir risiko keamanan sibernya cukup besar. Banyak pengguna mungkin memberikan izin kepada agen untuk melakukan banyak hal bagi mereka tanpa benar-benar memahami jenis izin yang sebenarnya telah mereka berikan,” kata Shou dalam acara DBS Asia Future Forward 2026 di Singapura, Senin (12/10).

Bos TikTok itu menilai, pemahaman mengenai izin akses menjadi penting seiring meningkatnya kemampuan agen AI untuk melakukan berbagai tugas atas nama pengguna.

“Kita, seperti banyak orang lainnya, tentu menyadari risiko-risiko baru yang mungkin ditimbulkannya (AI). Tetapi di satu sisi, kita sangat antusiasi melihat seberapa besar peningkatan produktivitas yang dihasilkan (lewat penggunaan agen AI),” Shou menambahkan.

Shou menjelaskan bahwa perkembangan akal imitasi dalam jangka panjang mengarah pada penggunaan agen AI yang semakin mandiri. Perusahaan teknologi akan membangun infrastruktur agar agen dapat menjalankan lebih banyak tugas, sekaligus mengembangkan kepercayaan dan mekanisme pengamanan atau guardrails.

Menurut dia, seiring kemajuan teknologi, manusia kemungkinan akan memberikan lebih banyak keleluasaan kepada agen AI untuk bekerja secara otonom. “Saya rasa, inilah trennya,” ujar Shou.

Namun, dalam jangka pendek, Shou menekankan pentingnya memahami kemampuan dan keterbatasan teknologi sebelum menggunakannya.

Ia mendorong karyawan TikTok untuk mencoba langsung model dan produk AI yang tersedia di pasar. Dengan pengalaman ini, mereka dapat memahami kemampuan teknologi sekaligus mengetahui batasan yang perlu diperhatikan.

Shou mencontohkan OpenClaw sebagai salah satu teknologi yang dapat dicoba untuk memahami perkembangan AI. Meski mendorong eksperimen, ia mengingatkan agar pengguna memahami aspek keamanan sebelum menggunakannya.

“Cobalah sendiri agar Anda memahami apa yang menjadi perhatian banyak orang. Anda akan memahami batasan teknologi ini,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.