Indonesia Kejar Industri Semikonduktor lewat Hilirisasi Mineral Kritis

Vecteezy.com/Siraphol Siricharattakul
Ilustrasi cip atau semikonduktor untuk komputasi AI.
Penulis: Leoni Susanto
Editor: Ahmad Islamy
23/10/2026, 08.53 WIB

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut upaya menopang pemerataan ekosistem kecerdasan buatan (AI) tidak cukup hanya dengan membangun pusat data, tetapi juga soal kapasitas nasional menguasai teknologi dari hulu. Teknologi di hulu ini termasuk industri semikonduktor hingga kapasitas komputasi.

Menurut Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, penguasaan teknologi di hulu ini penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI. “Kita harus mengamankan sejumlah choke point dari rantai pasok global untuk memperkuat industri AI,” kata Nezar dalam acara Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, dikutip Kamis (22/10).

Kapasitas komputasi dinilai jadi salah satu fondasi dalam persaingan teknologi global dewasa ini. Menurut Nezar, pengembangan kapasitas ini harus beriringan dengan pasokan energi yang memadai, konektivitas, pusat data, komputasi awan (cloud), dan industri semikonduktor.

“Di era AI, komputasi punya posisi seperti listrik bagi ekonomi digital. Jadi, listriknya ekonomi digital itu compute power,” ujar Nezar.

Di bidang semikonduktor, Nezar menyoroti pentingnya menguasai industri ini sebagai teknologi dari hulu. Ia menyebut Indonesia selama ini masih menjadi pemasok bahan mentah mineral. Padahal, ia menilai Indonesia memiliki potensi mineral kritis yang dapat diolah menjadi komponen bernilai tambah industri semikonduktor.

“Kita punya nikel, bauksit, timah, emas, kita punya sejumlah logam tanah jarang yang sebetulnya sedang diburu di tingkat global untuk memperkuat industri semikonduktor,” kata Nezar.

Di samping itu, pemerintah menyebut masih perlu memperkuat perencanaan tata kelola pembangunan pusat data agar dapat berdampak pada ekonomi digital Indonesia. Untuk diketahui, saat ini kapasitas pusat data dalam negeri diestimasi masih sekitar 580 megawatt. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang memiliki kapasitas sekitar tiga gigawatt.

Sebagai acuan pembangunan AI dari hulu ke hilir ini, pemerintah sedang menyiapkan peta jalan nasional AI hingga 2029. Peta jalan ini tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga aspek akuntabilitas, transparansi, keamanan, panduan etika, kolaborasi, sampai penelitian dan pengembangan AI. 

Penguasaan Industri Semikonduktor Tak Mudah

Komdigi beberapa kali menyebut pentingnya hilirisasi mineral kritis agar Indonesia bisa menjadi pemain rantai pasok industri semikonduktor dan memperkuat posisi sebagai pemain global AI. Namun, langkah ini dinilai tidak mudah.

Group Head of Telecommunications, Media and Technology Institutional Banking Group DBS, Amit Sinha menyebutkan, membangun industri semikonduktor tidak cukup hanya bertumpu pada ketersediaan bahan baku mineral. Dan tidak semua mineral yang dimiliki Indonesia dapat digunakan secara langsung untuk kebutuhan AI. 

Soal potensi mineral silika Indonesia untuk menembus industri cip misalnya. Amit menyebut bahwa silikon hanya merupakan salah satu komponen dalam rantai produksi semikonduktor. Industri ini memerlukan "wafer", yang adalah lempengan tipis berbentuk cakram dari bahan semikonduktor seperti silikon murni, berfungsi sebagai substrat atau fondasi utama tempat cip diukir.

“Jadi Indonesia harus memperoleh silika, memprosesnya, dan kemudian membangun fasilitas produksi wafer,” kata Amit dalam acara media briefing di Singapura, Selasa (13/10).

Tidak hanya itu, pembangunan industri semikonduktor juga memerlukan belanja modal yang besar dan kemampuan manufaktur yang kuat. Saat ini, sejumlah negara yang telah membangun industri semikonduktor dalam skala besar seperti Singapura, Taiwan, Cina, Korea Selatan, dan Jepang.

Amit mengungkapkan, beberapa tahun lalu, India juga mulai mengembangkan industri semikonduktor. Hal itu dimulai dari membangun fasilitas fabrikasi, pengujian, dan perakitan cip. Karena kebutuhan modal yang tinggi, pembangunan industri itu sampai melibatkan perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kemampuan manufaktur dan dukungan modal.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Leoni Susanto