Perusahaan teknologi AS Oracle Corporation membatalkan perjanjian sewa atau leasing cip kecerdasan buatan (AI) dengan perusahaan Cina Tencent menyusul tekanan regulasi AS. Perjanjian ini mencakup pasokan sekitar 100.000 cip AI untuk Tencent setara US$ 7 miliar atau Rp 127 triliun (kurs Rp 18.142 per US$) selama lima tahun ke depan.

Sebelumnya, perjanjian antara Oracle dan Tencent ini diteken pada Oktober 2026. Pada kontrak, Tencent dapat menyewa kapasitas komputasi Oracle yang didukung 100.000 cip AI canggih yang berada di pusat data Asia Tenggara.

Namun, dua narasumber yang diwawancarai The Financial Times melaporkan bahwa Oracle melakukan terminasi perjanjian pada Rabu (4/11) setelah pemerintahan Presiden Donald Trump melakukan intervensi dan menyampaikan kekhawatiran terkait perjanjian kedua perusahaan. Padahal, perjanjian Oracle dengan Tencent ini melibatkan penyewaan pusat data di luar area Cina. 

Intervensi ini menandakan bahwa pada perkembangannya, upaya AS membatasi akses teknologi AI negaranya tidak lagi sekedar lewat pembatasan ekspor semikonduktor ke Cina, tetapi juga lewat pembatasan kapasitas komputasi yang ada pada infrastruktur di luar Cina. Dan pembatasan ini berpotensi memiliki implikasi terhadap penyedia layanan awan (cloud) AI canggih lainnya yang digunakan pelanggan dari Cina.

Untuk diketahui, AS memang melakukan pembatasan ketat pasokan teknologi semikonduktor, termasuk cip canggih, untuk perusahaan Cina. Hal ini disebut untuk mempertahankan kelebihan teknologi AI AS.

Di sisi lain, pasca penandatanganan perjanjian dengan Oracle, Tencent juga didatangi pihak berwajib Guangdong, Cina. Pihak otoritas Cina menanyai Tencent seputar perjanjian yang dilakukan dengan Oracle, serta meminta perusahaan untuk mendukung cip domestik. Upaya ini juga menunjukkan bagaimana Cina berupaya untuk memperkuat industri semikonduktor domestiknya dan mengurangi ketergantungan pada teknologi luar negeri.

Upaya itu juga menunjukkan bagaimana Tiongkok berupaya memperkuat industri semikonduktor domestiknya dan mengurangi ketergantungan pada teknologi luar negeri.

Tencent merupakan perusahaan yang mengoperasikan mayoritas layanan internet, gim, hingga layanan bisnis digital di Cina dan Asia Tenggara. Dengan luasnya layanan Tencent, perusahaan membutuhkan kapasitas komputasi untuk mengembangkan dan menjalankan aplikasi AI. Pembatalan perjanjian antara Oracle dengan Tencent ini dapat berdampak pada rencana Tencent untuk mengamankan kebutuhan komputasi tambahan lewat penyedia layanan

Pembatalan perjanjian antara Oracle dengan Tencent ini dapat berdampak pada rencana Tencent untuk mengamankan kebutuhan komputasi tambahan melalui penyedia layanan cloud internasional.

Nasib Kerja Sama Perusahaan Teknologi AS-Cina Lainnya

Sebelumnya, raksasa teknologi Nvidia menyampaikan bahwa sekarang perusahaan akan menjual minimal 51% komputasi cloud-nya untuk perusahaan di luar Cina. Aturan yang membatasi proporsi kapasitas komputasi Nvidia yang sebelumnya dialokasikan untuk pelanggan Cina ini disebut hanya akan mempengaruhi kontrak-kontrak di masa mendatang. Sementara itu, perjanjian sewa yang sudah diteken tidak akan terdampak.

Aturan yang membatasi proporsi kapasitas komputasi Nvidia yang sebelumnya dialokasikan untuk pelanggan Cina ini disebut hanya akan mempengaruhi kontrak-kontrak di masa mendatang. Sementara itu, perjanjian sewa yang sudah diteken tidak akan terdampak.

Untuk diketahui, selama bertahun-tahun, AS membatasi penjualan cip AI canggih Nvidia ke Cina dengan alasan keamanan nasional. AS bahkan berupaya membongkar jaringan penyelundupan teknologi semikonduktor itu ke Cina.

Sedangkan perusahaan Cina seperti ByteDance dan Alibaba yang juga melakukan perjanjian sewa cip dengan perusahaan infrastruktur komputasi AS, masih melanjutkan kerja samanya meski pengawasan regulasi di AS kian meningkat.

The Financial Times melaporkan, Oracle tetap merupakan pemasok penting layanan komputasi ByteDance di Asia, lewat pengoperasian sejumlah pusat data di Malaysia.

Masa depan perjanjian kerja sama antara AS dan Cina ini bergantung pada bagaimana perkembangan pembatasan pihak AS, termasuk apakah akan ada pembatasan tambahan yang diberlakukan pada layanan komputasi AI di luar wilayah Cina.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Leoni Susanto