Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi Riau kian membaik dibandingkan dengan beberapa pekan sebelumnya.
Pada 12 Februari silam, BMKG mencatat 279 titik panas atau hotspot di provinsi tersebut. “Sangat membaik dibandingkan beberapa minggu lalu. Tapi tidak boleh lengah sama sekali, kami masih Siaga satu,” kata Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, kepada Katadata, pada Selasa (24/2).
Ferdian menjelaskan, baik sarana prasarana maupun sumber daya manusia Manggala Agni tetap disiapkan untuk mobilisasi. Pihaknya turut memantau laporan dan deteksi hotspot sebagai indikasi kejadian kebakaran, untuk kemudian memastikan langsung ke lapangan.
Di samping itu, patroli pencegahan dilakukan untuk mengantisipasi adanya upaya pembakaran lahan secara sengaja. “Mengingat kondisi juga naik turun di lapangan, tidak hujan dua sampai tiga hari saja bisa dipakai untuk membakar (lahan),” ucap dia.
Sebelumnya, temuan di lapangan mengungkap indikasi pembakaran lahan secara sengaja untuk keperluan perkebunan, pertanian, hingga perumahan. Angin kencang membuat api kian melebar tak terkendali.
Pasalnya, pembakaran dilakukan di area penggunaan lain (APL), hutan produksi, hingga merembet ke hutan lindung.
Saat ini, petugas meluncur ke tiga lokasi pemadaman terakhir, yaitu Desa Rimbo Panjang di Kabupaten Kampar, Kelurahan Bagan Keladi di Kota Dumai, dan Desa Sepahat di Kabupaten Bengkalis.
Pemadaman di Desa Rimbo Panjang tercatat memasuki hari ke-12, dengan total luas penanganan karhutla mencapai 19,75 hektare,
“Sudah tinggal mopping up akhir,” kata Ferdian.
Sementara untuk Kelurahan Bagan Keladi dan Desa Sepahat baru memasuki pemadaman hari pertama, dengan estimasi luas karhutla masing-masing 2 hektare dan 1 hektare.
Ferdian menjelaskan, upaya pemadaman di darat didukung dengan operasi modifikasi cuaca (OMC). Modifikasi cuaca diperlukan untuk menjaga kelembapan gambut, serta meningkatkan tinggi muka air tanah, sehingga membantu ketersediaan air di embung dan parit untuk pemadaman.
Ke depan, upaya pencegahan terus dilakukan dengan patroli deteksi dini, pendekatan ke masyarakat, serta bantuan dari tim penegakan hukum untuk mencegah risiko bencana berulang.
Hal ini turut menjadi respons atas prediksi BMKG mengenai potensi El Nino di semester II 2026, yang perlu diwaspadai akan menimbulkan karhutla.