Tanah Adem, Pikiran Petani Pun Tenang

Katadata/Ahmad Islamy Jamil
Lilik Sri Haryanto (kanan), saat memberikan pemaparan terkait praktik regenerative agriculture dalam sistem pertanian di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2026).
Penulis: Ahmad Islamy
6/5/2026, 21.14 WIB

Siang itu, matahari terasa menyengat kulit di tengah hamparan sawah di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Beberapa lahan tampak terairi layaknya sawah-sawah kebanyakan. Sementara sebagian lahan lagi justru tak tergenangi air, meski tanamannya tetap tumbuh menghijau.

Di ujung pematang, seorang pria paruh baya duduk sambil memperagakan beberapa sampel tanah dari lahan sawah di desanya kepada rombongan jurnalis yang datang dari Jakarta. Dengan senyum penuh antusias, ia menjelaskan mengapa tanah itu begitu penting bagi dirinya dan masyarakat sekitar. Bagi Lilik Sri Haryanto, nama pria itu, tanah bukan sekadar media tanam, melainkan ruang hidup yang menentukan masa depan pertanian.

Di bawah program binaan PT Tirta Investama Klaten atau Aqua Klaten, Lilik tampil sebagai salah satu local champion yang menerapkan sistem regenerative agriculture (reg agri) atau pertanian regeneratif. Sistem ini menekankan pemulihan kesuburan tanah, pengelolaan air yang efisien, serta pengurangan ketergantungan pada bahan kimia sintetis.

"Jadi dengan sistem reg agri ini, ini tanah kita itu akan menjadi lebih subur. Jika tanah itu subur maka tanamanya pun juga akan subur. Dan ini berkaitan dengan bagaimana kita menjaga kualitas air itu sendiri," ujarnya saat ditemui wartawan di Desa Karanglo, Selasa (6/5/2026). 

Istilah local champion atau "pemimpin lokal" sendiri merujuk pada inisiatif yang didukung Aqua untuk mengenali dan membina para pemimpin lokal lewat program CSR, serta mendorong upaya konservasi berbasis komunitas, khususnya di sekitar sumber daya air. Upaya-upaya tersebut berfokus pada pemberdayaan para pemimpin lokal untuk mengelola pembangunan yang berkelanjutan di desa mereka masing-masing.

Lilik mengungkapkan, salah satu perubahan utama yang dirasakan petani lewat program ini adalah meningkatnya kemampuan tanah dalam menyimpan air. Dengan penambahan bahan organik, struktur tanah menjadi lebih gembur dan berfungsi ibarat "spons" yang menyerap air.

Kondisi ini membuat tanah tetap lembap lebih lama, bahkan di masa-masa periode kering. Di bawah permukaan, kelembapan tersebut masih terjaga, membantu tanaman bertahan dari tekanan cuaca ekstrem.

"Dengan penambahan bahan organik itu, di dalam tanah, maka tanah itu seperti spons, yang dia itu bisa menyimpan air," kata Lilik.

Kemampuan menyimpan air ini menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim, ketika pola hujan tidak menentu dan risiko kekeringan meningkat.

Pendekatan pertanian regeneratif juga mengubah cara pandang petani terhadap tanah. Tanah tidak lagi dilihat sekadar media tanam, melainkan ekosistem hidup yang dihuni berbagai mikroorganisme.

Organisme ini, kata Lilik, berperan penting dalam mengurai nutrisi dan menjaga keseimbangan lingkungan tanah. Ketika penggunaan pestisida kimia dikurangi, keberadaan mikroorganisme menjadi lebih terjaga.

"Kalau kita lihat tanah itu, sawah itu, itu tidak cuma sekadar tanah. Tapi di situ adalah sebuah proses kehidupan," tuturnya.

Dalam praktiknya, kelompok tani setempat mulai mengembangkan pupuk dan pengendali hama berbasis bahan alami. Salah satunya adalah pupuk cair berbahan dasar air kelapa dan pisang. Pendekatan ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis yang selama ini umum digunakan.

Lilik menjelaskan, pupuk kimia seperti urea tidak langsung dapat diserap tanaman tanpa melalui proses tertentu di dalam tanah. Peran mikroorganisme menjadi kunci dalam mengubahnya menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan tanaman, yakni ion.

"Siapa sih yang mengubah urea ini menjadi makanan bagi tanaman? Tak lain adalah mikroorganisme tanah," katanya.

Penggunaan bahan kimia secara berlebihan justru berpotensi merusak keseimbangan mikroorganisme tersebut, sehingga berdampak pada kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Tak hanya mengembangkan pupuk alami, petani di Desa Karanglo kini juga mengembangkan beberapa varietas baru padi unggulan mereka. Dua di antaranya diberi nama Joko Tarub dan Sri Rama. Kedua jenis padi ini sama-sama memiliki karakteristik batang yang lebih kokoh terhadap terpaan angin. Selain itu, beras yang dihasilkan pun lebih pulen. Bedanya, gabah Joko Tarub lebih ramping, sedangkan Sri Rama bentuknya bulat.

Bagi Lilik, pertanian regeneratif bukan sekadar teknik budi daya, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Ia menilai, kesuburan tanah dan ketersediaan air merupakan fondasi utama bagi keberlangsungan produksi pangan.

"Kenapa kami memilih reg agri? Tak lain adalah bagaimana kita tetap menjaga kesuburan tanah, kelestarian sumber daya alam, untuk keberlanjutan dari pertanian hidup sendiri," kata dia.

Menurutnya, tanpa upaya menjaga tanah dan air, keberlanjutan pertanian akan terancam. Padahal, sektor ini menjadi penopang utama kebutuhan pangan masyarakat.

Dengan ekosistem yang sehat, hama tanaman juga cenderung lebih terkendali secara alami karena meningkatnya populasi musuh alami.

Mengubah Pola Pengairan, Mengurangi Konflik

Selain tanah, perubahan juga terjadi pada sistem pengelolaan air. Dalam praktik konvensional, sawah umumnya digenangi air secara terus-menerus. Namun metode ini dinilai tidak efisien dan berpotensi memicu konflik antarpetani.

Untuk diketahui, posisi Desa Karanglo berada dalam kawasan Sub-Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) Pusur yang menjadi bagian dari DAS Bengawan Solo. Aliran sub-DAS itu melintasi tujuh kecamatan di Kabupaten Boyolali, 11 kecamatan di Kabupaten Klaten, sertan Kabupaten Sukoharjo. Semua daerah tersebut berada di Jawa Tengah.

Total luas Sub-DAS Pusur dan sekitarnya mencapai 32.615 hektare. Hulu sungainya terletak di lereng Gunung Merapi, tepatnya di wilayah Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, dan berfungsi sebagai kawasan konservasi serta tangkapan air yang penting. Hal itu dikarenakan tanah di bagian hulu tersebut memiliki porositas tinggi, sehingga memudahkan penyerapan air.

Lilik menuturkan, di beberapa wilayah tengah Sub-DAS Pusur, perebutan air kerap terjadi karena distribusi yang tidak merata. Kondisi itu menciptakan ketegangan di antara petani yang sama-sama membutuhkan air untuk lahan mereka.

Melalui pertanian regeneratif, pola pengairan diubah menjadi berselang. Sawah tidak lagi terus-menerus digenangi, melainkan melalui siklus basah dan kering.

Nah, setelah kami mengadakan teknik regenerative agriculture ini, bahwa pengairan itu harus selang-seling. Ada kalanya dikeringkan, ada kalanya diairi,” ujar Lilik.

Pendekatan ini dinilai mampu menghemat air sekaligus menciptakan distribusi yang lebih adil di tingkat petani.

Perubahan metode bertani tidak hanya berdampak pada hasil panen, tetapi juga pada kondisi psikologis petani. Tanaman yang tumbuh baik dan tanah yang subur memberikan rasa tenang bagi mereka yang mengelola lahan.

"Kalau petani melihat tanamanya bagus, tanamannya subur, pikirannya mereka juga adem," ujar Lilik.

Rasa "adem" yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan, tetapi juga perasaan aman karena hasil pertanian lebih terjamin dengan ketersediaan air yang melimpah.

Di tengah dorongan menuju pertanian berkelanjutan, perubahan dari sistem berbasis kimia ke praktik yang lebih sehat masih menjadi tantangan besar di tingkat petani. Persoalannya bukan semata soal teknik bercocok tanam yang digunakan, tetapi juga menyangkut kebiasaan, kenyamanan, dan pertimbangan ekonomi yang sudah mengakar.

Salah satu petani Karanglo, Yono, mengungkapkan bahwa proses transisi tersebut tidaklah mudah. "Petani itu untuk berubah dari sistem kimia menjadi sehat itu tidak gampang," ujarnya. 

Menurut penuturan Yono, dalam realitasnya masih banyak petani yang bertahan pada pola lama yang dianggap lebih praktis. Salah satu alasan utamanya adalah persepsi bahwa pertanian kimia memberikan hasil yang lebih cepat dan mudah. 

Sistem tersebut dinilai lebih ringan dijalankan dan memberikan keuntungan dalam waktu singkat, sehingga membuat petani enggan mengambil risiko beralih ke metode yang lebih alami. Di sisi lain, pertanian sehat membutuhkan proses yang lebih panjang dan usaha yang tidak sedikit, mulai dari pengolahan lahan hingga pembuatan pupuk organik secara mandiri.

Namun di balik itu, muncul kesadaran akan dampak jangka panjang yang tidak bisa diabaikan. Yono pun menyoroti risiko yang akan ditanggung generasi berikutnya jika praktik saat ini tidak berubah. 

"Saya kasihan sama anak cucu kita. Kalau yang kita konsumsi tidak sehat, lama-lama tanah juga rusak," tuturnya. 

Kekhawatiran Yono menjadi refleksi penting bahwa keberlanjutan bukan hanya soal hasil hari ini, tetapi juga masa depan lingkungan dan pangan.

Menariknya, wilayah tempat mereka bertani justru memiliki kondisi alam yang sangat mendukung. Ketersediaan air yang melimpah menjadi keunggulan tersendiri yang jarang dimiliki daerah lain. 

"Kalau di sini tidak pernah kekeringan. Airnya banyak, sumbernya juga banyak," ujarnya.

Stakeholder Relation Manager Aqua Klaten, Rama Zakaria menuturkan, program regenerative agriculture atau juga disebut regenerative farming binaan perusahaan di Sub-DAS Pusur sampai sejauh ini telah melibatkan 309 petani di 10 desa. Luas lahan budi daya padi sehat mencapai lebih dari 45 hektare. 

Selain itu, dalam program ini juga dilakukan normalisasi jaringan irigasi sepanjang lebih dari 6.000 meter yang memberikan manfaat bagi lebih dari 900 petani.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam, praktik seperti yang dilakukan di Desa Karanglo menunjukkan bahwa perubahan di tingkat petani dapat menjadi bagian dari solusi yang lebih besar.

"Pendekatan ini tidak hanya menyasar produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan dan sosial di tingkat lokal," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.