Retno Marsudi Ungkap Ancaman Krisis Air di Tengah Ekspansi Pengembangan AI
Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno P. Marsudi mengungkap ancaman ketersediaan air di tengah pengembangan ekonomi digital dan akal imitasi (AI).
Hal ini karena 40% pusat data di dunia berada di wilayah dengan tingkat water stress tinggi atau wilayah dengan kebutuhan air bersih lebih banyak dari ketersediaannya. Sementara, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Retno menjelaskan, ekspansi teknologi kecerdasan buatan dan AI mendorong peningkatan kebutuhan air hingga 129% di seluruh rantai pasoknya.
“Tantangan untuk pusat data AI, yang mana masa depan perekonomian kita, adalah bagaimana menggunakan air secara efisien, lebih efisien. Dan tentunya teknologi banyak sekali berperan dalam hal ini,” kata Retno, dalam sambutannya di Indonesia Net Zero Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (1/8).
Sementara dalam forum tersebut Retno juga menjelaskan, ada lebih dari 2,2 miliar orang di dunia yang masih belum memiliki akses terhadap air minum yang aman. Di samping itu, masih ada 3,5 juta orang yang tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang aman, serta 4 miliar orang mengalami kelangkaan air.
Artinya, air akan mengalir ke fasilitas-fasilitas teknologi di dunia, sementara masih banyak penduduknya yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya.
Retno kemudian menyinggung fenomena peningkatan kebutuhan air, dengan ketersediaannya yang terus berkurang. Selain untuk menyuplai kebutuhan ekonomi digital dan teknologi, permintaan terhadap air juga terus meningkat seiring pertambahan penduduk dan peningkatan kebutuhan pangan.
“Sebanyak 72%air tawar digunakan untuk sektor pertanian. Berarti kalau airnya terganggu, ketahanan pangan juga akan terganggu,” kata Retno.
Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia ini menilai, tantangan-tantangan tersebut semakin diperparah oleh perubahan iklim. Menurut dia, seluruh pihak perlu mengakselerasi dan bekerja sama untuk mengimplementasikan Sustainable Development Goals (SDGs) – khususnya SDG nomor 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak.
“Tidak ada satu individu atau negara pun yang dapat menghadapi tantangan air dan perubahan iklim sendirian,” ujar Retno.