Kualitas Udara Masih Level Bahaya Meski Hujan Guyur Wilayah Karhutla

ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nym.
Pengendara melintas di Jalan Tjilik Riwut yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (24/10/2026). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi kelas 1 Tjilik Riwut Palangka Raya menyebutkan dampak karhutla di Kalimantan Tengah termasuk Palangka Raya tertutup asap tebal yang dipenuhi partikel dan polutan pada lapisan atmosfer sehingga langit tampak berwarna kuning dan pada Sabtu (24/10) pukul 11.00 WIB jarak pandang 100 mete
2/11/2026, 08.45 WIB

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan mulai luruh di berbagai wilayah, usai diguyur hujan belakangan. Namun, data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan, kualitas udara di beberapa lokasi masih bertahan di level berbahaya hingga tidak sehat.

Kualitas udara berbahaya dapat merugikan kesehatan serius pada populasi dan membutuhkan penanganan cepat. Oleh karenanya, setiap orang dianjurkan untuk menghindari aktivitas luar ruangan.

"Kelompok sensitif tetap berada di dalam ruangan dan hanya melakukan sedikit aktivitas. Setiap orang menghindari semua aktivitas di luar ruangan," demikian keterangan KLH, dikutip pada Senin (2/11).

Sementara itu, kualitas udara di level sangat tidak sehat juga dapat meningkatkan risiko kesehatan pada segmen populasi yang terpapar. KLH menganjurkan setiap orang untuk menghindari aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan saat kualitas udara mencapai level ini. Khusus untuk kelompok sensitif, disarankan menghindari semua aktivitas di luar ruangan.

Berdasarkan data KLH, kualitas udara Kota Palangka Raya masih menjadi yang terburuk pagi ini, dengan indeks Nilai Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 998, Selain Kota Palangka Raya, wilayah lain terpantau memiliki kualitas udara sedikit lebih baik. Berikut daftar singkatnya:

  1. Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 998 dengan polutan utama PM10 (berbahaya)
  2. Kota Padang, Sumatra Barat, nilai ISPU 273 dengan polutan utama PM2,5 (sangat tidak sehat)
  3. Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, nilai ISPU 255 dengan polutan utama PM10 (sangat tidak sehat)
  4. Kota Tomohon, Sulawesi Utara, nilai ISPU 219 dengan polutan utama PM2,5 (sangat tidak sehat)
  5. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatra Selatan, nilai ISPU 203 dengan polutan utama PM2,5 (sangat tidak sehat)
  6. Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 193 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)
  7. Kabupaten Kampar, Riau, nilai ISPU 170 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)
  8. Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, nilai ISPU 167 dengan polutan utama PM2,5
  9. Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, nilai ISPU 164 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)
  10. Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, nilai ISPU 150 dengan polutan utama PM2,5 (tidak sehat)

Asap karhutla mengandung berbagai zat berbahaya, seperti partikel halus PM2,5 dan PM10, karbon monoksida (CO), karbon dioksida, serta senyawa lain hasil pembakaran tidak sempurna. Partikel halus memiliki ukuran sangat kecil hingga berpotensi masuk ke saluran pernapasan, menyebabkan iritasi, peradangan, atau gangguan fungsi pernapasan.

Nilai ISPU tergolong "baik" berada dalam rentang 0-50. Artinya, tidak memberi efek negatif bagi kesehatan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan di luar ruangan.

Nilai ISPU "sedang" berada pada rentang 51-100, menjadi tanda agar kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit jantung dan paru untuk berhati-hati beraktivitas di luar ruangan.

Sementara itu, nilai ISPU untuk level "tidak sehat" berada dalam rentang 101-200. Di tingkat ini, semua orang diminta waspada dan mengurangi aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan. Nilai ISPU akan mencapai level "sangat tidak sehat" pada rentang 201-300. 

Kualitas udara menjadi tergolong berbahaya ketika nilai ISPU-nya lebih dari 300. Pada level ini, semua orang diminta untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. Tingkat kualitas udara berbahaya dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius dan membutuhkan penanganan yang cepat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas