Debit Air Sungai Mahakam Menyusut, Kehidupan Pesut Terancam
Penurunan debit Sungai Mahakam di Kalimantan Timur akibat kemarau panjang membuat pesut, satwa langka dilindungi, yang mendiami wilayah tersebut kian terdesak.
Mengutip laporan WWF Indonesia, debit air di Sungai Mahakam memang turun signifikan hingga menyebabkan pendangkalan. Namun, masalah ini bukan cuma disebabkan oleh kondisi iklim tetapi juga aktivitas air oleh industri ekstraktif.
“Warga kampung membagikan video ini kepada Tim WWF Indonesia, kawanan pesut mahakam kerap terlihat berkumpul mencari ceruk dalam (deep pool) pada periode Agustus hingga September,” demikian dalam unggahan video @wwf_id, pada Jumat (11/9).
Deep pool adalah cekungan alami yang dalam di dasar sungai. Ketika musim kemarau, cekungan ini menjadi tempat berlindung yang sangat penting. Area ini menjadi tujuan pesut mahakam, karena kualitas dan debit airnya cenderung bertahan dengan baik, serta tidak banyak bersinggungan dengan transportasi pembawa batu bara atau sawit skala industri.
“Di tengah keterdesakan, kawanan pesut mahakam kerap berputar-putar di area deep pools, Mahakam Tengah, salah satunya di perairan sungai Kampung Minta, Kecamatan Penyinggahan, Kabupaten Kutai Barat,” tulis WWF.
Menurut WWF, kemunculan berulang pesut mahakam di area tersebut mencerminkan pentingnya menjaga kawasan sungai yang tersisa.
Keberadaan lumba-lumba air tawar ini juga dapat menjadi tanda utama kesehatan ekosistem Sungai Mahakam. Ketika ada pesut, artinya area sungai tersebut masih bersih dan rantai makanannya terjaga.
“Melindungi sungai dari dampak kemarau, pencemaran, karhutla, dan ragam aktivitas tidak bertanggung jawab berarti menyelamatkan sumber air bersih, pasokan ikan, dan tentunya ruang hidup masyarakat yang bergantung pada sungai,” demikian pernyataan WWF.
Ganggu Aktivitas Warga
Tak hanya di wilayah hulu, kekeringan juga berdampak di hampir sepanjang Sungai Mahakam. Menyusutnya debit air sungai berpengaruh pada distribusi logistik dan bahan pokok yang mulanya mengandalkan sungai.
Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Timur, Yusliando, mengatakan bahwa kekeringan ekstrem telah melumpuhkan sebagian besar akses pelayanan angkutan menuju kawasan hulu.
“Saat ini air sungai drastis sehingga kapal-kapal kayu berukuran sedang dan besar dari Samarinda kini hanya bisa berlayar paling jauh hingga ke Long Iram (kecamatan di Kutai Barat),” kata dia, dikutip dari Antara. Sementara, masih terdapat sejumlah daerah yang tidak terjangkau dengan jalur air.
Surutnya Mahakam juga memicu masuknya air laut ke sungai di Samarinda. Intrusi air asin meningkatkan kadar klorida pada air baku. Kondisi ini membuat pemerintah kota mengurangi operasional sejumlah fasilitas pengambilan air baku atau intake dari Mahakam, sehingga berdampak pada volume produksi air bersih.
Pemerintah Kota Samarinda pun memperpanjang status tanggap darurat kekeringan hingga 21 September mendatang. Kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi salah satu poin yang mendorong perpanjangan status ini.
Menurut catatan Pemkot Samarinda, terjadi lebih dari 152 kejadian karhutla dengan total luas area terbakar sekitar 275,21 hektare.
“Mengapa diperpanjang? Krisis air masih berlangsung, kebutuhan distribusi air masih tinggi, sumber air alami mengalami penurunan, dampak kekeringan dirasakan sektor pertanian, dan risiko karhutla masih terjadi,” dikutip dari unggahan @pemkot.samarinda.
Menilik peta Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian I September oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Kalimantan Timur berada di level waspada hingga siaga kekeringan. Sementara Kota Samarinda berada di level siaga.
Sebagai bentuk ikhtiar, Pemerintah Kota Samarinda bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar Salat Istisqa di halaman Balai Kota Samarinda pagi ini.
"Sebagai ikhtiar batiniah memohon turunnya hujan di tengah bencana kekeringan, karhutla, dan ancaman instrusi air," demikian dikutip dari @prokompimkotasamarinda.