Danamon (BDMN) Bidik Premi Bancassurance Rp 1,4 Triliun, Fokus Edukasi Nasabah
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) menargetkan perolehan premi dari lini bisnis bancassurance mencapai Rp 1,2 triliun hingga Rp 1,4 triliun pada tahun ini. Target itu sejalan dengan sejumlah langkah yang tengah dilakukan perseroan.
“Hingga pertengahan tahun, capaian masih berjalan sesuai rencana,” kata Wealth Management Head Danamon Yulius Ardi dalam acara Journalist Class di Menara Danamon, Jakarta, Senin (30/6).
Yulius mengatakan, industri asuransi saat ini tengah menghadapi tantangan yang cukup berat. Terlebih soal ketidakpercayaan masyarakat terhadap asuransi karena gagal membayar klaim.
Dia mengatakan Danamon tetap optimistis dapat mencapai target premi tersebut hingga akhir tahun. Merujuk laporan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, kanal bancassurance tercatat menjadi penyumbang terbesar pendapatan premi industri asuransi jiwa pada kuartal pertama tahun 2025.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon mengatakan, total pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp 47,45 triliun pada triwulan pertama tahun ini. Dari jumlah itu, pendapatan premi yang berasal dari kanal bancassurance mencapai Rp 18,61 triliun.
"Pada kuartal I 2025, kanal distribusi bancassurance tercatat mendominasi pendapatan premi dengan kontribusi sebesar 39,2% terhadap total premi," ujar Budi dikutip Senin (30/6).
Meski tetap menjadi kontributor utama, nilai premi dari kanal bancassurance mengalami penurunan sebesar 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di samping itu, Yulius memaparkan strategi utama Danamon untuk mendorong pertumbuhan bancassurance adalah melalui edukasi kepada nasabah.
"Kami aktif mengadakan berbagai event sosialisasi di berbagai acara, serta meluncurkan produk-produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat," kata dia.
Yulius menjelaskan, sebelum meluncurkan produk baru, pihaknya akan melakukan riset mendalam terhadap kebutuhan nasabah. Dalam riset tersebut, pihak Danamon menemukan bahwa masih rendahnya perlindungan terhadap penyakit kritis dan perencanaan warisan (legacy planning) di kalangan nasabah.
“Kami melihat bahwa segmen terkait penyakit kritis dan perencanaan warisan masih belum banyak tercover. Karena itu, strategi tahun ini difokuskan pada peluncuran produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan tersebut,” kata dia.
Di sisi lain, Yulius membagikan tips mengalokasikan gaji untuk membayar asuransi bagi pemula. Dia menyarankan agar alokasi gaji pertama-tama difokuskan pada kebutuhan hidup pokok. Setelah itu, barulah mempertimbangkan pos untuk tabungan dan asuransi.
“Yang paling utama adalah kita harus tahu berapa yang bisa ditabung dan berapa yang bisa dialokasikan untuk proteksi, tergantung peluang dan kondisi masing-masing,” kata dia.
Ia menyebut, alokasi sekitar 10% dari gaji bisa menjadi titik awal yang wajar untuk asuransi. Namun, alokasi ini sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu agar disesuaikan dengan tujuan masing-masing, seperti proteksi pendidikan anak, kesehatan atau perencanaan warisan.
“Menurut saya, memiliki asuransi akan sangat membantu bila terjadi risiko di kemudian hari,” tutup Yulius.