Kilas Balik Situasi Pasar Modal saat 1998, OJK Optimistis Krisis Tak Terulang
Pasar modal Indonesia pernah terguncang hebat dengan kerusuhan besar Mei 1998. Kala itu Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sempat menyentuh posisi terdalam atau auto reject bawah (ARB).
Situasi yang sama sempat menjadi momok pasar modal Tanah Air saat ini seiring dengan rangkaian aksi demonstrasi yang terjadi sejak Senin (25/8) yang digelar di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta. Semula, aksi unjuk rasa dilakukan sebagai aksi damai untuk menyampaikan aspirasi berakhir ricuh hingga meluas ke berbagai wilayah sekitar.
Sejak peristiwa meninggalnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan yang dilindas mobil rantis di Pejompongan pada Kamis (28/8) kemudian memicu kemarahan massa. IHSG pun ikut terjun ke posisi Rp 7.736 setelah sebelumnya sempat menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di level 8.023 pada (28/8).
Namun situasi ini tak berlangsung lama. IHSG segera bangkit seiring dengan meredanya kerusuhan yang terjadi imbas demonstrasi. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, menyampaikan meski IHSG sempat turun ia mengatakan secara fundamental, indikator-indikator di sektor jasa keuangan mencerminkan permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang terkendali.
Menurut Mahendra, di tengah dinamika global maupun domestik, sektor jasa keuangan Indonesia tetap menunjukkan resiliens dan stabilitas. Ia mengatakan di pasar saham, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Agustus 2025 tercatat positif bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah (all time high) di level 8.022.
“Walaupun sempat terjadi gejolak volatilitas di beberapa hari sebelumnya, namun perkembangan lebih lanjut dan sampai kemarin kami melihat dampak dari perkembangan beberapa hari terakhir ini relatif terbatas,” kata Mahendra dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Agustus 2025, secara virtual, seperti dikutip Jumat (5/9).
Mahendra juga menyampaikan OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan uji ketahanan (stress test) terhadap potensi dampak pergerakan nilai pasar dari aset yang dimiliki. OJK juga menyebut telah menyiapkan sejumlah instrumen kebijakan untuk mengantisipasi fluktuasi pasar yang signifikan.
Mahendra mengatakan seluruh kebijakan tersebut akan dievaluasi secara berkala. Ia pun berharap dapat menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan fungsi intermediasi sektor keuangan tetap berjalan optimal. Di antaranya buyback saham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), penundaan pembiayaan transaksi short selling, penyesuaian trading halt pada saat IHSG turun, serta penerapan asymmetric auto rejection.
“Itu beberapa hal yang telah dilakukan dan akan terus kami lakukan dengan pemantauan yang ketat dan juga dengan berbagai evaluasi dan monitor dari perkembangan kondisi yang ada,” ucap Mahendra.
Lalu, seperti apa kondisi pasar modal Tanah Air saat krisis ekonomi terberat bangsa pada 1998?
Kilas Balik Dampak Krisis Ekonomi 1998 ke pasar Modal
Berdasarkan sumber Institute for Economic and Financial Research dalam buku bertajuk Indonesian Capital Market Directory 1998 Volume I, IHSG sempat anjlok hingga 19,4% ke level 276 pada September 1998.
Kapitalisasi pasarnya hanya Rp 116,57 miliar atau US$ 10,99 juta pada saat itu. Saat itu gejolak harga saham dipengaruhi oleh nilai tukar dan peristiwa besar di panggung politik, yang puncaknya pada pengunduran diri Presiden Soeharto setelah 32 tahun menjabat.
Indeks IFCI Indonesia anjlok 64,4% dalam dolar AS antara Maret dan September, sementara rupiah melemah dari 8.650 menjadi 10.700.
Sebelumnya krisis moneter yang mengguncang Indonesia sejak pertengahan 1997 menghancurkan prospek pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat berada di level 740,83 pada awal Juli 1997 anjlok tajam.
Kapitalisasi pasar terkoreksi hampir 35%, bahkan lebih dalam jika dihitung dalam dolar AS, seiring merosotnya nilai tukar rupiah.
Gejolak politik turut memperburuk kondisi minat investor dan kinerja Bursa Efek Jakarta (BEJ). Berdasarkan Indonesia Capital Market Directory (ICMD) 1998, dari 284 emiten yang merilis laporan keuangan per akhir 1997, sebanyak 140 perusahaan mencatat rugi bersih total Rp 22,06 triliun.
Namun, laba dari sebagian emiten memangkas kerugian agregat menjadi Rp 13,98 triliun. Sebelumnya, pada 1996 lalu emiten BEJ masih membukukan laba bersih agregat Rp 14 triliun.
Tahun berikutnya, kinerja berbalik menjadi rugi, meski penjualan bersih justru naik 30,5%. Selama paruh pertama 1998, mayoritas emiten kembali merugi.
Depresiasi rupiah hingga 400% menjadi pemicu utama, hingga bikin kerugian kurs besar tercatat Rp 23 triliun untuk 178 emiten non-bank pada 1997. Jatuhnya rupiah juga mengerek kewajiban utang luar negeri, mendorong rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) ke level 5 kali pada akhir 1997, jauh di atas 3 kali pada tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, total ekuitas emiten BEJ tergerus menjadi Rp 120 triliun, dengan sekitar 20 perusahaan mencatat ekuitas negatif. Hal ini mengindikasikan ketidakmampuan membayar utang.
Sementara itu liabilitas total tembus Rp 560 triliun, di antaranya Rp 330 triliun merupakan liabilitas jangka pendek. Adapun solusinya yakni restrukturisasi utang, termasuk opsi konversi utang menjadi ekuitas demi menghindari bangkrut.