Edisi Khusus | Bulan Inklusi Keuangan

Proyeksi Investasi Perak Berlebihan ala Robert Kiyosaki, Bagaimana Risikonya?

Youtube The Rich Dad Channel
Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, memproyeksikan kenaikan perak.
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati
31/10/2025, 12.00 WIB

Penulis buku keuangan Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, membagikan strategi investasi dalam menghadapi kondisi ekonomi global, caranya dengan berinvestasi lewat aset koin perak, bukan saham atau aset lain.

Kiyosaki menyampaikan melalui unggahan terbarunya di platform media sosial X pada bulan lalu. Kiyosaki menyebut bahwa jika memiliki dana sebesar US$ 100, ia akan membelanjakannya untuk membeli koin perak, bukan saham atau aset lain.

Ia menambahkan, “Perak telah dimanipulasi selama bertahun-tahun. Pada bulan September 2025, perak akan meledak. Saya memprediksi U$100 perak Anda akan menjadi U$500 dalam setahun.”

Melansir Coincentral.com, Kiyosaki menilai harga perak akan berada di ambang lonjakan besar. Ia memperkirakan nilai perak dapat meningkat lima kali lipat hanya dalam waktu satu tahun, yakni pada 2026 mendatang.

“Investasi US$ 100 hari ini bisa menjadi US$ 500 dalam setahun,” kata Kiyosaki dalam unggahannya, dikutip dari CoinCentral, pada September (29/9) lalu.

Prospek Investasi Perak dan Risikonya

Meski demikian, prediksi Kiyosaki dalam investasi emas perlu dilakukan perhitungan kembali, menyangkut nilai aset dan catatan lonjakan nilainya.

Pengamat pasar dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilik potensi kenaikan harga perak memang ada, tetapi tidak akan sebesar yang diprediksi Kiyosaki. Ia menjelaskan, harga perak memang bisa naik ketika harga logam mulia seperti emas meningkat tajam. Hal ini karena masyarakat yang tidak mampu membeli emas akan beralih ke perak sebagai alternatif investasi.

“Perak akan ramai apabila harga logam mulia naik terus. Karena ketika emas semakin mahal, masyarakat akan mencari alternatif yang lebih terjangkau,” ujar Ibrahim kepada Katadata.co.id saat dihubungi, Rabu (29/10).

Ia mencontohkan, sebagai perbandingan, harga perak per gram saat ini berada di kisaran Rp26.000, sedangkan logam mulia emas mencapai sekitar Rp2,1 juta per gram. Dengan uang Rp300.000, pembeli bisa mendapatkan sekitar 6–7 gram perak, sementara emas dalam jumlah tersebut tidak cukup untuk setengah gram.

Adapun, Investing.com mencatat harga perak pada Kamis (30/10) turun 0,37% menuju level US$ 47,375 atau Rp 787 ribu per troy ons (kurs Rp16.619). Atau berada pada kisaran US$1,56 atau Rp25.380 per gram.

Harga perak tercatat mengalami lonjakan tertinggi minggu ini pada Selasa, 28 Oktober 2025 sebesar 1,18%. mengalami penguatan sebesar 61,3% dibandingkan posisi awal tahun.

Menurut Ibrahim, fenomena ini membuat perak menjadi alternatif bagi masyarakat menengah ke bawah yang ingin memiliki logam berharga. Namun, prospek perak tetap bergantung pada pergerakan harga emas dunia. Saat harga emas turun, minat terhadap perak biasanya ikut melemah.

“Perak ini dianggap sebagai produk kelas kedua setelah logam mulia emas. Kalau harga emas dunia turun, orang berhenti membicarakan silver dan kembali membeli emas,” kata Ibrahim.

Dalam dunia komoditas, harga logam seperti perak disebutnya memiliki support dan resistance level atau batas bawah dan atas yang menentukan pergerakan harga.

  • Resistance harian (daily): batas kenaikan jangka pendek.
  • Resistance mingguan (weekly): batas kenaikan menengah.
  • Resistance bulanan (monthly): batas tertinggi jangka panjang.

Menurut Ibrahim, bahkan dalam skenario optimistis, harga perak kemungkinan besar hanya akan mencapai sekitar US$55–US$56 per ons pada tahun 2025. Itu pun sudah termasuk tinggi.

Investasi perak tetap punya risiko yang harus dipahami investor. Salah satunya adalah penurunan harga ketika pasar logam mulia sedang lesu. Selain itu, nilai jual kembali (buyback) perak juga biasanya dipotong sekitar 30% dari harga beli.

Contohnya, jika seseorang membeli 10 gram perak seharga Rp350.000, maka ketika dijual kembali, ia mungkin hanya akan menerima sekitar Rp245.000. “Itu sebabnya, perak kurang cocok untuk trading jangka pendek,” kata dia.

Berbeda dengan emas, kenaikan harga perak juga tidak seagresif logam mulia. “Kalau emas dibeli tahun 2020, lima tahun kemudian harganya bisa naik hingga 500 persen. Tapi silver tidak seperti itu,” Ibrahim menambahkan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina