Indika Energy (INDY) Produksi Tambang Emas Mulai 2026, Siapkan Smelter Rp 7,09 T
Emiten afiliasi pengusaha Arsjad Rasjid, PT Indika Energy Tbk (INDY) tengah menggencarkan operasional tambang emas Awak Mas sebagai tonggak utama di bisnis non-batu bara. Perusahaan juga tengah menyelesaikan pembangunan smelter pemurnian emas dengan nilai investasi mencapai US$ 426 juta atau Rp 7,09 triliun.
Direktur Indika Energy Johanes Ispurnawan menjelaskan, proyek tambang emas tersebut akan berjalan sesuai jadwal. Adapun uji coba produksi (trial production) akan dimulai pada kuartal keempat 2026, sedangkan operasional penuh diharapkan terlaksana pada 2027.
“Sehingga pada 2027 semuanya bisa berjalan sesuai yang kami rencanakan dan tentunya akan mulai menghasilkan," ujar Johanes dalam paparan publik Indika Energy di Jakarta, Kamis (27/11).
Direktur Indika Energy Retina Rosabai mengatakan, saat ini pihaknya memiliki izin untuk mengelola tiga area pit tambang, yaitu Awak Mas, Tarra, dan Salu Bulo melalui entitas usahanya, PT Masmindo Dwi Area. Seluruh lokasi tambang ini berlokasi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Retina mengatakan, total luas konsesi mencapai 14.390 hektare, dengan area yang siap dikembangkan sekitar 1.444 hektare atau 10% dari keseluruhan konsesi. Perusahaan memegang izin Kontrak Karya (CoW) hingga tahun 2050 dan dapat diperpanjang menjadi IUPK hingga 2070.
Saat ini, menurut dia, proyek Awak Mas sudah masuk tahap konstruksi dan ditargetkan melakukan trial produksi emas pertama pada Desember 2026. Kegiatan penambangan akan dilakukan menggunakan metode open pit, sedangkan proses pengolahan emas akan memakai teknik carbon in leach (CIL).
Dari sisi potensi, ia menyebut tambang emas Awak Mas memiliki sumber daya 2,55 juta oz, cadangan 1,51 juta oz, rencana produksi 100 ribu oz per tahun dengan kadar emas sekitar 1,37 gram per ton.
Untuk estimasi biaya di pit area Awak Mas, perusahaan mencatat biaya tunai atau cash cost sebelum royalti sekitar US$ 1.150 per oz, sedangkan biaya modal berkelanjutan atau sustaining capital cost berada di kisaran US$ 50 per oz.
Dengan asumsi harga emas di atas US$ 3.000 per oz, tarif royalti akan berada pada level tertinggi, yakni 16%, sesuai skema royalti dalam PP No. 19/2025.
Siapkan Smelter Pemurnian Emas
Direktur Utama Indika Energy Azis Armand, menyebut perusahaan juga tengah membangun smelter pemurnian emas. Nilai investasi proyek smelter ini menurut perhitungan pada 2022 mencapai US$ 426 juta atau Rp 7,09 triliun.
“Ini bukan rencana ya (bikin smelter), kami sudah sedang membangun (smelter),” kata Azis.
Selain itu, Azis juga menyebut Indika Energy sudah melakukan engagement dengan beberapa kontraktor terkait pembangunan processing plant dan seluruh proses itu tentu dilakukan melalui kerja sama dengan Indika Energy. Ia juga berharap prosesnya dapat berjalan cepat bahkan ia menyebut dalam beberapa bulan terakhir progres proyek semakin meningkat.