BEI Ungkap Rencana Danantara Guyur Pasar Modal Tahun ini, Apa Saham Incarannya?
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia bakal masuk ke pasar modal tahun ini. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy mengatakan, salah satu langkah yang diambil dengan cara Danantara mendorong kehadiran perusahaan BUMN melantai di bursa pada tahun ini.
"Sampai sekarang sih kayaknya belum (masuk ke pasar modal), tapi mereka bilang mereka akan masuk ke market tahun ini ya," ucap Irvan ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (26/1).
Tak hanya itu, ia menilai Danantara memiliki potensi besar karena memiliki Danantara Asset Management (DAM). Danantara Asset Management adalah entitas strategis untuk meningkatkan nilai dan daya saing Badan Usaha Milik Negara sejalan dengan agenda jangka panjang.
“Jadi kalau Danantara sebenarnya gini, kami berharap ada BUMN yang bisa IPO Tahun ini,” kata Irvan.
Lebih lanjut, Irvan mengatakan bahwa BEI berharap Danantara aktif mengelola portofolio dan dana investasinya, serta bertransaksi di pasar modal domestik. Transaksi itu juga tak juga masuk ke instrumen obligasi, tetapi juga mencakup di saham di Bursa Efek Indonesia.
Kisi-Kisi Saham Incaran Danantara
Managing Director Treasury Danantara Ali Setiawan mengatakan investasi publik paling efektif disalurkan melalui pasar modal karena langsung menghasilkan imbal hasil.
“Kami juga gak mau dananya jadi males. Kami diamkan aja. Bahkan kalau misalnya taruh di bank aja, belum tentu banknya bisa serap semua dananya,” kata Ali di Kantor Danantara November 2025 lalu.
Menurut Ali setelah menempatkan investasi di pasar modal, Danantara juga akan berkontribusi baik dari sisi likuiditas maupun pengembangan pasar.
“Kami akan play a part to support and contribute to local financial market tapi of course saya gak bisa bilang mau beli berapa, mau beli siapa dan lain sebagainya,” ujar Ali.
Lalu Ali mengatakan pilihan aset di Indonesia relatif terbatas dan didominasi instrumen fixed income, sementara menurutnya obligasi korporasi masih kurang likuid. Ia menyebut Danantara cenderung menempatkan dana pada surat utang pemerintah dengan tenor yang jelas dan tingkat likuiditas tinggi. Adapun seri yang sudah off-the-run, Danantara lebih melihat besaran premi sebelum berinvestasi.
“Kalau dari saham, tadi saya sudah bilang juga kami gak akan ke saham-saham gorengan atau saham yang Price to Earnings Ratio (P/E Ratio)-nya luar biasa tapi pasti kami assess dengan kriteria kami,” kata Ali.
Ali juga menjelaskan kisi-kisi saham pilihannya. Indikator utamanya mulai dari return on equity (ROE), price to earnings ratio (P/E), dividend yield, kapitalisasi pasar, profitabilitas, hingga likuiditas harian.
Kemudian Danantara juga terbuka berinvestasi pada saham asing, namun belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Menurut Ali, diversifikasi ke luar negeri juga perlu untuk mengelola risiko dan meningkatkan risk-adjusted return.
Ia menilai strategi tersebut sejalan dengan praktik sovereign wealth fund global, yang menempatkan sebagian portofolio investasinya di luar negeri untuk memperoleh imbal hasil optimal.
“Karena mereka udah istilahnya gemuk di dalam negerinya, dan gak bisa menjadi mover and shaker of the market di dalam negeri, mau gak mau mereka harus berinvestasi di pasar modal luar,” ucapnya.