Saham RLCO Baru Seumur Jagung Diramal Broker Tembus Rp 80 Ribu, Ini Kata Bursa
Kalangan investor tengah dibuat ramai soal Samuel Sekuritas yang menargetkan harga saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) bisa menembus level Rp 80.000. Padahal, saham itu baru seumur jagung alias baru melantai di BEI melalui initial public offering (IPO), bulan lalu.
Investor ritel pun menduga target harga tersebut sebagai aksi broker IF (kode untuk Samuel Sekuritas) "jualan" saham RLCO. Ada kekhawatiran hal itu mengarah ke praktik pump and dump yang dapat merugikan investor.
Seperti diketahui, emiten sarang burung walet itu baru mencatatkan perdana sahamnya pada 8 Desember 2025 lalu. Sahamnya kini bertengger di Rp 8.700 dan disuspensi BEI seusai melonjak 5.078% sejak IPO. Tak hanya itu, RLCO sejak IPO bahkan belum pernah bertengger di zona merah dan kapitalisasi pasarnya kini Rp 27,19 triliun.
Analis Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi, menilai saham RLCO berpotensi melonjak hingga 820% lagi. Hal itu didorong oleh peluang masuknya Indeks MSCI Indonesia kategori Big Cap.
Dari sisi kinerja keuangan, RLCO diperkirakan melampaui proyeksi laba bersih 2025 sekitar 15% dibandingkan estimasi Samuel Sekuritas. Berdasarkan perhitungan broker tersebut, dengan asumsi kapitalisasi pasar disesuaikan mencapai Rp 5,5 triliun atau setara Rp 8.800 per saham, RLCO berpotensi memenuhi kriteria untuk masuk ke dalam Indeks MSCI Small Cap.
Jonathan pun membeberkan rekomendasi speculative buy harga saham RLCO, dengan target di Rp 80.000 per saham atau mencerminkan potensi kenaikan sebesar 820%. Hal itu sejalan dengan proyeksi setelah RLCO masuk ke dalam Indeks MSCI Large Cap dengan kapitalisasi pasar disesuaikan sebesar Rp 50,1 triliun.
“Risiko utama terhadap perkiraan kami: penundaan inklusi MSCI dapat memberikan tekanan turun pada pergerakan harga saham,” kata Jonathan dalam risetnya, Senin (26/1).
RLCO menjadi emiten ke-25 di bursa pada Desember 2025 dan menunjuk PT Samuel Sekuritas Indonesia sebagai penjamin dan pelaksana emisi efek perseroan.
Pada debut perdananya, harga saham RLCO dibuka melesat 34,52% ke level Rp 226 atau manembus batas harga tertinggi perdagangan harian atau auto rejection atas (ARA) pada pukul 09.00 WIB.
Pada gelaran IPO, RLCO mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga 948,25 kali. RLCO kala itu menawarkan saham di batas tertinggi yakni Rp 168 dalam rentang harga Rp 150–168 per saham. Perseroan melepas 625 juta saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan demikian, perusahaan berpotensi menghimpun dana segar sekitar Rp 105 miliar.
Apa Kata BEI?
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menegaskan bahwa perusahaan sekuritas AB (anggota bursa) dilarang menjanjikan keuntungan dalam bentuk apa pun kepada investor dan/atau nasabah, termasuk menjamin target harga saham tertentu.
Selain itu, dalam riset sekuritas, perusahaan sekuritas juga wajib menyusun dan menerapkan kebijakan serta prosedur tertulis yang mengatur proses dan hasil riset. Ketentuan tersebut bertujuan untuk memastikan riset yang dihasilkan oleh analis bersifat independen, objektif, dan bebas dari benturan kepentingan.
“Hasil fungsi riset hanya merupakan salah satu informasi yang dapat dipergunakan untuk mendukung keputusan investasi,” ucap Irvan ketika dihubungi wartawan, Selasa (27/1).
Irvan juga menambahkan, BEI mengimbau investor ritel untuk selalu kritis dalam mencermati berbagai riset maupun rekomendasi investasi yang beredar di publik. Investor juga perlu memperhatikan sumber riset, termasuk pihak yang menerbitkan serta potensi afiliasi atau kepentingan tertentu yang melekat pada riset tersebut.
Selain itu, investor juga perlu menelaah metodologi dan dasar analisis yang digunakan dalam setiap hasil riset yang diterima, termasuk memastikan kecukupan data, kewajaran asumsi, serta kejelasan penjelasan mengenai risiko yang menyertai rekomendasi investasi.
“Riset yang kredibel umumnya tidak hanya menonjolkan potensi keuntungan, tetapi juga mengungkapkan berbagai risiko yang mungkin dihadapi,” ucap Irvan.
Riset menjadi salah satu fungsi dan/atau layanan perusahaan sekuritas anggota bursa sebagai perantara pedagang efek (PPE). Berdasarkan POJK 13 Tahun 2025, fungsi riset pada anggota bursa wajib dijalankan secara independen terpisah dari fungsi lain untuk menghindari benturan kepentingan. Adapun Pengawasan fungsi riset pada anggota bursa dilaksanakan sebagai bagian pengawasan pengendalian internal PPE oleh OJK sebagaimana POJK 13 2025.