Kinerja saham bank-bank papan atas masih tangguh meski diterjang sentimen negatif beruntun. Padahal, pasar saham Indonesia sempat terpukul setelah pengelola indeks global MSCI Inc menangguhkan rebalancing saham Indonesia, disusul langkah Moody’s Ratings yang menurunkan outlook lima bank besar nasional dari stabil menjadi negatif.

Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat kredit masing-masing bank. Lima bank yang dimaksud yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, prospek saham perbankan masih menarik dalam satu bulan ke depan. Dia mematok target harga Rp 7.450 - 7.750 untuk saham BCA, Rp 3.940 - 4.010 untuk saham BRI, Rp 5.375 - 5.475 untuk saham BNI dan Rp 1.415 - 1.450 untuk saham BTN. 

Dalam jangka panjang, Mirae Asset Sekuritas memandang sektor perbankan menjadi salah satu sektor potensial di tahun 2026. Berdasarkan riset terbaru yang dikeluarkan broker dengan ciri khas oranye itu, kredit perbankan diproyeksikan tumbuh hingga sekitar 11% pada 2026.

“Didukung oleh penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sekitar 50 basis poin di sepanjang 2026,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya dikutip Selasa (24/2). 

Jika dilihat dalam periode satu bulan terakhir hingga perdagangan Senin (23/2), kinerja saham kelima bank tersebut menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. BTN mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 12,20%, diikuti Bank Mandiri yang naik 5,92% dan BRI 2,36%. Sebaliknya, BCA terkoreksi paling dalam yakni 4,58%, disusul BNI yang turun 1,96%. Secara tahunan, BTN juga memimpin dengan kenaikan 47,59%, sedangkan BCA amblas 18,89%. 

Dari sisi fundamental, BCA membukukan laba Rp 57,5 triliun pada 2025 atau tumbuh 4,9% secara tahunan dengan penyaluran kredit Rp 993 triliun. Bank Mandiri mencatat laba Rp 56,3 triliun dengan pertumbuhan kredit mencapai Rp 1.895 triliun. BNI membukukan laba Rp 20 triliun atau turun 6,6%, sedangkan BTN meraih laba Rp 3,5 triliun atau naik 16,4% dengan kredit Rp 400,57 triliun. 

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, BRI masih belum melaporkan kinerja keuangan tahun 2025.

EmitenKinerja SahamKinerja Fundamental
Harga saham saat ini (per Senin 23 Feb 2026)Naik/Turun dalam satu bulanNaik/Turun secara YOYLaba 2025Naik/Turun YoyPenyaluran kredit 2025
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)Rp 7.300-4,58%-18,89%Rp 57,5 triliun4,9%Rp 993 triliun
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)Rp 3.9002,36%0,26%---
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)Rp 5.2755,92%3,94%Rp 56,3 triliun1%Rp 1.895 triliun
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)Rp 4.500-1,96%4,65%Rp 20 triliun-6,6%Rp 899 triliun
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)Rp 1.38012,20%47,59%Rp 3,5 triliun16,4%Rp 400,57 triliun

(sumber: olahan penulis)

Prospek Saham Bank Jumbo, Masih Perkasa di Tahun Kuda Api?

Merujuk riset Mirae Asset Sekuritas, prospek saham perbankan sepanjang 2026 diproyeksikan menguat. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai fundamental yang solid, potensi penurunan suku bunga serta pertumbuhan kredit akan menjadi katalis utama sektor ini.

Untuk BCA, Nafan memproyeksikan target harga tertinggi hingga ke level 9.750. Menurut dia, likuiditas dan dana murah (CASA) yang kuat serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang selalu berada di bawah rata-rata industri menjadi penopang kinerja BCA. 

Selain itu, strategi ekspansi CASA nonritel, peningkatan pendapatan berbasis komisi serta investasi teknologi dinilai mampu menjaga profitabilitas. 

“BBCA tetap dianggap sebagai salah satu bank besar paling stabil di Indonesia, untuk investor jangka panjang yang mencari kombinasi stabilitas dan imbal hasil dividen, BBCA tetap menarik,” ujar Nafan.

Sementara itu, saham BRI diproyeksikan dapat mencapai target harga tertinggi ke Rp 4.770 tahun ini. Pendorongnya adalah basis nasabah UMKM yang besar, integrasi ekosistem ultra mikro bersama Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani serta struktur pendanaan yang solid. Dividend yield yang berada di kisaran 5,5% juga menjadi daya tarik bagi investor yang memburu imbal hasil.

Lalu, Nafan menetapkan target harga saham BNI di level Rp 5.600. Katalis positif BNI terletak pada likuiditas dan struktur pendanaan yang sehat sehingga mampu memberikan ruang bagi ekspansi kredit dengan biaya dana yang terjaga. 

“Valuasi relatif menarik dibanding bank besar lain, PBV BBNI yang berada di 0,98x termasuk rendah dibanding banyak bank besar lain, menunjukkan ruang apresiasi harga saham jika kondisi membaik,” kata Nafan.

Untuk BTN, Nafan menetapkan target harga hingga Rp 1.555. Menurutnya, BTN kinerja laba yang tumbuh tinggi, ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih dan ekspansi kredit, menjadi faktor utama. 

Selain itu, peran strategis BBTN sebagai penyalur utama Kredit Pemilikan Rumah subsidi melalui skema FLPP memperkuat fundamental bisnis inti. Transformasi melalui aksi spin off Unit Usaha Syariah (UUS) juga dinilai membuka peluang pertumbuhan baru. Dari sisi valuasi, rasio PER sekitar 5,9 kali dan PBV 0,55 kali menempatkan saham ini dalam kategori undervalued.

Terakhir, harga saham Bank Mandiri dipatok ke level tertinggi 6.200. Kata Nafan, keberhasilan super app Livin’ by Mandiri mendorong pertumbuhan fee based income sekaligus meningkatkan efisiensi, tercermin dari penurunan cost to income ratio (CIR). 

Selain itu, konsolidasi aset negara melalui Danantara diperkirakan meningkatkan kebutuhan layanan perbankan korporasi, seperti sindikasi kredit dan manajemen kas, yang menjadi keunggulan utama BMRI. 

Prospek pembiayaan dari proyek infrastruktur, hilirisasi industri, hingga transisi energi juga dinilai membuka peluang pertumbuhan kredit korporasi. Dengan dividend yield sekitar 9,19%, saham ini tetap menarik bagi investor yang membidik total return. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri