Pertamina Proyeksi Konsumsi Bensin Periode Mudik 2026 Melonjak 12%
PT Pertamina (Persero) memprediksi konsumsi BBM jenis bensin (gasoline) selama periode mudik dan arus balik Idulfitri 2026 akan meningkat sekitar 12% dibandingkan rata-rata normal. Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan Pertamina telah melakukan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional.
Ia mengatakan perusahaan sudah meningkatkan pasokan stok energi (build-up stock) untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi pada periode Ramadan dan Idulfitri. Ia memastikan kondisi pasokan energi dalam keadaan aman selama masa Satuan Tugas (Satgas) Ramadan dan Idulfitri 2026.
“Terutama arus pulang dan arus balik,” ujar Baron dalam Press Conference Satgas Ramadan dan Idulfitri Pertamina Group di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3).
Menurut Baron, pasokan BBM, LPG dan Avtur Pertamina saat ini berada dalam kondisi aman. Selain itu pertamina terus berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia pada masa Satgas Ramadan dan Idulfitri 2026.
Baron menjelaskan, lonjakan konsumsi terjadi pada produk gasoline karena mayoritas masyarakat melakukan perjalanan mudik maupun wisata. Sebaliknya, konsumsi BBM jenis gasoil atau solar diproyeksikan menurun karena adanya pembatasan operasional kendaraan industri dan angkutan barang selama periode libur.
Potensi Konsumsi Bensin Melonjak 12%
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan proyeksi kenaikan konsumsi bensin sebesar 12% pada periode mudik Idulfitri 2026 disusun berdasarkan evaluasi Ramadan-Idulfitri 2025 serta pengalaman Satuan Tugas (Satgas) Natal dan Tahun Baru (Nataru). Periode libur dan cuti bersama yang panjang tahun ini juga menjadi faktor utama dalam perhitungan.
“Dengan periode libur yang cukup panjang, kami memprediksi puncak arus pertama terjadi pada 14 sampai 15 Maret 2026,” ujar Roberth dalam kesempatan yang sama.
Selain gelombang pertama, Pertamina juga memprediksi puncak arus mudik kedua terjadi pada 18–19 Maret 2026, mendekati Hari Raya Idulfitri. Sementara itu, arus balik diperkirakan berlangsung dalam dua tahap, yakni pada 24–25 Maret 2026 dan 28–29 Maret 2026.
Dari sisi konsumsi energi, Pertamina memproyeksikan permintaan gasoline, yang mencakup Pertalite, Pertamax, dan produk sejenis, meningkat sekitar 12% dibandingkan konsumsi normal.
“Sebaliknya, produk grup gasoil seperti solar justru mengalami penurunan sekitar 14,5% karena pembatasan kendaraan logistik dan angkutan besar,” ujar Roberth.
Selain bensin, konsumsi energi lain juga diperkirakan meningkat. Penyaluran LPG selama periode Satgas diprediksi naik sekitar 4% dari rata-rata normal. Permintaan avtur diproyeksikan meningkat sekitar 2,8% seiring bertambahnya jumlah penerbangan selama libur panjang, baik untuk mudik maupun wisata. Adapun konsumsi minyak tanah (kerosene) diperkirakan tumbuh sekitar 4,2%.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Pertamina Patra Niaga menyiagakan 7.885 SPBU, 6.777 Pertashop, 6.662 agen LPG, 5.795 pangkalan LPG 3 kilogram (PSO), serta 867 pangkalan LPG non-subsidi. Selain itu, tersedia 757 SPBE dan 223 agen minyak tanah.
Di jalur potensial seperti jalan tol, jalur wisata, dan lintas utama, sebanyak 2.074 SPBU beroperasi 24 jam dan sekitar 6.300 agen LPG disiagakan. Pertamina juga menempatkan 96 unit layanan modular BBM di 64 titik sebagai suplai tambahan apabila terjadi lonjakan konsumsi.
“Modular ini adalah mobil tangki berisi BBM yang kami tempatkan di titik strategis, sehingga tidak perlu menunggu suplai dari fuel terminal jika terjadi lonjakan permintaan,” ujarnya.