Prospek Daaz Bara (DAAZ) di Tengah Kabar Menang Tender Proyek WtE Danantara
Ada sinyal aksi baru di emiten perdagangan komoditas mineral PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ). Perusahaan disebut memenangkan tender proyek Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tahap pertama.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengumumkan mitra terpilih tahap pertama untuk dua kota, yakni di Bekasi dan Denpasar. Perusahaan menetapkan Wangneng Environment Co., Ltd. sebagai operator fasilitas WtE di Bekasi. Lalu Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. untuk operator proyek di Denpasar.
Dalam pelaksanaannya kedua perusahaan menggandeng perusahaan dalam negeri sebagai partner lokal untuk pengembangan proyek. Seiring dengan penetapan Zeijiang Weiming yang akan mengurus proyek Waste to Energy di Denpasar, salah satu perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia disebut menjadi mitra lokal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun katadata, PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) disebut menjadi salah satu mitra lokal. Daaz memang selama ini belum memiliki basis dalam pengelolaan proyek pengelolaan sampah di dalam negeri.
Namun perusahaan yang mayoritas bisnisnya bergerak di bidang tambang itu disebut memiliki pengalaman mumpuni dalam mengurus perizinan dan bermitra dengan entitas global. “Untuk di Bali ya DAAZ itu,” ujarnya.
Jauh sebelum kabar DAAZ di proyek WtE berhembus, Henan Putihrai Sekuritas telah memproyeksikan kinerja perseroan tetap tumbuh pada 2025. Henan memperkirakan pendapatan DAAZ pada 2025 mencapai sekitar Rp 12,3 triliun, dengan EBITDA Rp 1,2 triliun dan laba bersih Rp 620 miliar.
Berdasarkan proyeksi tersebut, valuasi saham DAAZ dinilai masih relatif murah. Adapun tahun buku 2024, saham DAAZ diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,2 kali EV/EBITDA, 4,5 kali price to earnings (P/E), dan 2,3 kali price to book value (P/BV).
Sementara itu, berdasarkan proyeksi 2025, valuasinya diperkirakan semakin rendah dengan 4,7 kali EV/EBITDA, 4,0 kali P/E, dan 2,1 kali P/BV. Secara valuasi, Henan Putihrai Sekuritas menilai saham DAAZ masih memiliki ruang kenaikan.
Berdasarkan metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan asumsi WACC 10,9%, beta 1,4, market risk premium 6,9%, cost of equity 16,0%, cost of debt 5,5%, serta terminal growth 2,5%, Henan memproyeksikan nilai ekuitas DAAZ sekitar Rp 11,7 triliun. Angka tersebut mengindikasikan harga wajar Rp 5.880 per saham.
Selain itu, Henan juga menggunakan pendekatan EBITDA multiple dengan membandingkan perusahaan sejenis di sektor transportasi, logistik, dan jasa industri berdasarkan klasifikasi Bursa Efek Indonesia. Dengan rata-rata EV/EBITDA industri sekitar 9,6 kali, metode ini menghasilkan estimasi nilai ekuitas sekitar Rp 10,4 triliun.
“Nilai ini mengindikasikan harga wajar sebesar Rp 5,200 per lembar,” tulis Henan dalam risetnya, dikutip Selasa (10/3).
Meski demikian, Henan Putihrai Sekuritas menilai tantangan DAAZ yakni dalam meningkatkan kinerja environmental, social, and governance (ESG). Sebagai perusahaan yang bergerak di perdagangan komoditas, jasa angkutan laut, dan pertambangan, DAAZ dinilai perlu memperkuat upaya pengurangan jejak karbon, pengelolaan dampak sosial, serta tata kelola yang lebih transparan.
Henan memperkirakan DAAZ membutuhkan investasi tambahan untuk teknologi rendah emisi, pengelolaan limbah, hingga program sosial untuk mendukung target net zero emission. Tanpa kerangka ESG yang kuat, perusahaan berpotensi menghadapi risiko kepatuhan, sanksi hukum, hingga tambahan biaya yang dapat mengganggu operasional.
“Selain itu, pesaing dengan praktik ESG yang lebih baik berpotensi menarik lebih banyak pelanggan dan investor, mengancam daya saing serta pangsa pasar DAAZ,” tulis Henan.
Potensi DAAZ di Proyek Pembangkit Sampah
Sebelumnya soal potensi DAAZ menang tender Danantara ini juga sudah diungkap pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Mentor Baik, Thomas William atau Thowilz. Ia menyebut yang akan menang tender proyek itu justru kemungkinan nama yang belum didengar di kalangan emiten pembangkit sampah yaitu Daaz Bara.
Seiring dengan rumor itu, Thomas William juga menyebut akhir-akhir ini volume perdagangan DAAZ di pasar modal juga tinggi. Ia menilai sektor waste to energy (WTE) masih menjadi sentimen yang cukup menarik di pasar.
“Justru yang saya lagi dengar beredar di market rumor, belum keluar ya, nanti kita coba lihat aja bener atau gak tapi sounding-sounding di market udah mulai ke arah sana (DAAZ),” katanya dalam kanal Youtube Ajaib Investasi, dikutip Kamis (26/2).
Katadata sudah berkorespondensi dengan manajemen Daaz Bara untuk mendapatkan konfirmasi soal keterlibatan dalam proyek. Namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan yang dilayangkan perusahaan.
Direktur Investasi Danantara Investment Management Danantara Fadli Rahman sempat mengatakan pelibatan mitra lokal menjadi salah satu syarat penilaian bagi peserta. Mitra lokal menurut dia nantinya akan bertugas untuk membantu pemenang tender dalam menjalin kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah daerah.
Menurut Fadli pada tahap pertama hanya ada 9 perusahaan yang ikut dalam tender dan semuanya merupakan perusahaan asal Cina. Ada perusahaan yang mengajukan proposal untuk proyek di 4 kota namun ada pula perusahaan yang hanya mengajukan proposal untuk satu kota.
Lebih jauh Fadli mengatakan 9 perusahaan yang ikut mengajukan tender tidak semuanya yang mengajak mitra lokal. Terdapat satu peserta yang tidak menggandeng mitra lokal sehingga menjadi nilai pemberat dalam proses tender. Di sisi lain ia menyebut ada empat perusahaan terbuka (Tbk) yang ikut dalam tender tahap pertama.
Fadli menjelaskan aspek yang diperlukan dari mitra lokal berkaitan dengan perizinan dan kemampuan dalam melakukan sosialisasi. Mitra lokal juga dibutuhkan dalam memahami budaya masyarakat setempat.
Meski begitu dia menyatakan perusahaan lokal tidak perlu memiliki pengalaman di bidang pengelolaan sampah. Ia mencontohkan perusahaan yang bergerak di bidang batu bara bisa saja ikut menjadi mitra karena juga mengalami pengalaman dalam instalasi termal.
“Tidak harus perusahaan yang bergerak di WTE karena sama saja,” ujar Fadli lagi.