Sinyal Dividen Jumbo BBRI: Bersiap Gelontorkan Rp 52 T, Per Saham Dapat Rp 206
Prospek pembagian dividen jumbo kembali menjadi sorotan pelaku pasar seiring musim rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) emiten perbankan. Di tengah volatilitas pasar dan tekanan global, investor cenderung memburu saham dengan imbal hasil dividen yang menarik sebagai strategi defensif.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah kinerja dan kebijakan dividen bank berkapitalisasi besar, terutama dari kelompok bank pelat merah yang dikenal konsisten membagikan dividen tinggi. Perbankan pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengusulkan total dividen tahun buku 2025 sekitar Rp 52 triliun atau setara dengan dividend payout ratio sebesar 92%.
Stockbit Sekuritas menilai jika dibandingkan dengan payout ratio tahun buku 2024 yang sebesar 86% dalam RUPST pada 10 April 2026, maka potensi dividen final sekitar Rp 206,4 per saham. Angka tersebut mengestimasi dividend yield final sekitar 6% apabila mengacu pada harga saham BBRI di level Rp 3.450 per lembar pada perdagangan intraday Rabu (25/3). Sebelumnya BBRI telah membagikan dividen interim sebesar Rp 137 per saham pada Januari 2026.
Berdasarkan annual general meeting BBRI, perusahaan berkomitmen untuk tetap menjaga struktur permodalan yang kuat. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) yang berada di atas ketentuan minimum regulasi sebesar 14,70% serta sejalan dengan risk appetite perusahaan di level 17%.
Dalam jangka panjang, BBRI menargetkan untuk mempertahankan CAR di kisaran 20% seiring meningkatkan nilai dividen per saham (DPS).
“Kondisi ini memungkinkan BRI untuk membagikan dividen dengan nilai dividen per saham (DPS) yang secara konsisten memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham,” tulis manajemen BBRI dikutip Kamis (26/3).
Laba Bersih Capai Rp 57,13 T pada 2025
Adapun BRI mencatatkan laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian sebesar Rp 57,13 triliun sepanjang 2025 atau turun 5,26% dibandingkan dengan laba bersih perseroan tahun 2024 sebesar Rp 60,30 triliun.
Penurunan terjadi seiring biaya pencadangan atau impairment yang membengkak 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan di media massa, penyaluran kredit BRI secara konsolidasian mencapai Rp 1.521 triliun, tumbuh 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan bunga naik 4,27% dari Rp 199,26 triliun pada 2024 menjadi Rp 207,78 triliun pada 2025, demikian pula dengan beban bunga dari Rp 56,6 triliun menjadi Rp 57,24 triliun. Pendapatan bunga bersih pun tercatat naik 5,5% menjadi Rp 150,5 triliun.
Margin bunga bersih atau net interest margin BRI pun turun dari 6,75% menjadi 6,54%. Sedangkan di sisi kualitas kredit, NPL gross BRI tercatat sebesar 3,29%, meningkat dari 2,94%, sedangkan NPL net berada di level 0,96% dari sebelumnya 0,75%.
Sementara itu, dana pihak ketiga BRI tercatat sebesar Rp 1.466 triliun dan komposisi CASA mencapai 70,61%. Di sisi lain, fungsi intermediasi BBRI tercatat meningkat dengan loan to deposit ratio (LDR) sebesar 91,96%, dibandingkan tahun sebelumnya di level 89,39%.