Adhi Karya (ADHI) Babak Belur, Rugi Bengkak 6.127% Jadi Rp 5,4 Triliun pada 2025
Emiten konstruksi pelat merah PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mencatatkan rugi bersih jumbo sebesar Rp 5,40 triliun sepanjang 2025. Ruginya kian membengkak hingga 6.127% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan periode 2024 sebesar Rp 86,75 miliar.
Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan ADHI tahun lalu juga anjlok hingga 27,6% YoY menjadi Rp 9,6 triliun dari sebelumnya Rp 13,35 triliun pada 2024. Adapun beban pokok pendapatan perusahaan sebesar Rp 8,61 triliun. Alhasil, laba bruto emiten BUMN itu tercatat sebesar Rp 1,04 triliun sepanjang 2025.
Manajemen ADHI mengatakan, lonjakan rugi perseroan terutama berasal dari pembukuan biaya nonoperasional. Biaya tersebut muncul dari tiga langkah penyehatan yang dijalankan secara simultan.
Pertama, penyesuaian nilai wajar aset seiring program restrukturisasi BUMN karya yang diinisiasi Danantara. Penyesuaian ini berdampak signifikan pada dua anak usaha properti, yakni PT Adhi Persada Properti dan PT Adhi Commuter Properti Tbk.
Kemudian, melambatnya sektor properti dan melemahnya daya beli masyarakat memicu koreksi nilai realisasi bersih (NRV) berdasarkan appraisal KJPP. Koreksi tersebut kemudian dicatat sebagai cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
Kedua, perseroan juga melakukan evaluasi CKPN atas piutang PT Adhi Persada Gedung. Anak usaha yang bergerak di konstruksi gedung ini memiliki portofolio pelanggan yang mayoritas berasal dari sektor properti, yang saat ini tertekan dan sebagian menghadapi pailit.
“Ketiga, tindak lanjut temuan audit yang meminta perseroan melakukan pencadangan yang cukup dan konservatif,” tulis manajemen ADHI dalam keterangannya, Selasa (7/4).
Adapun total aset perusahaan sebesar Rp 28,8 triliun per 31 Desember 2025, dengan liabilitas mencapai Rp 25,5 triliun. Sementara itu, ekuitas tercatat sebesar Rp 3,3 triliun, sejalan dengan pembukuan biaya penyehatan pada periode berjalan. Rasio debt to equity ratio (DER) berbasis interest bearing debt masih berada di bawah batas covenant, yakni sebesar 2,41 kali.
Dari sisi operasional, ADHI membukukan perolehan kontrak baru sebesar Rp 18,1 triliun hingga akhir 2025. Mayoritas berasal dari lini engineering & konstruksi sebesar 91%, disusul manufaktur 5%, property & hospitality 3%, serta investasi & konsesi 1%.
Kontrak baru didominasi proyek gedung sebesar 43%, diikuti infrastruktur sumber daya air 15%, jalan & jembatan 14%, serta sektor lainnya. Dari sisi sumber pendanaan, proyek pemerintah mendominasi dengan porsi 69%, diikuti BUMN 23%, dan sisanya dari swasta.
Sepanjang 2025, total produksi ADHI mencapai Rp 16,6 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 9,7 triliun dibukukan sebagai pendapatan usaha non-joint operation (non-JO), sedangkan sisanya berkontribusi melalui laba JO sebesar Rp 462 miliar.
Kontribusi terbesar pendapatan usaha berasal dari proyek infrastruktur. Di antaranya yaitu proyek Jalan Tol Yogyakarta–Bawen, Jalan Tol Yogyakarta–Solo–Kulon Progo, serta proyek PUSRI III-B.
Prospek 2026
Manajemen Adhi Karya menyatakan, meski mencatatkan penyesuaian nilai, perseroan tetap memiliki fondasi kuat untuk pemulihan kinerja ke depan. Menurut mereka, ADHI masih memiliki piutang dari sejumlah proyek besar, seperti LRT Jabodebek dan proyek Tol Aceh–Sigli. Realisasi piutang tersebut diharapkan dapat mendorong arus kas perseroan secara signifikan.
Selain itu, ADHI memiliki pipeline proyek di berbagai segmen infrastruktur, dengan fokus pada hilirisasi dan green construction. Perseroan terlibat sebagai kontraktor dalam sejumlah proyek hilirisasi, antara lain PUSRI IIIB, pembangunan coal handling ICB milik PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta proyek PLTMG Tobelo.
Di sisi lain, ADHI juga aktif dalam proyek berbasis keberlanjutan, seperti pengembangan fasilitas pengelolaan lingkungan di kawasan industri Medan, yang membuka peluang pada proyek-proyek green infrastructure.
Memasuki 2026, manajemen memproyeksikan pertumbuhan pasar konstruksi diperkirakan akan didorong oleh belanja Kementerian Pekerjaan Umum serta capital expenditure (capex) anak usaha Danantara. Sebagai pemegang saham mayoritas, Danantara terus berkoordinasi dengan perseroan dalam proses penyehatan BUMN karya.
Dengan telah dibukukannya penyesuaian nilai pada 2025, ADHI memasuki 2026 dengan fokus pada peningkatan kualitas bisnis secara menyeluruh, khususnya pada penguatan bisnis inti konstruksi dan inovasi proses bisnis.
“Mengedepankan streamlining bisnis melalui divestasi sesuai dengan tata kelola perusahaan yang baik sejalan dengan program yang dicanangkan oleh Danantara,” ungkap manajemen.