Laba Grup Bakrie–Salim (DEWA) Naik 34% Kuartal I 2026, Apa Aksi Selanjutnya?
Emiten kongsi Grup Bakrie–Salim PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membukukan laba bersih Rp 92,71 miliar sepanjang kuartal pertama 2026. Torehan itu melonjak 34,58% secara tahunan atau year on year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu Rp 68,89 miliar.
Berdasarkan laporan keuangannya, DEWA membukukan pendapatan Rp 1,54 triliun sepanjang Januari–Maret 2026. Angka itu turun tipis 2,21% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp 1,58 triliun. Adapun beban pokok pendapatan DEWA sebesar Rp 1,28 triliun. Alhasil laba bruto perusahaan tercatat Rp 268,76 miliar hingga kuartal pertama 2026.
Secara rinci, pendapatan perusahaan berasal dari PT Kaltim Prima Coal sebesar Rp 1,12 triliun dan PT Arutmin Indonesia sebesar Rp 423,46 miliar hingga kuartal pertama 2026.
Dari sisi neraca, jumlah liabilitas perusahaan tercatat Rp 8,06 triliun. Sedangkan jumlah ekuitas DEWA sebesar Rp 7,89 triliun hingga kuartal pertama 2026. Selain itu jumlah aset lancar DEWA sebesar Rp 2,81 dan jumlah aset tidak lancar Rp 13,14 triliun. Alhasil jumlah aset DEWA tercatat Rp 15,95 triliun.
Bakal Bawa Anak Usaha IPO
Seiring dengan itu perusahaan tengah berencana menyiapkan aksi korporasi baru demi mencari dana jumbo lewat tambang emas dan tembaga di Aceh. Demi meluncurkan aksi itu, Grup Bakrie akan mencari modal jumbo lewat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) anak usahanya, PT Gayo Mineral Resources (GMR).
Direktur dan Corporate Secretary Darma Henwa, Mukson Arif Rosyidi, menyampaikan bahwa dalam rangka pengembangan kegiatan usaha GMR ke depan, DEWA memperkirakan akan membutuhkan investasi besar dan mempertimbangkan kebutuhan pendanaan eksternal.
Meski begitu, ia menyebut saat ini GMR masih berada pada tahap eksplorasi. Pengembangan menuju tahap komersial merupakan rencana strategis jangka panjang DEWA yang masih dalam kajian internal, termasuk terkait besaran investasi maupun sumber pendanaannya.
“Salah satu opsi yang dipertimbangkan dalam sumber pendanaan adalah penawaran umum perdana (IPO) saham, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” tulis Mukson dalam keterbukaan informasi BEI seperti dikutip Senin (20/4).
Mukson juga mengatakan DEWA juga mengkaji sejumlah opsi sumber pendanaan yang tersedia namun tidak terbatas pada IPO. Sampai saat ini, kata Mukson, belum terdapat keputusan maupun langkah konkret terkait pelaksanaan IPO GMR.
Seluruh opsi pendanaan masih dalam tahap kajian internal dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang relevan. Terkait target waktu untuk IPO, DEWA juga masih mengkaji berbagai opsi termasuk kebutuhan pendanaan untuk pengembangan GMR.
Merujuk profil usaha perseroan, Gayo Mineral merupakan anak usaha DEWA sejak 2021 dengan kepemilikan saham sebesar 99,75%. Perusahaan ini berfokus pada produksi emas, tembaga dan mineral lainnya yang berlokasi di Kecamatan Pantan Cuaca, Gayo Lues Aceh. Saat ini, Gayo Mineral tengah mengembangkan proyek tambang tembaga bawah tanah.
Dalam 12 bulan terakhir, kegiatan eksplorasi difokuskan pada dua prospek utama, yakni Tengkereng Atas dan Tengkereng Bawah. Tengkereng Atas menunjukkan indikasi sistem epitermal sulfidasi tinggi melalui zona alterasi yang kuat, sedangkan Tengkereng Bawah mengindikasikan potensi mineralisasi tipe porfiri atau urat berdasarkan kontrol struktural dan keberadaan urat kuarsa-sulfida.