Bisnis Geotermal Emiten Peter Sondakh (ARCI) Target Operasi 2029, Bidik 40 MW
Emiten pertambangan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menargetkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Toka Tindung akan memulai commercial operation date (COD) pada 2029. Proyek itu merupakan bisnis patungan dari PT Ormat Geothermal Indonesia dan ARCI lewat entitas usaha yang diberi nama PT Toka Tindung Geothermal (TTG).
Dalam kerja sama ini, Ormat menguasai 95% saham TTG. Sementara ARCI memiliki 5% saham di perusahaan itu.
PT Toka Tindung Geothermal telah memperoleh izin panas bumi atau geotermal pada Juni 2025. Proyek panas bumi ini juga ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN)
Investor Relation Archi Indonesia, Frederic mengatakan, saat ini perusahaan masih menargetkan untuk pembangunan pembangkit listrik panas bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 40 megawatt (MW).
Adapun untuk progresnya, kini perusahaan masih menargetkan eksplorasi sepanjang 2026 yang diharapkan bisa beroperasi pada 2029. “Kami masih optimistis bahwa target itu akan tercapai untuk kegiatan geothermal,” ucap Frederic dalam paparan publik di Jakarta, Kamis (7/5).
Akan tetapi, Frederic belum menyebut nilai anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk tahun ini. Terkait penghimpunan dana lewat investor baru, ia mengaku perusahaan belum ada diskusi mengenai pencarian shareholder baru. Artinya, kegiatan eksplorasi masih dari kas internal perusahaan.
“Itu tergantung dari target yang akan kami finalkan nanti, beberapa lubang akan kami eksplorasi, jadi tiap lubang akan berbeda-beda tergantung dari kondisi geologinya,” kata Frederic.
Sebelumnya, Corporate Secretary Archi Indonesia, Hidayat Dwiputro Sulaksono, menjelaskan pembentukan perusahaan patungan itu mencakup berbagai aspek. Mulai dari pengeboran eksplorasi, perancangan, pengadaan, pembiayaan, konstruksi, pengujian, komisioning, hingga pengelolaan dan pemeliharaan.
Seluruh kegiatan itu akan dilakukan di dalam area konsesi pertambangan anak usaha Archi, yaitu PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya.
Hidayat mengatakan, langkah ini dapat memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha perseroan dan entitas anak usaha. “Di mana kegiatan usaha atas perusahaan usaha patungan tersebut memiliki prospek untuk dapat melakukan produksi dan penjualan tenaga listrik dengan fasilitas panas bumi,” ujar Hidayat.
Berdasarkan laporan perusahaan, TTG resmi memasuki bisnis pembangkit listrik tenaga panas bumi pada 2024. Perusahaan ini merupakan hasil kerja sama antara ARCI dan PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat), perusahaan energi terbarukan global yang telah membangun sekitar 190 pembangkit dengan total kapasitas mencapai 3.400 MW.
Selain itu TTG telah memperoleh izin panas bumi (IPB) pada 13 Juni 2025, dengan lokasi proyek di Bitung, Sulawesi Utara, tepatnya di Kecamatan Ranowulu, Desa Pinasungkulan. Proyek ini menargetkan kapasitas sebesar 40 MW.
Ke depan, TTG berencana melengkapi proses dengan persetujuan lingkungan dan melanjutkan eksplorasi lanjutan untuk memastikan suhu dan besaran potensi sumber daya panas bumi.