Taktik Triputra Agro (TAPG) Dorong Produksi Petani Sawit Demi Implementasi B50

TAPG
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menyediakan konsultasi dan pendampingan bagi petani kelapa sawit untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pengelolaan kebun secara berkelanjutan.
Penulis: Ira Guslina Sufa
11/5/2026, 12.18 WIB

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) memperkuat strategi peningkatan produktivitas petani sawit di tengah dorongan pemerintah memperluas implementasi biodiesel B50. Langkah tersebut dilakukan melalui peluncuran Hotline PERKASA, layanan konsultasi dan pendampingan bagi petani kelapa sawit untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pengelolaan kebun secara berkelanjutan.

Program itu dijalankan melalui inisiatif sosial perusahaan TAP Untuk Negeri lewat program Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA). Perseroan menilai peningkatan produktivitas petani menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan crude palm oil (CPO) seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku biodiesel nasional.

Melalui Hotline PERKASA, petani dapat mengakses konsultasi mengenai budidaya sawit, pengendalian hama, pemupukan, praktik panen, hingga penerapan agronomi berkelanjutan yang telah diterapkan perusahaan selama lebih dari dua dekade.

Manajemen TAPG menyebut penguatan akses edukasi dan pendampingan menjadi salah satu upaya perusahaan memperkuat ekosistem industri sawit nasional. Menurut perusahaan, petani sawit memiliki peran strategis dalam rantai pasok industri sawit dan ketahanan energi nasional.

“Ketika produktivitas petani meningkat, kesejahteraan keluarga petani turut bertumbuh, sekaligus mendukung ketahanan energi dan ekonomi nasional,” ungkap manajemen TAPG dalam keterangan resmi, dikutip Senin (11/5).

Dorongan peningkatan produktivitas sawit sejalan dengan target pemerintah memperbesar porsi biodiesel dalam bauran energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan pengembangan B50 menjadi salah satu strategi mengurangi impor solar dan memperkuat kemandirian energi.

“Ada tiga hal yang harus kita lakukan dalam menghadapi krisis energi dunia sekarang. Yang pertama kita harus mengoptimalkan lifting kita. Yang kedua adalah mencari diversifikasi seperti B50,” ujar Bahlil.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai industri sawit masih menjadi salah satu penopang ekonomi nasional yang perlu dikelola secara berkelanjutan.

“Indonesia tidak boleh mundur. Sawit adalah kekuatan ekonomi bangsa. Karena itu, tata kelolanya harus kuat dan berkelanjutan,” kata Amran.

TAPG menilai peningkatan implementasi B50 akan meningkatkan kebutuhan pasokan CPO nasional. Karena itu, perusahaan melihat peningkatan kapasitas dan produktivitas petani menjadi salah satu langkah penting menjaga keberlanjutan industri sawit domestik.

Hotline PERKASA dapat diakses petani melalui layanan WhatsApp untuk konsultasi dan pendampingan lapangan. Perseroan berharap layanan tersebut dapat membantu petani menjawab berbagai tantangan operasional secara lebih cepat dan tepat.

Selain sektor agribisnis, TAP Untuk Negeri juga menjalankan sejumlah program sosial di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi, serta pengembangan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.