IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan Saham DEWA, INDY, JPFA hingga PGEO
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan rawan terkoreksi pada perdagangan saham awal pekan ini, Senin (18/5), setelah anjlok 1,98% ke level 6.723 pada perdagangan Rabu (13/5). Meski begitu, analis merekomendasikan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Indika Energy Tbk (INDY) hingga PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai pergerakan IHSG saat ini berada di bagian wave [v] dari wave A dalam struktur wave (2). Istilah wave [v], wave A, dan wave (2) merujuk pada metode analisis teknikal Elliott Wave Theory yang digunakan untuk membaca pola naik-turun pasar.
Dalam skenario terburuk, indeks bisa anjlok ke rentang 6.644 - 6.711. Sedangkan area kenaikan terdekat IHSG berada di 6,.758 - 6.777. “Waspadai area gap yang berada di 6.538 - 6.585,” tulis Herditya dalam risetnya, Senin (18/5).
MNC Sekuritas menetapkan area support IHSG berada di 6.682 dan 6.585. Sementara resistance terdekat berada di 6.917 dan 7.069.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness pada sejumlah saham, seperti PT Indika Energy Tbk (INDY) akumulasi beli di rentang Rp 2.710 - 2.920 dengan target harga di Rp 3.160 - 3.440 dan level stoploss di bawah Rp 2.640.
Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 476 - Rp 482 dengan target harga di Rp 540 - Rp 595, serta stoploss di bawah Rp 458.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), dan PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL).
Phintraco Sekuritas menilai, pergerakan IHSG dipengaruhi sejumlah faktor, baik dari internal maupun eksternal. Dari luar negeri, indeks dibayangi aksi ambil untung investor di Wall Street, Amerika Serikat.
Selain itu, Phintraco menilai konflik antara AS dan Iran masih akan memengaruhi pergerakan bursa global pada pekan ini, di tengah fluktuasi eskalasi ketegangan kedua negara. “Harga minyak mentah menguat di atas 3% akibat belum tercapainya kesepakatan antara AS-Iran (15/5),” tulis analis, dikutip Senin (18/5).
Dengan adanya sentimen itu, pelaku pasar di AS akan mencermati laporan keuangan Nvidia dan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC minutes). Investor mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga setelah data inflasi AS tercatat lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Sementara di Cina, investor menanti sejumlah data ekonomi penting seperti produksi industri dan penjualan ritel. Bank Sentral Tiongkok juga diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman utama tenor satu tahun dan lima tahun masing-masing di level 3% dan 3,5%.
Di Indonesia, menurut Phintraco Sekuritas, investor akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan menahan BI Rate di level 4,75% pada 20 Mei. Selain itu, investor menunggu rilis data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I, dan jumlah uang beredar (M2).
Di sisi lain, FTSE Russell menyatakan masih menunda pemeringkatan ulang indeks secara penuh untuk pasar modal Indonesia, termasuk terkait kenaikan free float dan penambahan saham baru hasil IPO, hingga review September 2026.
“Jika IHSG breakdown level 6.700, indeks berpotensi menguji level 6.500–6.550 pada pekan ini,” demikian hasil analisis Phintraco.