Dana Asing Diramal Kabur Rp 165 Triliun dari Bursa RI, Berapa Fair Value IHSG?

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
18/5/2026, 07.07 WIB

Pasar modal Indonesia dibayangi resiko keluarnya dana asing dengan skenario terburuk mencapai US$ 10 miliar atau sekitar Rp 165 triliun. Hal itu usai pengumuman MSCI yang mendepak 18 saham Indonesia pada rebalancing Mei 2026. 

Berdasarkan riset Sinarmas Sekuritas, hasil peninjauan MSCI pada Mei 2026 menunjukkan sinyal bearish yang cukup kuat bagi pasar saham Indonesia. Hal itu tercermin dari penghapusan enam saham dari MSCI Standard Index tanpa ada penambahan emiten baru.

Selain itu, sebanyak 13 saham juga dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index, sementara hanya satu saham yang masuk, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang justru turun kelas dari MSCI Standard Index.

Menurut analis Sinarmas Sekuritas Kenny Shan dan Isfhan Helmy, penghapusan dari MSCI Standard Index tersebut cukup mencolok karena didominasi kelompok saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

MSCI mulai mendepak saham-saham tersebut karena likuiditas dan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float tidak lagi memadai.

“AMMN mengikuti pola serupa, sementara penurunan peringkat AMRT mencerminkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free-float yang tidak memadai, gagal memenuhi ambang batas ukuran minimum yang disesuaikan dengan FIF pada Indeks Standar,” tulis Kenny Shan dan Isfhan Helmy dalam risetnya, dikutip Jumat (15/5). 

Bobot Pasar Modal RI dalam MSCI dan Proyeksi Juni 

Analis Sinarmas Sekuritas mengatakan bobot Indonesia di indeks emerging market (EM) kini berada di kisaran 0,7%. Mereka memperkirakan proses rebalancing MSCI berpotensi memicu arus keluar pasif sekitar Rp 20 triliun.

Tak hanya itu, peninjauan MSCI kali ini juga mengungkap persoalan struktural di pasar modal Indonesia, yakni hilangnya emiten berkapitalisasi menengah hingga besar yang layak investasi berlangsung lebih cepat dibanding kemampuan pasar menghadirkan penggantinya. 

Bahkan, satu-satunya “penambahan” dalam seluruh kategori MSCI Indonesia pada siklus kali ini justru berasal dari saham yang mengalami penurunan peringkat, yaitu AMRT.

Analis Sinarmas Sekuritas menilai peninjauan aksesibilitas pasar MSCI pada Juni 2026 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi pasar modal Indonesia setelah rebalancing Mei 2026.

Menurut Sinarmas Sekuritas, rebalancing Mei hanya merupakan langkah sementara sebelum MSCI menentukan apakah berbagai reformasi pasar yang dilakukan Indonesia benar-benar dapat diintegrasikan ke dalam metodologi MSCI. Reformasi tersebut mencakup aturan pengungkapan kepemilikan 1%, 39 kategori investor, daftar high shareholding concentration (HSC), hingga batas minimum free float sebesar 15%.

Sinarmas menilai reformasi domestik Indonesia pada dasarnya sudah sejalan dengan tuntutan MSCI. Namun, hingga kini kedua set data tersebut dinilai belum sepenuhnya sinkron. 

Daftar HSC menerapkan batas konsentrasi agregat sebesar 95%, sementara aturan pengungkapan pemegang saham 1% membuka detail kepemilikan pihak terafiliasi yang berpotensi membuat free float efektif turun di bawah 15%, bahkan pada emiten yang sebenarnya masih jauh dari ambang batas HSC.

Sinarmas Sekuritas melihat tinjauan aksesibilitas pasar MSCI Juni 2026 dinilai akan menjadi penentu apakah seluruh reformasi tersebut benar-benar diakui sepenuhnya dalam metodologi MSCI. Sinarmas juga menyoroti MSCI yang secara eksplisit menyatakan hanya akan menggunakan dataset baru Indonesia secara terbatas sambil mengevaluasi cakupan, konsistensi, dan efektivitas data tersebut. 

Artinya, angka free float yang dilaporkan emiten di Bursa Efek Indonesia belum tentu sama dengan free float yang digunakan MSCI dalam perhitungan Foreign Inclusion Factor (FIF).

“Inilah tepatnya mengapa TPIA dan AMMN dihapus meskipun secara teoritis memenuhi baik daftar HSC, kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float, maupun ambang batas likuiditas ATVR,” ucap Sinarmas. 

Potensi Arus Keluar Pasif

Kode EmitenNama EmitenPassive Flow (USD Juta)Passive Flow (Rp Juta)
AMMNPT Amman Mineral Internasional Tbk4187.316.236
DSSAPT Dian Swastatika Sentosa Tbk PT3806.650.318
TPIAPT Chandra Asri Pacific PT Tbk2844.971.765
BRENPT Barito Renewables Energy Tbk2283.993.244
CUANPT Petrindo Jaya Kreasi Tbk1472.578.983
AMRTPT Sumber Alfaria Trijaya Tbk1342.340.848

Sumber: Sinarmas Sekuritas

Total passive flow mencapai sekitar Rp 27,85 triliun.

Implikasi Terhadap Rupiah

Lebih jauh Sinarmas Sekuritas menilai setiap arus keluar modal asing bersih sebesar US$ 1 miliar berpotensi memicu depresiasi rupiah sekitar 1% hingga 1,5%. 

Dengan proyeksi arus keluar pasif sebesar Rp 20 triliun akibat rebalancing MSCI Mei 2026, dampak langsung terhadap nilai tukar diperkirakan berada di kisaran 1,5% hingga 2,5%, sejalan dengan pergerakan rupiah yang sempat menuju area rekor terendah di level Rp 17.500 per dolar AS pada hari pengumuman.

Dalam skenario terburuknya, Sinarmas Sekuritas memperkirakan arus keluar kumulatif dapat mencapai US$ 10 miliar atau sekitar Rp165 triliun. Kondisi tersebut karena penghapusan saham lebih lanjut dari indeks MSCI pada peninjauan berikutnya, hasil market accessibility review Juni 2026, hingga aksi jual investor asing yang berlanjut.

Sinarmas menyebut skenario buruk itu terjadi, rupiah diperkirakan berpotensi melemah ke kisaran Rp 18.750 hingga Rp 19.500 per dolar AS. Risiko itu dinilai semakin besar mengingat rupiah saat ini sudah diperdagangkan di level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara cadangan devisa Indonesia tercatat menurun selama empat bulan berturut-turut dan kapasitas intervensi Bank Indonesia mulai dipertanyakan pasar.

“Asimetri risiko jelas condong ke arah hasil terburuk kecuali jika tinjauan aksesibilitas pasar bulan Juni memberikan sinyal yang konstruktif,” ungkap analis Sinarmas.

Jajaran Konstituen MSCI Pasca Rebalancing

Kode SahamNama EmitenFIF Market Cap (USD Miliar)Bobot Indeks
BBCAPT Bank Central Asia Tbk19,40627,15%
BBRIPT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk12,54317,55%
BMRIPT Bank Mandiri (Persero) Tbk9,04112,65%
TLKMPT Telkom Indonesia (Persero) Tbk8,34511,67%
ASIIPT Astra International Tbk6,7639,46%
BBNIPT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk3,3324,66%
BRPTPT Barito Pacific Tbk3,0524,27%
GOTOPT GoTo Gojek Tokopedia Tbk2,5513,57%
BRMSPT Bumi Resources Minerals Tbk2,4623,44%
UNTRPT United Tractors Tbk2,3163,24%
CPINPT Charoen Pokphand Indonesia Tbk1,6772,35%
Total 71,488100%

Sumber: Sinarmas Sekuritas

Berapa Fair Value IHSG 2026?

Di samping itu, Syailendra Capital memperkirakan pertumbuhan laba per saham (EPS growth) pasar saham Indonesia berada di kisaran 8%–10% pada 2026. Dalam proyeksinya, valuasi pasar diperkirakan tetap berada di level minus 0,5 kali standar deviasi untuk 2026 karena pasar telah mengalami derating dalam dua tahun terakhir.

Dengan asumsi tersebut, Syailendra menilai fair value Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara headline berada di level 8.200 untuk 2026 dan 8.800 pada 2027.

Namun, jika hanya mempertimbangkan faktor fundamental atau adjusted JCI (JCI adj.), level wajar IHSG diperkirakan berada di kisaran 6.500 pada 2026.

“2026F akan menjadi titik momentum penting dimana pasar memiliki ekspektasi atas earnings recovery dibandingkan di tahun 2025,” tulis riset Syailendra Capital.

Dalam risetnya, Syailendra melihat terdapat tiga hal utama yang akan memengaruhi pasar saham pada 2026.

Pertama, 2026 disebut sebagai tahun pemulihan laba (year of earnings recovery), yang didorong kebijakan pemerintah dengan segmen masyarakat menengah bawah sebagai penerima manfaat utama. 

Syailendra overweight pada sektor-sektor yang sensitif terhadap konsumsi masyarakat lapisan bawah. Menurutnya, stabilisasi bantuan fiskal dan subsidi berpotensi menopang daya beli sehingga sektor barang konsumsi pokok dan ritel mass market dinilai berpeluang mengalami pemulihan berbasis volume penjualan.

Kedua, pasar dinilai akan kembali fokus pada saham berkualitas dengan valuasi yang wajar. Syailendra menilai saham value dan dividend berpotensi mengungguli saham growth maupun pergerakan indeks secara keseluruhan. 

Syailendra melihat banyak saham berkualitas tinggi diperdagangkan di valuasi yang sudah tertekan meski pertumbuhan bisnis telah kembali normal. Kombinasi valuasi murah dan dividen dinilai memberikan margin of safety yang tinggi bagi investor jangka panjang.

Ketiga, strategi stock picking dinilai kembali menjadi kunci di tengah perubahan kondisi pasar dan tekanan domestik. Syailendra menilai sejumlah sektor komoditas masih menarik, namun tetap dibayangi isu domestik seperti pemangkasan RKAB, kenaikan royalti, hingga pengendalian pasokan. 

Selain itu, tekanan terhadap rupiah dan transisi ekonomi domestik juga dinilai membuat investor harus lebih adaptif menghadapi volatilitas pasar. 

“Kami meyakini bahwa dalam setiap perubahan, akan selalu ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan, bahkan di dalam sektor yang sama (misalnya komoditas: batu bara, logam, dan logam mulia). Kita harus mengidentifikasi peluang yang ada dan menentukan posisi yang tepat,” tulis Syailendra dalam analisisnya. 

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila