Kapitalisasi Pasar BREN Tergerus Rp 650 T dalam 3 Bulan, Bakal Melapor ke BEI?
Kapitalisasi pasar emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terpangkas sekitar Rp 650 triliun dalam tiga bulan terakhir. Penurunan tajam ini membuat BREN turun kasta dari emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar nomor 1 di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi posisi keempat.
Berdasarkan data BEI per Senin (18/5), kapitalisasi pasar BREN tercatat sebesar Rp 426,77 triliun. Nilai tersebut merosot 152% dari kapitalisasi pasar perusahaan yang pada 10 Februari 2026 yang mencapai Rp 1.076 triliun.
Koreksi ini terjadi setelah saham BREN menjadi sorotan pasar terkait porsi saham publik atau free float yang dinilai belum memenuhi ketentuan. Selain itu, BEI bersama Self Regulatory Organization (SRO) memasukkan BREN ke dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
BREN tercatat memiliki porsi free float sebesar 12,3%. Berdasarkan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor Kep-00045/BEI/03-2026, emiten dengan kapitalisasi pasar minimal Rp5 triliun per Maret 2026 dan memiliki free float 12,5% hingga di bawah 15% wajib memenuhi ketentuan minimum 15% paling lambat pada 31 Maret 2027.
BREN menjadi salah satu dari 10 emiten yang masuk daftar HSC yang diterbitkan BEI. Mengacu pada data bursa per 2 April, saham BREN dikuasai oleh sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 97,31% dari total saham perseroan, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.
Adapun penerima manfaat akhir atau ultimate beneficial owner (UBO) BREN tercatat adalah Prajogo Pangestu.
High shareholding concentration (HSC) merupakan daftar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada sedikit pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data ini dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.
Pada perdagangan Senin (18/5), saham BREN ditutup turun 0,31% ke level Rp3.190 per saham. Secara year to date, harga saham perseroan telah ambles 67,11%.
Tekanan terhadap saham BREN semakin besar setelah MSCI dalam rebalancing pada 12 Mei 2026 mengeluarkan saham ini dari MSCI Global Indexes. Tak hanya itu, FTSE Russell juga mengumumkan akan mengeluarkan saham-saham yang masuk daftar HSC dari indeksnya.
Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, keluarnya saham-saham HSC dari indeks global merupakan konsekuensi yang memang sudah seharusnya diantisipasi pasar.
“Ini sesuatu yang sudah diantisipasi. Sekali lagi, ini adalah konsekuensi jangka pendek yang memang harus diterima, tetapi ini merupakan upaya kita memperbaiki pasar untuk jangka panjang,” kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Senin (18/5).
Menurut dia, kepastian sikap MSCI dan FTSE terhadap saham-saham HSC justru mengurangi ketidakpastian yang selama beberapa pekan terakhir membayangi pelaku pasar.
“Dengan adanya kejelasan ini, satu sumber ketidakpastian di pasar menjadi berkurang. Pelaku pasar sebelumnya menunggu bagaimana respons MSCI dan FTSE terhadap reformasi yang dilakukan bersama oleh OJK dan SRO,” ujarnya.
Jeffrey juga mengungkapkan terdapat sejumlah emiten yang telah mengajukan audiensi dengan BEI terkait status tersebut. Namun, ia enggan mengungkap identitas perusahaan-perusahaan dimaksud.
Respon Manajemen BREN soal HSC
Sebelumnya, manajemen BREN sudah buka suara usai BEI memasukkan sahamnya dalam daftar HSC. Corporate Communication Barito Pacific, Angelin Sumendap mengatakan tidak ada perubahan signifikan di struktur pemegang saham semenjak Barito Renewables IPO di 2023.
“Seluruh informasi ini sudah menjadi data publik dari sebelum adanya informasi ataupun pengumuman masuk indeks,” ungkap Angelin kepada Katadata.co.id, Selasa (21/4).
Angelin menyampaikan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah mendorong pertumbuhan bisnis demi menciptakan nilai tambah bagi seluruh investor dan pemangku kepentingan. BREN juga tengah mempercepat pengembangan kapasitas terpasang energi panas bumi (geothermal) dengan target mencapai sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2026.