IHSG Diramal Longsor ke Area 5.899, Analis Rekomendasikan Saham BBCA, HMSP, TINS
IHSG atau Indeks Harga Saham Gabungan dinilai masih rawan terkoreksi pada perdagangan saham akhir pekan ini, Jumat (22/5).
Pada penutupan pasar Kamis (21/5), IHSG ditutup anjlok 3,54% ke level 6.094 dan masih didominasi oleh tekanan jual. Indeks sudah melorot 29,51% sejak awal tahun atau year to date (ytd).
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat pergerakan IHSG saat ini berada pada bagian wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam. Ia menyebut cermati area koreksi berikutnya akan ke rentang 5.899–5.999.
“Batas support IHSG di 5.996–5.899 dan resistance 6.318–6.459,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (22/5).
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness pada sejumlah saham. Misalnya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akumulasi beli di rentang Rp 5.625–5.775 dengan target harga di Rp 6.425–6.775, sementara level stoploss di bawah Rp 5.575.
Kemudian PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 1.760–Rp 1.785 dengan target harga di Rp 1.865–Rp 1.960, serta stoploss di bawah Rp 1.720.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham di antaranya PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Timah Tbk (TINS), PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Phintraco Sekuritas menilai secara teknikal IHSG telah menutup gap di level 6.092. Apabila tekanan jual berlanjut, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level psikologis 6.000, dengan support kuat berikutnya berada di area 5.882.
Menurut Phintraco Sekuritas, sentimen eksternal masih kurang kondusif akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Apalagi potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat mendorong harga minyak mentah bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan.
Selain itu, investor juga merespons negatif sejumlah kebijakan baru pemerintah karena dinilai berpotensi menekan iklim investasi dalam jangka pendek. Meski demikian, berbagai kebijakan tersebut diperkirakan bertujuan meningkatkan penerimaan negara demi menutup defisit APBN.
“Sementara itu rebalancing FTSE dan MSCI juga berpotensi masih akan menjadi faktor negatif yang membayangi pergerakan indeks di BEI,” tulis analisis Phintraco, Jumat (22/5).
Phintraco Sekuritas menilai saham-saham perbankan masih berpotensi tertekan setelah Fitch Ratings menyatakan peringkat jangka panjang bank-bank Himbara sangat bergantung pada dukungan pemerintah.
Fitch menyebut peringkat bank Himbara berada pada level yang sama dengan peringkat Indonesia di BBB/Negatif. Hal ini mencerminkan potensi terbatasnya kemampuan pemerintah dalam memberikan dukungan kepada sektor perbankan apabila tekanan fiskal meningkat.
Di sisi lain, S&P Global Ratings menilai rencana Indonesia untuk mengendalikan ekspor komoditas secara terpusat berpotensi merugikan kinerja ekspor, sehingga dapat menekan pendapatan negara dan berdampak terhadap neraca pembayaran. Phintraco Sekuritas masih mencermati pergerakan saham-saham tambang BUMN dan mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham tambang non-BUMN.