Posisi Indonesia sebagai Pasar Saham Terbesar ASEAN Kini Direbut Singapura
Singapura kini menyalip Indonesia sebagai pasar saham terbesar di negara-negara ASEAN atau Asia Tenggara. Pergeseran posisi itu seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap reformasi pasar yang dilakukan negeri jiran itu, sekaligus memudarnya optimisme terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia dewasa ini.
Kondisi pasar saham Indonesia bahkan dikatakan sudah mengkhawatirkan lantaran posisi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kini kembali ke era Covid-19 pada 2021 yang bertengger di level 5.000-an.
Per hari ini, Jumat (22/5), IHSG terpantau sudah anjlok 30% sepanjang year to date (ytd) dan merosot 19,95% hanya dalam tempo sebulan terakhir. Padahal, di tahun ini, level IHSG sempat tembus all-time high (ATH) pada 20 Januari lalu ke level 9.134 dengan kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun.
Mengutip Bloomberg, kapitalisasi pasar saham Singapura saat ini mencapai US$ 645 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar Indonesia menyusut lebih dari 30% dari posisi puncak pada Januari menjadi sekitar US$ 618 miliar.
Tak hanya itu, pasar saham Singapura didorong dari stabilitas ekonomi dan politik hingga berbagai inisiatif pemerintah untuk menghidupkan kembali pasar ekuitas yang sebelumnya lesu.
Di sisi lain, sentimen investor terhadap Indonesia melemah dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu disebabkan ketidakpastian potensi reklasifikasi pasar saham yang berpotensi turun dari emerging market (pasar berkembang) ke frontier market (pasar perintis). Belum lagi ditambah revisi prospek peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dan Moody's Ratings.
“Kekayaan merupakan pendorong utama pertumbuhan laba, dan bersama dengan menguatnya dolar Singapura, kami memperkirakan akan ada lebih banyak dana yang mengalir ke pasar,” kata Carmen Lee, kepala riset ekuitas di Oversea-Chinese Banking Corp di Singapura, dikutip Bloomberg, Jumat (22/5).
Indeks Straits Times sempat ditutup di level rekor tertinggi pada Selasa (19/5) lalu seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah volatilitas akibat konflik di Iran. Namun, indeks acuan tersebut terkoreksi 0,5% pada Rabu (20/5) di tengah aksi jual pasar Asia, setelah investor kembali memburu aset aman karena kekhawatiran percepatan inflasi.
Kendati demikian, saham-saham Singapura diperkirakan mencatat kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan Indonesia sepanjang 2026. Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) alias Dana Moneter Internasional, ukuran ekonomi Singapura ditaksir sekitar US$ 660 miliar, masih lebih kecil dibandingkan dengan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar US$ 1,5 triliun.
Manajer portofolio Lion Global Investors Ltd, Kenneth Ong, menilai pasar mulai melihat pasar saham Singapura sebagai penerima manfaat struktural dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. “Dengan harapan aliran dana ke aset aman yang berkelanjutan akan menguntungkan sektor keuangan,” kata ucap Ong.
Bloomberg juga menyebut Singapura terus memperkuat daya tarik pasar sahamnya dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya lewat program bernilai miliaran dolar untuk mendorong dana investasi masuk ke saham-saham lokal.
Langkah itu turut didukung kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral Singapura bulan lalu. Akhirnya, negara tetangga itu menjadi negara pertama di Asia yang merespons risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.
Penguatan dolar Singapura, yang mencatat kinerja lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia Tenggara sejak pecahnya perang Iran melawan AS-Israel, juga menopang reli pasar saham negara tersebut. Di saat yang sama, simpanan asing di perbankan Singapura naik ke level tertinggi sejak 2021, mencapai S$ 659 miliar atau sekitar US$ 514 miliar pada Maret lalu.
Sebaliknya, tekanan di Indonesia semakin terasa setelah aksi jual saham menghapus sekitar US$ 360 miliar kapitalisasi pasar sepanjang tahun ini.
Kondisi itu menjadi tantangan bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga target pertumbuhan ekonomi sekaligus memulihkan kepercayaan investor. Kenaikan biaya energi dinilai dapat menekan konsumsi, sementara pelemahan rupiah meningkatkan biaya bahan baku impor.
Data Bloomberg menunjukkan, investor global telah menarik lebih dari US$ 4 miliar dari pasar saham emerging Asia Tenggara sepanjang tahun ini. Indonesia menyumbang lebih dari separuh arus keluar tersebut.
Tekanan juga datang dari keputusan MSCI yang menghapus sejumlah saham Indonesia, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari indeksnya. Analis memperkirakan langkah itu dapat memicu arus keluar dana hingga US$ 2 miliar pada akhir bulan ini.
Demi meredam tekanan, otoritas di Indonesia telah meluncurkan sejumlah reformasi pasar modal, termasuk menaikkan batas minimum free float menjadi 15% dengan masa transisi hingga tiga tahun bagi sejumlah emiten.
Investor kini menanti hasil tinjauan MSCI bulan depan yang akan menentukan apakah Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar negara berkembang atau berisiko turun menjadi frontier market.
Strategis ekuitas Bloomberg Intelligence, Sufianti, menilai reformasi pasar modal Indonesia bergerak ke arah positif. Namun, kekhawatiran terkait evaluasi MSCI, kondisi fiskal, dan tekanan terhadap rupiah masih membuat investor cenderung berhati-hati.