JP Morgan Ramal Saham Chandra Asri (TPIA) ke Rp 1.090, Bagaimana Hitungannya?

Nur Hana Putri Nabila
22 Mei 2026, 05:35
Apa Itu Investasi Saham
Pexels
Apa Itu Investasi Saham
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

JP Morgan memberikan peringkat underweight untuk saham milik konglomerat Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Lembaga investasi yang berbasih di Amerika Serikat itu pun menetapkan target harga ke Rp 1.090 per saham. 

JP Morgan mengatakan TPIA adalah perusahaan pengolah naphtha dan JP Morgan meyakini bahwa selisih harga PE/PP akan tetap berada pada level siklus penurunan. Hal itu didorong oleh kondisi makroekonomi global yang lemah dan latar belakang industri yang mengalami kelebihan kapasitas. 

Selain itu, JP Morgan menyebut saham TPIA saat ini diperdagangkan di atas 10x P/B, premi yang signifikan dibandingkan dengan pabrik cracker berbasis nafta di Asia regional yang berada dibawah 1x P/B. 

Menurut JP Morgan ada perbedaan signifikan dalam prospek laba dan valuasi. Meski begitu kesenjangan valuasi ini dinilai tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

“Dan mengindikasikan potensi penurunan pada tren harga saham untuk membenarkan penilaian underweight kami,” demikian tertulis dalam analisis JP Morgan, dikutip Kamis (21/5). 

Menurut JP Morgan, target harga saham TPIA per Juni 2026 ditetapkan sebesar Rp 1.090, yang berdasarkan pada asumsi valuasi 2,5 kali price-to-book value (P/B) untuk estimasi 2026. 

Level ini dinilai sejalan dengan valuasi implisit saat Thai Oil mengakuisisi 15% saham TPIA pada akhir 2021, yang juga mencerminkan rasio P/B sekitar 2,5 kali. Meskipun profil return on equity (ROE) perseroan berada di kisaran satu digit rendah hingga menengah.

TPIA sendiri merupakan pabrik naphtha cracker terbesar di Indonesia, dengan pangsa pasokan polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) domestik lebih dari 30%, di tengah ketergantungan impor yang masih mendekati 50%.

Adapun risiko terhadap rekomendasi underweight (UW) dan target harga tersebut antara lain potensi terbentuknya acuan valuasi baru yang lebih tinggi dari perkiraan, terutama jika terjadi penjualan sebagian saham milik Siam Cement Group sebesar 10,57% di TPIA. 

Selain itu, pemulihan signifikan pada selisih harga produk PE/PP hingga melampaui level pertengahan siklus juga dapat menjadi faktor yang mendorong perbaikan kinerja dan valuasi perseroan di atas ekspektasi.

“Ketiga, investor strategis baru yang memungkinkan TPIA memperoleh bahan baku dengan harga lebih rendah,” tulis JP Morgan. 

JP Morgan juga melihat TPIA kembali mencatat kerugian pada kuartal keempat 2025. Pendapatan turun 12% secara kuartalan (q/q), diduga dipicu gangguan operasional (force majeure) Aster Chemicals pada akhir Agustus.

Kerugian EBITDA melebar menjadi US$ 202 juta, dari kisaran rugi US$ 80–100 juta pada kuartal II–III 2025. Pelebaran rugi terutama disebabkan lonjakan biaya umum dan administrasi (G&A) yang mencapai US$ 177 juta, naik lebih dari tiga kali lipat dibanding kuartal sebelumnya.

JP Morgan menilai kenaikan biaya didorong oleh beban jasa profesional, penerapan pajak karbon baru, dan biaya korporasi lainnya. Sejumlah komponen G&A juga merupakan pos baru dalam laporan keuangan audit tahun buku 2025 yang belum tercatat pada laporan 9M25.

Dari sisi neraca, total utang TPIA mencapai US$ 5,5 miliar dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) naik menjadi 1,2x dari 0,8x pada 9M25. Perseroan juga merevisi batas DER dalam perjanjian obligasi menjadi 1,5x dari sebelumnya 1,0x, sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada kuartal IV 2025. Seiring kinerja yang masih tertekan, JP Morgan mempertahankan rekomendasi underweight untuk saham TPIA. 

Apabila menilik perdagangan saham hari ini, Kamis (21/5) sahamnya anjlok hingga auto reject bawah (ARB) sebanyak 14,66% ke Rp 2.270. Dalam sepekan, saham TPIA amblas 47,21%. Kini harga saham raksasa petrokimia sudah menjauh dari level all time high (ATH) yang sempat menembus Rp 10.625 pada 14 Agustus 2024. 

Penurunan itu disebut-sebut tersulut kabar penjaminan saham atau margin call di sejumlah sekuritas. Induk usaha TPIA, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merespons pelemahan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) di Bursa Efek Indonesia. 

Manajemen Barito Pacific mengatakan seluruh fasilitas pembiayaan dan pengaturan jaminan saham yang dilakukan perseroan dikelola secara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur. 

Corporate Communication BRPT menyampaikan, pengaturan jaminan saham tersebut juga telah dilengkapi mitigasi untuk mengantisipasi volatilitas pasar. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...